ITS News

Minggu, 26 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Muslimah Ngoprek Linux

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Hari Sabtu biasanya diisi dengan liburan, tapi tidak bagi beberapa mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi ini. Malahan terlihat kesibukan dari beberapa mahasiswi yang mondar- mandir mengangkat komputer dibantu rekan prianya. Sementara di meja lain juga tampak mahasiswi yang berjilbab biru sibuk mendaftar peserta yang sejak pukul 8 mulai berdatangan.

Spanduk besar di dinding yang bertuliskan "Muslimah Ngoprek Linux" menunjukkan acara itu hanya boleh diikuti oleh kaum hawa saja. Kegiatan yang ingin memperkenalkan linux pada mahasiswi muslim ITS itu diselenggarakan oleh studi islam teknik komputer (SITC) bekerjasama dengan kajian islam sistem informasi (KISI). "Biar muslimah nggak gaptek," jelas Ririn, ketua kegiatan parade muslimah Teknik Informatika. Dan pelatihan linux ini sendiri merupakan salah satu kegiatannya

Karena pesertanya para muslimah maka nuansa islami cukup kental. Apalagi ketika salah satu panitia membaca Al-qur’an pada acara pembukaannya. Suasana menjadi hening karena peserta dengan khidmat mendengarkannya. Namun ketika Ika, mahasisiwi Teknik informatika ’00, yang juga sebagai instruktur mulai berbicara tentang operating sistem yang dipelopori oleh mahasiswa Finlandia tersebut, suasana pun berubah layaknya perkumpulan pecinta komputer saja.

"Ada yang sudah pernah menggunakan program linux?," tanya Ika membuka pembicaraan, ditanya begitu hanya 2 peserta saja yang mengangkat tangan. Kedua peserta kemudian menjelaskan kalau linux tidak terlalu susah digunakan karena aplikasinya hampir sama dengan windows. Tetapi buat sebagian besar peserta tampak masih belum terbiasa dengan operating sistem itu.

Agar tidak mengecewakan para peserta yang belum mengenal linux, Ika pun kemudian mulai menjelaskan secara detail tetang operating sistem ini, mulai dari awal pembuatan kernel sampai menjamurnya pemakai linux di dunia. "Linux itu merupakan operating sistem yang open source, sehingga para pengunanya dapat melihat bahkan mengubah sourcenya," terangnya.

Dalam pelatihan ini peserta tidak hanya mendapat teori tentang linux saja melainkan mereka juga berkesempatan untuk praktek penginstalan operating sistem linux tersebut. Untuk itu disediakan 6 komputer. Tentunya hal itu membuat sebagian peserta harus rela bergantian mengoperasikannya. "Sebenarnya kita bisa sih pinjem banyak, tapi kasihan admin (administrator lab,red)-nya, harus ngebersihin banyak komputer yang udah diacak-acak peserta," ujar Ririn.

Walaupun begitu, Wulandari, salah satu peserta, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan ini. Mahasisiwi Teknik Fisika ’03 ini mengatakan bahwa dirinya kini semakin mengenal linux yang sering dibicarakan teman-temannya itu. "Sayang aku nggak dapat hadiahnya", ujarnya sambil tersenyum kecut.(ftr/rom)

Berita Terkait