Fakultas, Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas, Kategori

Mahasiswa S3 Teknik Elektro ITS Jalani Program Sandwich di TU Graz, Austria

Published on
By

Gambar: Presentasi Research Works pada Communication and Sensing Seminar di TU Graz, menampilkan (kiri ke kanan) Helmut Paulitsch, Aulia Saharani, Muhammad Idris Romadly, Hasna Hanifah, dan Prof. Wolfgang Bösch.

Tiga mahasiswa S3 Teknik Elektro bidang keahlian Telekomunikasi Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FT-EIC) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yaitu Aulia Saharani, Muhammad Idris Romadly, dan Hasna Hanifah, tengah menjalani program sandwich di TU Graz, Austria. Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas riset dan publikasi ilmiah melalui kolaborasi internasional.

Program sandwich yang dijalani merupakan kesempatan bagi mahasiswa doktoral untuk melakukan sebagian risetnya di universitas mitra luar negeri. Aulia Saharani menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada mobilitas akademik, tetapi juga pada peningkatan kualitas publikasi ilmiah.

“Program ini merupakan research visit yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa menyelesaikan sebagian kegiatan riset doktoralnya di universitas mitra luar negeri,” jelas Aulia.

Program ini dilaksanakan melalui skema Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) dari Kemendikti Saintek bagi mahasiswa PMDSU, dengan tujuan meningkatkan daya saing publikasi melalui bimbingan langsung dari profesor bereputasi internasional.

Dalam pelaksanaannya, program sandwich ini diikuti oleh tiga mahasiswa dengan skema pendanaan yang berbeda. Aulia bersama satu mahasiswa lainnya mengikuti program melalui pendanaan PKPI, sementara satu mahasiswa lainnya mendapatkan dukungan dari Ernst Mach Grant – Worldwide.

Ketiga mahasiswa tersebut berada di bawah bimbingan promotor yang sama dan menjalankan riset sesuai fokus disertasi masing-masing, sekaligus aktif berdiskusi dengan tim riset di TU Graz.

Pemilihan TU Graz sebagai tujuan program sandwich didasarkan pada reputasinya yang kuat di bidang telekomunikasi, khususnya radar dan teknologi gelombang milimeter (mmWave). Selain itu, adanya kolaborasi riset yang telah terjalin sebelumnya turut menjadi faktor penting.

Gambar: Kegiatan pengenalan lingkungan kampus dan fasilitas laboratorium di TU Graz.

Selama program berlangsung, mahasiswa menjalani kegiatan riset intensif selama lima bulan. Fokus utama kegiatan meliputi diskusi riset, penyempurnaan artikel publikasi, serta kolaborasi dengan profesor dan tim peneliti di TU Graz.

“Melalui diskusi ini, saya memperoleh banyak masukan teknis dan perspektif baru, terutama dari sisi RF front-end seperti antena dan perangkat keras,” ungkap Aulia.

Dalam program ini, Aulia berfokus pada pengembangan radar otomotif berbasis CC-OFDM MIMO. Sementara itu, dua mahasiswa lainnya mengkaji penerapan teknologi serupa untuk aplikasi ISAR dan monopulse radar.

Ketiga topik tersebut saling berkaitan dalam pengembangan teknologi radar berbasis CC-OFDM MIMO, sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran ide serta penguatan riset secara bersama.

Dari sisi fasilitas, TU Graz dinilai memiliki laboratorium dan peralatan riset yang sangat mendukung, khususnya dalam bidang microwave engineering, antena, dan sistem radar. Beberapa laboratorium dilengkapi dengan perangkat pengukuran frekuensi tinggi yang memungkinkan riset dilakukan secara menyeluruh. Hasna Hanifah menambahkan bahwa lingkungan akademik di TU Graz juga mendorong kolaborasi yang erat antara akademisi dan industri.

“Lingkungan akademik di TU Graz sangat mendukung kolaborasi riset karena adanya keterkaitan yang kuat dengan industri,” jelas Hasna.

Gambar: Momen acara sharing riset beberapa mahasiswa S3 dan postdoc di TU Graz.

Selama menjalani program, mahasiswa juga memperoleh pengalaman berharga dalam berkolaborasi dengan peneliti internasional serta mahasiswa dari berbagai negara. Kegiatan seperti seminar mingguan turut membantu dalam memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan komunikasi ilmiah. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal adaptasi lingkungan.

“Tantangan utama justru lebih terasa pada adaptasi lingkungan, khususnya karena program ini dijalani pada musim dingin,” ungkap Hasna.

Melalui program ini, diharapkan hasil riset yang diperoleh dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan teknologi radar di Indonesia, khususnya dalam peningkatan kualitas riset dan pemrosesan sinyal.

Selain itu, pengalaman internasional yang diperoleh juga diharapkan dapat memperkuat internasionalisasi riset serta mendorong transfer pengetahuan dan metodologi riset ke Indonesia.

×