ITS News

Jumat, 19 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

50 Lebih Mahasiswa, Dosen dan Karyawan ITS Siap Jadi Sukarelawan ke Aceh

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Lebih dari lima puluh orang mahasiswa, dosen dan karyawan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya siap diberangkatkan ke Aceh menjadi sukarelawan untuk melakukan rehabilitasi di bidang pembangunan fisik, terutama pembangunan rumah. Dari jumlah tersebut, 10 orang diantaranya adalah perempuan.

Ir Imam Prajogo, Pembantu Dekan III FTSP ITS, atas nama Pembantu Rektor III, Kamis (27/1) siang memberikan pembekalan awal kepada mereka yang telah mendaftarkan diri sebagai sukarelawan. "Sebelum berangkat ada baiknya kami akan memberiken pembekalan awal dan gambaran lokasi dimana Anda akan ditempatkan. Ini penting sehingga ketika Anda di sana tidak menjadi beban dan hanya menjadi penonton," katanya.

Imam yang minggu lalu berkunjung ke Aceh bersama rektor, mengatakan, persiapan yang paling utama adalah kekuatan fisik didalam menghadapi kondisi alam di sana. Oleh karena itu, ITS sebelum memberangkatkan para sukarelawannya akan membekali terlebih dahulu dengan latihan-latihan kedisiplinan dan fisik. "Selama dua hari mulai besok (Jumat hari ini –Red) kami sudah akan mempersiapkan para sukarelawan yang telah mendaftar untuk ikut latihan fisik di bawah bimbingan anggota TNI, kemudian pada 30 Januari dilakukan vaksinasi, dan siap diberangkatkan pada 1 Februari mendatang," katanya.

Dalam pengiriman sukarelawan tersebut, ITS sedikitnya telah menyiapkan dana sebesar Rp 200 juta untuk keperluan antara lain sepatu, rompi, sarung tangan, masker, topi, jas hujan dan kebutuhan lainnya.

Ditanya tentang berapa lama para sukarelawan itu akan berada di Aceh, Imam Prajogo menjelaskan, mereka akan berada di sana selama enam minggu termasuk perjalanan yang harus ditempuh dengan kapal (KRI). "Perlu ditegaskan, mereka yang ikut menjadi sukarelawan bebas absen di dalam kegiatan di kampus selama waktu itu. Bagi mahasiswa juga tidak diperkenankan untuk mengambil cuti kuliah," katanya.

Imam juga menegaskan kalau kegiatan ke Aceh itu tidak bisa dengan begitu saja dikonversikan dengan kegiatan akademik lainnya seperti kerja praktek. "Mahasiswa yang berangkat ke sana murni menjadi sukarelawan. Jika mereka ingin mengkonversikannya dengan kerja praktek, maka diwajibkan untuk membuat laporan tertulis terhadap apa yang telah mereka lakukan di sana," katanya. (Humas/sep)

Berita Terkait