ITS News

Jumat, 19 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Tandatangani MoU, ITS Kaji tanker untuk BPMIGAS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Produksi migas di Indonesia dari tahun-ketahun terus menurun. Tahun ini saja tercatat hanya sebesar 1 juta barel perhari. Penemuan beberapa titik cadangan di Jawa-Timur, lepas pantai Madura misalnya, diakui Ketua BPMIGAS, Dr Ir Rahmad Sudibyo masih memerlukan upaya tambahan untuk dapat meningkatkan pendapatan Indonesia dari sektor ini.

"Kita butuh teknologi. Dengan begitu kita bisa membangun tanker yang lebih besar, lebih efisien untuk menekan biaya operasional serendah mungkin," papar Rahmad. Dengan begitu, ia menambahkan, Indonesia akan mampu berkompetisi dengan negara lain dalam memproduksi dan mendistribusikan migasnya.

Menanggapi kebutuhannnya akan teknologi, BPMIGAS kemudian menandatangani nota kesepahaman (MoU) Sabtu (27/11) dengan ITS yang dianggap mampu memberikan idenya dibidang kelautan. Bertempat di Gedung Rektorat ITS, Rahmad Sudibyo mengatakan bentuk kerjasama ini akan dilakukan berupa pemberdayaan SDM dan juga penelitian.

Rektor ITS, Prof Dr Ir Moh Nuh DEA dalam sambutannya kemudian mengatakan bahwa kerjasama dengan BPMIGAS merupakan tantangan besar bagi ITS. "Bagaimana tidak. Tadi Bapak Rahmad Sudibyo mengatakan yang padat modal, padat teknologi namun kecil resikonya. Itu persoalan besar," ujarnya yang kali ini mengenakan baju batik. Namun menurut Nuh, hal tersebut dapat diatasi asal menjadikan prinsip kehati-hatian sebagai kata kuncinya.

Penelitian yang akan dilakukan ITS melalui Jurusan Teknik Kelautan, diantaranya adalah mengembangkan tanker yang tepat bagi BPMIGAS. Tanker tersebut akan menjadi alat transportasi bertenaga diesel yang hemat biaya operasi, memiliki kapasitas lebih besar dan menghasilkan emisi yang ramah lingkungan. "Walau kampus sering dibilang telat dalam penelitian, saya yakinkan tidak begitu dengan ITS kok Pak," yakin Nuh yang disambut senyum oleh Rahmad.

Sesuai harapan Rahmad Sudibyo, tanker tersebut juga akan didesain mampu mendistribusikan migas sampai ke daerah pedalaman, seperti di daerah Cina yang memiliki banyak sungai besar. Serta diharapkan tangguh saat berlayar melewati samudera ke wilayah West Cost Amerika.(ftr/bch)

Berita Terkait