Published on
By

Mereka adalah Dedy Nur Arifin. Andre Rizqoen Maulana, Reinaldi Jalu 
Nusantara, Qotrun Nada Haroen. Keempatnya berkesempatan mengikuti sebuah
Konferensi Pemuda Nasional di Jogjakarta, dalam rangka peringatan 82
tahun Sumpah Pemuda.

Partisipasi mereka berawal dari niat coba-coba mengikuti Lomba Karya
Tulis bertema Kepemudaan. ”Saya tahunya dari internet. Karena menarik,
saya coba untuk ikut,” terang Andre. Lantas, ia pun mengajak Dedy, Jalu
dan Nada.

Awalnya mereka hanya mengumpulkan abstrak mengenai konsep, strategi, dan
peluang  pemuda dalam menghadaoi globalisasi. ”Ternyata lolos, kemudian
baru mengumpulkan karya tulis lengkapnya,” lanjutnya.

Karya yang mereka angkat adalah Menghidupkan Orientasi Pedesaan, Sebuah
Untuk Memanfaatkan Ekonomi Mikro dalam Ekonomi Makro. Lebih lanjut,
Andre menjelaskan jika konsep ini memanfaatkan koperasi sebagai ekonomi
mikro. Sedangkan pemuda sebagai dari penggerak koperasi ini.

Yang menarik, koperasi yang mereka gagas ini berbasis  web sebagai
teknolosi. ”Alasannya, kami kan mahasiswa Informatika,” canda mahasiswa
angkatan 2009 ini.  Selain itu, web dipilih karena merupakan teknologi
yang sudah dikenal meluas oleh pemuda.

Sementara itu, Nada menjelaskan jika web disini merupakan web
terintegrasi antar satu koperasi dengan yang lainnya. Sehingga,
memungkinkan terjadi hubungan antar koperasi meskipun dalam area yang
berbeda. ”Harapannya, antara koperasi menjual produk daerah mereka di
web tersebut,” lanjut Nada. Dengan sistem tersebut diharapkkan terjadi
saling pemenuhan kebutuhan antar koperasi.

Andre pun kembali menambahkan secara tidak langsung, konsep ini akan
kembali menjalankan aturan pemerintah untuk kebutuhan koperasi.
“Berdasarkan Undang-Undang, seharusnya kebutuhan koperasi A itu dipenuhi
oleh produk dari koperasi lain, sedangkan koperasi A memenuhi kebutuhan
koperasi lain,” lanjut Ketua Departemen Hubungan Luar HMTC itu.

ompetisi final pun digelar Jogjakarta, selama tiga hari mulai Sabtu
(21/10). Bersama tim lain dari Jurusan Teknik Mesin ITS, mereka menjadi
wakil dari ITS dalam kompetisi tersebut. Sayangnya, keberuntungan
menjadi juara, belum berpihak kepada mereka.
Selama tiga hari mereka tidak hanya sekedar berlomba. Pasalnya, mereka
juga menjadi peserta dalam Konferensi Nasional Pemudaan. Dedy
menceritakan dalam konferensi tersebut mereka mendapat banyak
pengetahuan baru, utamanya mengenai masalah mahasiswa dari penjuru
Indonesia. 
Menurut keempatnya, permasalahan yang paling berkesan adalah cerita
mahasiswa Madura mengenai permasalahan wilayahnya. Masyarakat Madura
tergolong masyarakat tertutup yang takut akan industrialisasi. ”Konferensi ini menyadarkan kami bahwa ternyata masih banyak pemuda
peduli terhadap daerahnya,” terang Ketua HMTC ini.

Wakil ITS sebagai Deklarator Kepemudaan

Pada konferensi tersebut, Dedy berkesempatan menjadi salah satu
deklarator Kepemudaan. Ia bersama  empat mahasiswa lain dari UI, UNM,
UNEJ dan Universitas Syah Alam  berkewajiban merumuskan deklarasi
bagi seluruh peserta konferensi. ”Saya sebenarnya korban dari
teman-teman. Tapi ini jauh lebih baik. Setidaknya meski tidak menang
masih menjadi deklarator,” lanjut mahasiswa angkatan 2009 ini.

Tugas Dedy terbilang cukup berat, pasalnya ia harus merangkum berbagai
usulan dari seluruha peseta forum dalam sebuah naskah deklarasi kurang
dari tiga jam. “Totalnya lima halaman, harus dimampatkan dalam tiga
poin,Ӊ۪ ungkapnya. Naskah tersebut kemudian dibacakan pada Simposium

Hasilnya, ada tiga hal yang berhasil dirumuskan. Yaitu deklarasi
kemampuan mahasiswa dalam kemandirian, kemampuan mahasiswa sebagai
pencetak perubahan (creator of change) bukan hanya agen perubahan (agent
of change
) dan mahasiswa sebagai penjaga identitas bangsa.

Sayangnya, sejauh ini belum ada tindakan lebih lanjut dari deklarasi
tersebut. Hanya saja, tanggapan postif telah didapat dari Kementrian
Pemuda dan Olahraga Jawa Tengah, Pusat Studi Kepemudaan Indonesia di
Jawa Tengah, dan dari perwakilan LIPI yang hadir dalam simposium. ”Yang
jelas, tiga hal tersebut menjadi pengikat setiap anggota forum ini,”
lanjutnya.  (ran)

×