ITS News

Sabtu, 08 Agustus 2020
15 Maret 2005, 12:03

Lafin, prestasinya berawal dari hobi

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Jangan pernah meremehkan hobi! Kebanyakan orang menganggap hobi hanya sekedar pengisi waktu luang. Namun sebenarnya, jika ditekuni secara serius, hobi dapat membuahkan prestasi. Hal ini terbukti pada Lafin Hari Prayudhi, mahasiswa Teknik Elektro, FTI-ITS, yang menjadi Juara Umum Lomba Perancangan Aplikasi Mikrokontroller (LPAM) ITB-Motorolla 2000-2001.

Ketertarikan Lafin pada bidang elektronika berawal ketika ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler elektronika di SMPN 8 Bandung dan SMUN 24 Bandung. Semenjak itu pula, anak ketiga dari lima bersaudara ini, menyisihkan uang sakunya untuk membeli komponen-komponen elektronika. Selepas SMU, tahun 1991, Lafin pun melanjutkan pendidikannya di Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), Program Studi Elektronika.

Semasa kuliah, pria kelahiran Bandung 29 tahun silam ini bergabung dengan Workshop Elektronika serta Unit Robotika milik POLBAN. Ketika lulus pada tahun 1994, ia direkrut menjadi Asisten Peneliti PAU-ITB Bidang Mikro Elektronika. Dua tahun kemudian, Lafin bergabung dengan PT Telnic Industries, suatu perusahaan di Bandung yang bergerak di bidang telekomunikasi, sebagai Engineer Support.

Tahun 1998, Lafin mengambil program lintas jalur di Teknik Elektro FTI ITS. Menurut Lafin, kualitas bidang studi elektronika di ITS cukup bagus. "Dari segi kurikulum, ITS juga tidak terlalu jauh ketinggalan dari perguruan tinggi di luar negeri. Cuma, kita terbentur masalah biaya. Development tools yang paling murah saja, harganya US$ 200," tuturnya.

Ketika ITB-Motorolla mengadakan LPAM, ia mengirimkan 3 buah judul. Dari 66 peserta dipilih 5 nominasi dan 2 di antaranya adalah milik Lafin. Berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia, akhirnya hanya 1 judul yang dapat diikutkan. Dalam lomba ini Lafin merancang suatu alat yang dapat membantu terapi untuk penderita asma. Alat ini dapat mengukur kapasitas paru-paru penderita asma, sehingga dapat diketahui tingkat keparahan penyakitnya dan memudahkan penentuan terapi yang digunakan. Ide ini ia peroleh ketika hendak menyusun Tugas Akhir-nya yang harus berorientasi pada pengukuran biomedik dan menggunakan Field Programmable Gate Array (FPGA). Sedangkan informasi tentang penyakit asma diperolehnya di internet serta RSUD Dr Soetomo. Ia pun ditetapkan sebagai Juara I untuk Golongan Mahasiswa, sekaligus menjadi Juara Umum untuk antar golongan.

Usai menyelesaikan Tugas Akhir-nya, pria yang bermotto "I do my best" ini berkeinginan untuk meneruskan kariernya di bidang semi konduktor.(kk)

Berita Terkait