ITS News

Minggu, 29 Januari 2023
15 Maret 2005, 12:03

Rektor PTN Galang Kekuatan dan Kerja Sama

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

17-04-2002 (11:05:49)

Rektor PTN Galang Kekuatan dan Kerja Sama

Surabaya Post- Surabaya

Dihantam kesulitan dana, sekitar 70 rektor dan pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se Indonesia menggalang kekuatan. Penggalangan kekuatan itu diformalkan lewat pembentukan Majelis Rektor PTN Indonesia.

Dalam acara di ITS ini, Rektor ITS Prof Ir Soegiono ditetapkan menjadi Ketua Majelis Rektor. Soegiono dibantu, Sekretaris Prof Dr Puruhito (Rektor Unair), Bendahara Prof Dr Haris Supratno (Rektor Unesa), dan Wakil Ketua Prof Radi Gani (Rektor Unhas), dan Ir Jusafwar (Direktur Poltek Jakarta).

Melalui organisasi ini, Majelis Rektor bertekad bisa terlibat dalam proses perumusan kebijakan pendidikan tinggi. Salah satu agenda yang mereka perjuangkan adalah mendesak DPR dan pemerintah mengedok RUU Sistem Pendidikan Nasional paling lambat Agustus 2002.

"Minggu depan, kami berencana menemui DPR RI dan Presiden agar RUU Sistem Pendidikan Nasional bisa segera disahkan, termasuk juga Peraturan Pemerintah terkait," kata Ketua Majelis Rektor Indonesia (MRI) Prof Ir Soegiono dalam acara ramah tamah di Mandarin Oriental Majapahid, Selasa (16/4).

Selain itu, MRI juga merekomendasikan penempatan pendidikan nasional sebagai prioritas utama pembangunan. Konsekuensinya, pemerintah harus meningkatkan anggaran pendidikan nasional minimum 20% dari APBN dan APBD.

"Sekalipun pemerintah sedang kesulitan dana, tetapi mereka tidak boleh lepas tangan. Jika memang pendidikan dianggap penting, pemerintah harus bersedia mengalokasikan dana yang memadai. Kalau untuk BLBI dikucurkan Rp 600 triliun, untuk dana pendidikan juga harus ada," kata Prof Haris Supratno.

Haris menjelaskan, pada beberapa propinsi Pemda sudah mengalokasikan dana khusus untuk PTN. Contohnya, Aceh, Riau, dan Bali. Hal itu diharapkan juga terjadi di propinsi lainnya.

Pada bagian lain, Rektor Unair Prof Dr Puruhito mengatakan, MRI bertekad menjaga dan meningkatkan baku mutu pendidikan tinggi. Selain itu, mereka juga bertekad menjaga integritas dan etika akademik.

"Untuk mengembangkan pendidikan memang butuh uang, tetapi harus diingat uang tidak bisa membeli pendidikan. Jadi sekalipun kami sedang mengalami kesulitan dana, tetapi kami tidak akan menyerah terhadap keadaan. Integritas dan etika akademik harus tetap dijaga," katanya.

Perekat Bangsa

Dalam program kerja dua tahun ini, MRI bertekad merealisasi kerja sama sumber daya manusia antar-PTN. Tak hanya itu, RMI juga menggagas program pertukaran mahasiswa, tenaga akademik dan peneliti antar-PTN.

Lewat kerja sama ini, seorang mahasiswa dari Unhas pada jurusan teknik, bisa mengambil beberapa mata kuliah di ITS. Keuntungannya, mahasiswa bisa lebih mengenal keunggulan PTN daerah lain. Di pihak lain, kesenjangan antarperguruan tinggi bisa diperkecil.

Pada titik tertentu, lanjut Radi Gani, melalui pertukaran mahasiswa dan tenaga akademik semua PTN bisa menempatkan diri sebagai milik bangsa, bukan lagi milik masyarakat daerah tertentu.

"Hal ini sangat penting agar PTN bisa menjadi perekat bangsa dan negara," katanya.

Soegiono menambahkan, program kerja sama antar-PTN ini sebenarnya sudah dilakukan, tetapi masih sangat terbatas. Misalnya, Unhas membantu Universitas Cendrawasih. Unair membantu Universitas Negeri Jember untuk Fakultas Kedokteran dan ITS membantu pembentukan fakultas teknik di Jember

"Kerja sama seperti itu harus ditingkatkan. Melalui kerja sama seperti itu efisiensi anggaran juga bisa dilakukan," jelas rektor yang selalu tampil bersahaja ini. (dek)

Berita Terkait