ITS News

Sabtu, 26 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

Syariffudin ; Negara subsidi BBM 44 Triliun

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kita semua menyadari bahwa negara sedang terpuruk, baik secara ekonomi maupun mental. Namun, hutang tetap bertambah dari tahun ke tahun. Ditambah lagi dengan macetnya pembangunan.

Oleh karena, banyaknya KKN dan adanya rutinitas yang hanya menghabiskan anggaran negara. Untuk itu, perlu diadakan pencermatan terhadap segala permasalahan yang ada. Salah satu permasalahan yang hangat dan selalu dibicarakan adalah kenaikan BBM. Soalnya, BBM merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat.

Hal inilah, yang dibahas dalam seminar "Kenaikan harga BBM dan Problematikanya". Menurut, Ir Syariffuddin Mahmudsyah MEng, ketua Anergy studies and Assesment Centre (ESAC), timbulnya permasalahan ini sebenarnya disebabkan oleh masyarakat sendiri. Pasalnya, masyarakat lebih menuntut kualitas kehidupan yang lebih baik dari sekedar hidup.

"Radio, televisi, bis kota, pesawat terbang, dan perkembangan teknologi lainnya, membuat masyarakat terjebak dalam dengan berbagai kenyamanan, kenikmatan, serta kemudahan yang kesemuanya memerlukan dan membuang energi belaka,"Jelasnya saat mengawali presentasinya.

Untuk itu, agar kenyamanan yang dimiliki dapat dipertahankan dan ditambah. Perlu dipikirkan cara pengaturan sumber energi yang ada. Soalnya, sumber energi yang tidak terbarukan, seperti batu bara, minyak bumi suatu saat pasti akan habis. "Penghematan hanya akan memperpanjang hidupnya, maka diperlukan teknologi baru dan upaya diversifikasi energi untuk mengatasi krisis energi"katanya

Sedangkan dari segi lain, Indonesia pada tahun 2001 juga terjadi kenaikan BBM. Saat itu subsidi BBM dan listrik disubsidikan untuk dana sektor riil. Pasalnya, dana sektor riil pada tahun anggaran 2001 yang dianggarkan hanya 33,3 triliun saja. "ini dikarenakan subsidi BBM dan listrik yang setara dengan dana sektor riil." Kata dosen yang juga mengajar di jurusan Teknik Elektro ITS ini.

Lantas, bagaimana mengenai jumlah impor minyak indonesia ? kebutuhan BBM pada tahun 2000 sebesar 39,6 juta kiloliter untuk premium, minyak tanah, solar, minyak diesel dan minyak bakar, yang diimpor dari Arab Saudi dengan harga rata-rata USD 28 per barrel (sampai dengan Agustus 2000). Dengan harga pokoknya sesudah diolah menjadi BBM dengan kurs rata-rata Rp8.200,- per dollar amerika mencapai harga Rp 1.600,- per liter, atau total keseluruhnya Rp 63,3 triliun.

Jika dibandingkan dengan negara lain. Harga premium di Indonesia relatif lebih murah. Misalnya, Arab Saudi, harga premium dan solar di sana masing-masing 16,0 sen dollar dan 10,0 sen dollar. Sedang di Indonesia, hanya 12,1 sen dollar untuk premium dan 6,7 sen dollar untuk solar .

Dari sini jelas pemerintah harus memberikan subsidi yang sangat banyak, sekitar 44 triliun." tambahnya. Dan akan lebih bermanfaat bagi rakyat apabila jumlah subsidi yang sangat besar tersebut disalurkan untuk menunjang program kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan.

Apabila subsidi BBM secara umum yang diberikan selama ini tidak tepat sasaran, akan mendorong terjadinya penyalahgunaan BBM, bisa jadi dalam bentuk penyelundupan maupun pengoplosan, serta akan menghambat implementasi program iversifikasi dan intensifikasi energi. Seperti kita ketahui semua bahwa Indonesia memepunyai hukum yang baik, hanya saja pelaksanaannya saja yang masih buruk." jelasnya yang diikuti dengan tawa kecil peserta yang hadir.

Sepertinya seminar semakin lama semakin menarik, karena selain Syariffuddin, hadir juga Paidi Pawirorejo, direktur Lembaga Perlindungan Konsumen Surabaya (LPKS), Dr Ir Rahmat Sudibyo, dirjen Migas RI dan Dr Ir Hardi Prasetyo, staf ahli menteri energi.

Menyimak dari keseluruhan pembahasan yang disampaikan oleh pembicara dalam seminar ini. Tampaknya, berbicara mengenai problematikanya serta diversifikasi menghadapi era pengurangan subsidi BBM. Padahal essensinya tidak dibahas secara konkrit, khususnya langkah nyata dalam menghadapi permasalahan yang ada. "Kok, yang dibahas hanya itu saja,"Celetuk salah satu peserta.(rom/u-d)

Berita Terkait