ITS News

Rabu, 29 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Doktor sederhana itu telah pergi

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

"Beliau adalah guru dan dosen yang jujur serta pekerja keras dalam bidang keilmuan," kenang Ir. Totok Soehartanto, DEA, kajur Teknik Fisika. Ia begitu terpukul saat mengetahui partner yang juga gurunya di SMA 9 Surabaya, serta dosen di Teknik Fisika ITSnya dulu ini telah berpulang pada pukul 3 pagi kemarin (25/9) di RSI Womokromo.

Diceritakannya, bahwa sejak dua minggu yang lalu Almarhum mengeluh sakit pada tenggorokannya. Walau sudah meminum amoxilin, rasa sakit itu tak juga mereda. " Awalnya beliau ragu untuk memeriksakan diri ke dokter. Beliau trauma atas kematian anak pertamanya dulu yang meninggal akibat malpraktik. Tapi saya paksa beliau untuk ke dokter, "ujarnya. Sempat juga beliau mencoba pengobatan alternatif, namun penyakit yang dideritanaya tetap belum terdeteksi. Dan akhirnya, pada hari jum’at (24/9), Pak Harsoyono meneleponnya untuk mengantar ke dokter. "Saat itu sopir saya yang mengantar. Beliau masuk sendiri ke ruang dokter. Bahkan saat dokter mengatakan ada lendir di paru-parunya yang cukup parah, beliau tetap menyimpannya sendiri dan tidak mengatakan pada orang lain," terangnya.

Sayang, usaha beliau untuk menyimpan sakitnya sendiri tak bertahan lama. Pukul 2 pagi (25/9) beliau mengeluh sesak napas. Beliau langsung dilarikan ke RSI Wonokromo dengan taxi. Berbagai usaha kemudian dilakukan oleh tim dokter. Tabung oxigen yang dipasangkan, ternyata tak cukup membantu. Akhirnya, beliau dinyatakan meninggal pada pukul 3, pagi itu juga.

Perasaan sedih langsung menyelimuti jurusan ini. Bahkan mahsiswa baru yang tengah menjalani kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) sabtu pagi itu, diajak untuk melaksanakan sholat ghoib di Masjid Manarul Ilmi oleh senior-seniornya. Ta’ziyah oleh dosen dan mahasiswa pun terus berdatangan.

Sejumlah kesan atas kesederhanaan beliau sehari-hari terus diceritakan. Tak hanya dari dosen dan karyawan di jurusan ini, mahasiswa yang belajar bersama beliau di kelas turut merasa kehilangan. "Beliau adalah dosen yang sangat sabar. Dalam mengajar, beliau begitu sistematis," ujar mahasiswa Teknik Fisika ’01 yang tak mau disebutkan namanya ini. Bahkan ia juga pernah merasakan betapa dosen mata kuliah fotoniknya ini begitu perhatian. Diceritakannya saat itu, ia bersama rekannya sedang mengerjakan sebuah program. Dana yang telah diajukan belum turun seluruhnya, padahal proyek harus terus berjalan. "Kami lalu mencoba berkonsultasi dengan beliau. Dan tanpa basa-basi, beliau langsung mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri. Jumlahnya pun cukup banyak bagi kami. Beliau begitu care pada mahasiswanya," kagum gadis berjilbab ini.

TRAKTIRAN YANG DIJANJIKANNYA

Berbagai firasat atas kepergian Dr. Ir. Harsoyono, M.Sc, dirasakan oleh beberapa teman dekatnya. Seperti yang dituturkan oleh Kajur Teknik Fisika, Ir. Totok Soehartanto, DEA. "Dua mingguan yang lalu, beliau pergi ke SMA Persit, tempat mengajar beliau dulu. Selain berkunjung dan berbincang-bincang, beliau juga meminta maaf kepada rekan-rekannya disana. Bahkan beliau berjanji akan menraktir mereka. Sayang, beliau tidak bisa memenuhinya lagi," ujarnya. Hari traktiran yang dijanjikan itu adalah minggu kemarin (26/9), tepat satu hari setelah kepergian beliau.

Konsistensi beliau dalam bidang keilmuan, seperti yang dikatakan kajur Teknik Fisika ini, tak perlu diragukan lagi. Beliau adalah satu-satunya dosen di ITS yang mendapat hibah bersaing tahun 2004 ini. Tulisan satu dari 3 doktor di Teknik Fisika ini juga merupakan satu-satunya tulisan dari Indonesia yang menghiasi halaman jurnal internasional ’El-Shefier’. "Keuletan beliau dalam menyelesaikan program doktornya di ITB dalam usianya yang sudah 50 tahun adalah bukti lainnya," jelasnya. (ftr)

Berita Terkait