Penulis:

Aurelius Ratu, Banu Prasetyo, Rumaysha Gikha Nisrina

 

94 halaman, 21 x 29.7 cm

ISBN: xxx-xxx-xxx-xxx-x

 

Sinopsis:

Perkembangan teknologi digital, media sosial, kecerdasan buatan, dan algoritma telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara mendasar. Komunikasi tidak lagi dipahami hanya sebagai proses penyampaian pesan, tetapi sebagai ruang tempat manusia membangun makna, membentuk identitas, mengonstruksi realitas sosial, serta mempertarungkan nilai, ideologi, dan kekuasaan. Berangkat dari perubahan tersebut, buku Pengantar Filsafat Komunikasi hadir sebagai buku pengantar yang mengajak pembaca memahami komunikasi secara lebih kritis, reflektif, dan filosofis.

Buku ini diawali dengan pembahasan mengenai hakikat filsafat komunikasi, yang menjelaskan komunikasi sebagai aktivitas fundamental manusia sekaligus objek refleksi filosofis melalui dimensi ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pembaca diajak memahami bahwa makna tidak melekat secara tetap pada pesan, tetapi terus dinegosiasikan melalui interaksi sosial, bahasa, simbol, dan konteks budaya. Selanjutnya, manusia sebagai homo communicans, yaitu makhluk yang membentuk identitas, pengalaman, dan keberadaannya melalui komunikasi. Perspektif eksistensial, fenomenologis, dramaturgis, hingga teori afeksi digunakan untuk menjelaskan bagaimana identitas personal maupun digital terus diproduksi dan dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai inti pembahasan, buku ini mengembangkan tujuh tradisi utama dalam teori komunikasi sebagaimana dirumuskan Robert T. Craig, yaitu retorika, semiotika, fenomenologi, sibernetika, sosio-psikologis, sosio-kultural, dan tradisi kritis, yang kemudian diperkaya dengan perspektif komunikasi digital kontemporer. Setiap tradisi tidak hanya dijelaskan dari sisi historis dan konseptual, tetapi juga dihubungkan dengan berbagai fenomena aktual seperti media sosial, framing media, algoritma, echo chamber, disinformasi, viralitas, personal branding, hingga kecerdasan buatan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan fenomena multidimensional yang melibatkan bahasa, simbol, emosi, relasi sosial, teknologi, dan struktur kekuasaan secara bersamaan.

Bagian akhir buku menyoroti etika komunikasi sebagai fondasi penting dalam masyarakat digital. Melalui pembahasan mengenai hoaks, propaganda, komunikasi krisis, surveillance capitalism, dan tantangan komunikasi berbasis algoritma, pembaca diajak merefleksikan tanggung jawab moral dalam praktik komunikasi. Buku menegaskan bahwa komunikasi yang efektif tidak cukup hanya mampu memengaruhi orang lain, tetapi juga harus menjunjung nilai kejujuran, keadilan, transparansi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Disusun dengan bahasa yang sistematis, ilustrasi kontekstual, studi kasus, poin-poin kunci, pertanyaan reflektif, glosarium, serta peta konsep tujuh tradisi komunikasi, buku ini dirancang sebagai referensi utama bagi mahasiswa ilmu komunikasi, dosen, peneliti, maupun pembaca umum yang ingin memahami komunikasi tidak sekadar sebagai teknik bertukar pesan, tetapi sebagai fondasi kehidupan manusia, pembentukan realitas sosial, dan praktik etis di era digital. Dengan memadukan pemikiran klasik dari Aristoteles hingga Habermas, Foucault, McLuhan, Stuart Hall, serta teori-teori komunikasi digital mutakhir, buku ini menawarkan landasan filosofis yang komprehensif untuk memahami dinamika komunikasi pada abad ke-21.

 

 

Link:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *