DTI ITS dan UNESA Perkuat Kolaborasi Akademik melalui Kuliah Tamu IoT

Terbit pada

Selasa, 6 Oktober 2026

Sesi foto bersama yang melibatkan pemateri, jajaran dosen, dan seluruh mahasiswa peserta kuliah tamu di auditorium sebagai penutup rangkaian acara

Surabaya, IT Journalistic — Departemen Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyelenggarakan kuliah tamu bertema “Things That Know Things” pada Senin (5/10). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 10.00 WIB tersebut digelar di Auditorium Lantai 2, Gedung Tower 2 ITS dan diikuti oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Internet of Things (IoT).

Rifqi Abdillah, S.Tr.T., M.Kom. sedang memaparkan materi di hadapan para mahasiswa dalam kegiatan kuliah tamu.

Kuliah tamu ini menghadirkan Rifqi Abdillah, S.Tr.T., M.Kom., Dosen Teknik Informatika Universitas Negeri Surabaya (UNESA), sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, Rifqi membahas perkembangan teknologi cerdas, khususnya pemanfaatan sensor dalam sistem Internet of Things serta penerapannya di berbagai bidang.

Salah satu teknologi yang menjadi perhatian dalam pemaparan adalah electronic nose (e-nose) atau hidung elektronik. Teknologi tersebut memanfaatkan sensor untuk mendeteksi dan mengenali berbagai karakteristik gas atau bau. Pemanfaatannya pun tidak terbatas pada satu kebutuhan, tetapi dapat dikembangkan untuk berbagai bidang, mulai dari kesehatan hingga industri pangan.

Mahasiswa juga diperkenalkan pada bagaimana teknologi sensor dapat digunakan untuk mengidentifikasi kondisi suatu objek. Salah satunya adalah mendeteksi kesegaran makanan berdasarkan senyawa atau gas yang dihasilkan. Teknologi tersebut menunjukkan bahwa sebuah sensor dapat memiliki beragam manfaat apabila dikembangkan dan dikombinasikan dengan teknologi lainnya.

Maulana Zaki, mahasiswa Teknologi Informasi kelas IoT, tampak antusias saat mengajukan pertanyaan menggunakan mikrofon pada sesi interaktif kuliah tamu.

Zaki mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai kemampuan sensor dalam mendeteksi bau. “Ternyata ada sensor yang bisa mendeteksi bau. Meskipun cuma satu sensor, ternyata bisa digunakan untuk mendeteksi banyak hal, seperti penyakit atau makanan yang segar dan tidak segar,” ungkapnya.

Menurut Zaki, materi tersebut membuatnya menyadari bahwa teknologi sensor masih memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan. “Dari satu sensor ini jika kita ulik lebih dalam ternyata manfaatnya bisa banyak,” tambahnya.

Selain bidang pangan, penerapan electronic nose juga memiliki potensi dalam bidang kesehatan. Puput, mahasiswa kelas IoT C, menilai bahwa teknologi tersebut dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk penelitian dan perlombaan mahasiswa.

“Electronic nose ini ternyata relevan di berbagai bidang. Contohnya untuk lomba seperti PKM dan Gemastik, dan juga cocok untuk membantu kita di dunia kesehatan. Tadi juga ada alat untuk pendeteksi Covid,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga mendapatkan gambaran mengenai integrasi antara sensor IoT dan kecerdasan buatan (AI). Data yang diperoleh dari sensor dapat diproses dan dianalisis menggunakan AI sehingga sistem tidak hanya mampu menangkap informasi dari lingkungan, tetapi juga membantu mengenali pola dan mengambil keputusan berdasarkan data tersebut.

Rafa, mahasiswa kelas IoT C, mengatakan bahwa salah satu wawasan utama yang diperolehnya adalah bagaimana AI dapat diimplementasikan bersama sensor IoT. “Dalam satu sensor-sensor gas ternyata ada banyak banget jenis dan aplikasinya. Sensor untuk membedakan makanan yang layak dan tidak ternyata bisa digabungkan dengan implementasi AI,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kombinasi IoT dan AI membuka peluang penerapan teknologi yang lebih luas. Menurutnya, materi yang disampaikan memberikan gambaran bahwa sensor tidak hanya berfungsi sebagai perangkat untuk membaca kondisi lingkungan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sistem cerdas ketika dipadukan dengan teknologi pengolahan data.

Antusiasme mahasiswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Ketiga mahasiswa tersebut menilai kuliah tamu berjalan menarik dan memberikan wawasan baru mengenai perkembangan teknologi IoT. Penyampaian materi yang mengangkat contoh penerapan nyata membuat mahasiswa dapat melihat hubungan antara materi perkuliahan dengan berbagai kebutuhan di dunia nyata.

Melalui kuliah tamu “Things That Know Things”, mahasiswa diharapkan dapat memahami bahwa perkembangan IoT tidak hanya berkaitan dengan penggunaan sensor, tetapi juga mencakup pengolahan data dan integrasi dengan teknologi kecerdasan buatan. Wawasan tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan berbagai inovasi berbasis teknologi, baik dalam bidang akademik maupun kebutuhan industri dan masyarakat.

Mendukung Pencapaian SDGs

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan wawasan baru mengenai perkembangan teknologi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI), sekaligus memperoleh kesempatan untuk memperluas perspektif melalui pertukaran pengetahuan antarinstitusi pendidikan. Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan wawasan dan kompetensi mahasiswa dalam memahami serta mengembangkan teknologi inovatif. Selain itu, kolaborasi akademik antara ITS dan UNESA dalam kegiatan ini sejalan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, khususnya melalui penguatan kerja sama antarlembaga pendidikan dalam mendukung pengembangan pengetahuan dan inovasi di bidang teknologi.

Reporter: Mutiara

=================================================================

Informasi disediakan oleh :
Departemen Teknologi Informasi
Website: its.ac.id/it
Instagram: its_teknologi_informasi
Youtube: Teknologi Informasi ITS