
Kampus ITS, ITS News — Paparan suhu Surabaya kian menyengat seiring cuaca panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia. Menyikapi situasi ini, Dosen Program Studi Kedokteran Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dr Edwin Nugroho Njoto MIPH MHM SpPD mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman dehidrasi serta kerusakan kulit melalui serangkaian langkah mitigasi.
Cuaca panas yang melanda Surabaya ini turut dibenarkan oleh laporan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Mulai pertengahan Oktober, suhu udara di wilayah ini tercatat melonjak signifikan hingga menyentuh rentang 36–38 derajat celsius. Angka pantauan tersebut turut menunjukkan tingginya intensitas paparan terik matahari yang harus dihadapi oleh masyarakat Surabaya setiap harinya.
Edwin menjelaskan, paparan suhu panas ekstrem dalam jangka waktu lama dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Mulai dari penguapan cairan tubuh yang berlebihan hingga mengalami dehidrasi atau kehilangan volume air dalam tubuh secara drastis. Kurangnya asupan cairan tersebut dapat mengganggu keseimbangan elektrolit di dalam tubuh dan memicu kelelahan akut, bila terabaikan.
Di samping ancaman dehidrasi, teriknya paparan matahari juga turut meningkatkan risiko kanker kulit. Dokter yang juga berpraktik di RS Bhayangkara Surabaya ini menuturkan bahwa intensitas paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi dapat memicu kerusakan sel hingga risiko kanker kulit. “Ciri-ciri kerusakannya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah muncul bintik-bintik hitam pada kulit yang harus segera diwaspadai,” jelasnya.
Langkah yang Dianjurkan
Untuk mencegah risiko kelelahan akut di tengah terik panas Surabaya, Edwin menganjurkan masyarakat agar tetap menjaga asupan cairan tubuh dengan baik. Pemenuhan kebutuhan air harian menjadi langkah krusial untuk mengganti cairan yang menguap akibat cuaca panas. Selain itu, masyarakat juga diperbolehkan menambah konsumsi minuman isotonik apabila mulai mengalami kekurangan cairan tubuh.
Khusus bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, Edwin sangat menyarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terlebih pada di tengah hari. Adapun jika masyarakat terpaksa beraktivitas di luar rumah, perlindungan fisik ekstra menjadi hal yang wajib dilakukan. “Masyarakat Surabaya bisa menggunakan pelindung tambahan seperti tabir surya, memakai topi, ataupun payung,” anjurnya.
Selain itu, Edwin mengimbau apabila terdapat keluhan kesehatan atau gangguan pada kulit yang dirasa mengganggu, harap segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat. Langkah antisipasi ini dinilai penting agar pasien mendapatkan penanganan medis yang cepat dan tepat. Di lingkungan kampus ITS sendiri, layanan konsultasi dan perawatan kesehatan tersebut dapat diakses langsung melalui fasilitas Medical Center ITS.

Selain itu, Edwin juga mengingatkan agar masyarakat Surabaya untuk tidak sengaja berjemur atau berlama-lama di bawah terik matahari secara langsung. Pasalnya, radiasi sinar UV pada siang hari berada pada indeks tertinggi yang berisiko merusak struktur sel kulit secara permanen. Mengingat bahaya fatal tersebut, masyarakat diimbau untuk selalu memprioritaskan perlindungan kulit saat harus beraktivitas di luar rumah.
Menutup keterangannya, Edwin menekankan bahwa ancaman cuaca panas ekstrem bukan sekadar rasa gerah sesaat, melainkan menyangkut kesehatan jangka panjang. Oleh karena itu, kesadaran individu untuk menjaga hidrasi dan melindungi kulit menjadi pertahanan terbaik di tengah terik kota. Langkah edukasi ini sekaligus mewujudkan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera bagi semua orang. (*)
Reporter: ION12
Redaktur: Syahidan Nur Habibie Ash-Shidieq