ITS News

Kamis, 30 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Banjir tidak selalu negatif

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Banjir di Jawa Timur pada lima tahun terakhir ini, terasa semakin parah dan menyebabkan kerugian yang cukup besar. Khususnya banjir yang terjadi di ibu kota Propinsi Jawa Timur, Surabaya. Ditambah lagi masalah konflik kepentingan antar kota dan kabupaten menyebabkan banyak pekerjaan penanggulangan banjir yang tidak dapat ditangani dengan baik. Salah satu cara sosialisasi masalah tersebut adalah dengan pengadaan seminar. Teknik Sipil sebagai salah satu jurusan yang peduli dengan masalah tersebut menyelenggarakan Seminar Nasional Penanganan Masalah Banjir.

Rabu (29/9)lalu, ruang seminar yang terletak di gedung rektorat lt.3 dipadati sekitar 300 orang dari berbagai kalangan. Mereka datang dengan dua tujuan, mengucapkan salam perpisahan kepada Ir Anggrahini MSc atas berakhirnya masa tugasnya sebagai dosen ITS dan mengikuti Seminar Nasional Penanganan Banjir. Seminar ini turut menghadirkan Menteri Kimpraswil, Dr Ir Soenarno, Dipl HE beserta Irjen Kimpraswil, Ir Siswoko, Dipl HE.

Diawal sesi, giliran Siswoko memaparkan makalahnya berjudul "Banjir, Masalah Banjir dan Upaya Mengatasinya". Tinjauan umum mengenai masalah banjir dan cara mengatasinya dibeberkan panjang lebar dengan tujuan agar tidak terjadi salah pengertian yang menurutnya akan menimbulkan dampak negatif terhadap upaya mengatasi masalah ini, antara lain berupa kurangnya kepedulian dan peran masyarakat dalam mengatasi masalah banjir. Sebab sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa upaya mengatasi masalah tersebut merupakan kewenangan dan tanggung jawab pemerintah sepenuhnya.

Indikasi masih terbatasnya pemahaman masyarakat dan aparat menyangkut masalah banjir tercermin dari berbagai pernyataan dan pertanyaan masyarakat yang sumbang yang sering muncul di berbagai media, salah satunya yaitu bukankah masalah banjir itu justru "dipelihara" oleh para tukang insinyur agar pekerjaannya tidak segera habis? Sebuah pertanyaan yang menusuk bagi para insinyur.

Menurut Ketua Komisi III Bidang Pengendalian Banjir dan Perbaikan Sungai, KNIICID, kejadian banjir tidak selalu berakibat buruk terhadap kehidupan manusia, sehingga perlu dibedakan antara banjir yang menimbulkan masalah terhadap kehidupan manusia (masalah banjir) dan banjir yang tidak menimbulkan masalah. "Bagi para pakar lingkungan, banjir itu positif, tidak menimbulkan masalah bahkan bisa bermanfaat bagi kehidupan," ungkapnya.

Membahas penyebab banjir, Siswoko mengelompokkannya menjadi tiga komponen yaitu kondisi alam (statis), peristiwa alam (dinamis) dan kegiatan manusia. Hal terakhir inilah yang menjadi sorotan baginya. Misalnya pengembangan dan penataan ruang di dataran banjir yang kurang bahkan tidak mempertimbangkan adanya ancaman/resiko tergenang banjir. "Bagaimana mau bebas banjir jika daerah banjir dipakai daerah industri?" ujar salah satu anggota HATHI ini.

Untuk mengatasi masalah banjir dan genangan, dia masih mengandalkan pada upaya yang bersifat represif sampai saat ini dengan melaksanakan berbagai kegiatan fisik (struktur), seperti membangun sarana dan prasarana pengendali banjir atau bisa dengan memodifikasi kondisi alamiah sungai sehingga membentuk suatu sistem pengendali banjir. Mencegah meluapnya banjir sampai ketinggian tertentu dengan tanggul merupakan cara konvensional dan tidak banyak yang memakainya."Bahkan di beberapa negara seperti India, caratersebut sudah ditinggalkan," katanya. (d1ti/bch)

Berita Terkait