Gambar: (Dari Kiri) Alden Bintang Rafazha, Muhammad Irsyad Yunus, dan Nasywa Aulia Rabbani sebagai perwakilan tim StrokeGuard ITS berfoto bersama dewan juri pada ajang Healthtech AI Challenge 2025.
Surabaya, FT-EIC ITS – Inovasi di bidang healthtech kembali ditorehkan oleh tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Melalui aplikasi StrokeGuard, tim ini berhasil meraih Juara II pada ajang Healthtech AI Challenge 2025, sebuah kompetisi yang mempertemukan solusi teknologi kesehatan berbasis kecerdasan buatan dari berbagai institusi. Capaian ini sekaligus menegaskan potensi StrokeGuard sebagai solusi nyata untuk menjawab tantangan besar dalam perawatan pasien pasca-stroke di Indonesia.
StrokeGuard lahir dari pengalaman personal dan kebutuhan lapangan yang nyata. Muhammad Irsyad Yunus, Project Lead StrokeGuard dari Inovasi Digital ITS, mengungkapkan bahwa ide ini berawal dari pengalaman keluarga tim yang pernah mengalami stroke. “Kami merasakan langsung betapa sulitnya memantau pasien pasca-stroke di rumah, mulai dari lupa minum obat, data medis yang tercecer, sampai kebingungan saat dokter menanyakan perkembangan kondisi pasien,” jelas Irsyad. Keresahan tersebut semakin diperkuat melalui wawancara dengan pihak rumah sakit, salah satunya RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan, yang menyebutkan bahwa kasus terbanyak saat ini adalah pasien pasca-stroke yang mengalami kekambuhan dan readmisi.
Berdasarkan permasalahan tersebut, StrokeGuard dikembangkan sebagai sistem monitoring pasca-stroke berbasis aplikasi yang menghubungkan pasien atau caregiver dengan dokter. Secara umum, pasien atau pendamping mengisi data rutin seperti tekanan darah, gejala, kepatuhan minum obat, dan aktivitas harian. Data tersebut kemudian diolah dan dirangkum menjadi insight yang mudah dipantau dokter melalui dashboard. “Dokter bisa langsung melihat tren kondisi pasien dan sistem akan menandai pasien yang perlu diprioritaskan untuk tindak lanjut,” ujar Irsyad.
Gambar: (Dari Kiri) Alden Bintang Rafazha, Delisha Zahra Nabila, Nasywa Aulia Rabbani, Muhammad Irsyad Yunus, dan Rayen Yeriel Mangiwa saat di RSM Ahmad Dahlan Kediri.
Dalam pengembangannya, tim StrokeGuard menerapkan pembagian peran yang jelas dan lintas disiplin. Pada ajang Healthtech AI Challenge 2025, tim yang mewakili kompetisi terdiri dari tiga orang, yaitu Muhammad Irsyad Yunus dan Alden Bintang Rafazha dari Inovasi Digital ITS, serta Nasywa Aulia Rabbani dari Kedokteran ITS. Secara keseluruhan, tim pengembang StrokeGuard berjumlah lima orang. Irsyad berperan sebagai Project Lead dan penanggung jawab strategi produk sekaligus Tech Lead yang mengelola backend dan database. Alden Bintang Rafazha, dari Inovasi Digital ITS, menangani aspek bisnis dan kemitraan, termasuk komunikasi dengan rumah sakit dan strategi implementasi. Dari sisi klinis, Delisha Zahra Nabila dan Nasywa Aulia Rabbani dari Kedokteran ITS berperan dalam riset, penyusunan guideline, identifikasi red flags, serta validasi logika klinis. Sementara itu, Rayen Yeriel Mangiwa dari Teknik Informatika ITS mendukung pengembangan teknis sebagai AI automation dan fullstack developer.
Pengembangan StrokeGuard juga didampingi oleh para advisor dan mentor berpengalaman, antara lain Dr. dr. Ardhi SpN(K), Konsultan Neurovaskular RSUD Dr. Soetomo, dr. Riva Sp.N, dosen FKK ITS yang aktif dalam riset stroke, dr. Haykal, M.Biomed, dosen FKK ITS bidang biomedical engineering, serta Andy Bintoro, S.Kom, BCL, MBA, PhD (Hon), CTO sekaligus Co-Founder Maxy Academy. Keterlibatan para ahli ini menjadi fondasi penting agar solusi yang dikembangkan tetap aman, relevan secara klinis, dan siap diterapkan.
Menariknya, kecerdasan buatan dalam StrokeGuard tidak diposisikan sebagai pengganti dokter. Rayen menjelaskan bahwa AI digunakan sebagai asisten ringkasan untuk membantu pekerjaan repetitif. “AI membantu merangkum pola data, seperti kenaikan rata-rata tekanan darah atau hari ketika pasien lupa minum obat, sehingga dokter tidak perlu membaca data mentah yang panjang,” jelasnya. Dengan pendekatan ini, keputusan klinis tetap berada di tangan tenaga medis.
Keunggulan StrokeGuard terletak pada fokusnya pada fase pasca-stroke, yaitu fase yang paling membutuhkan monitoring berkelanjutan. Sistem ini dirancang berbasis guideline, transparan, dan tidak bersifat black-box. Selain membantu dokumentasi perawatan dan tren faktor risiko, StrokeGuard juga memungkinkan dokter melakukan triase cepat saat menangani banyak pasien. Ke depan, tim juga merencanakan pengembangan integrasi wearable melalui konsep StrokeBand untuk otomatisasi input data.
Gambar: Foto penandatanganan MoU dengan RSM Ahmad Dahlan Kediri.
Dalam proses pengembangan, tim menghadapi berbagai tantangan. Dari sisi teknis, tantangan terbesar adalah menentukan indikator klinis yang relevan namun tetap aman secara positioning, merancang dashboard yang ringkas tetapi informatif, serta menjaga konsistensi input data dari pasien. Dari sisi non-teknis, tantangan muncul dalam membangun kepercayaan dengan rumah sakit dan menyesuaikan sistem dengan alur kerja tenaga medis yang beragam. Meski demikian, Alden menyampaikan bahwa StrokeGuard saat ini telah mengantongi tiga Letter of Intent (LoI) dan menjalin MoU dengan RSM Ahmad Dahlan Kediri sebagai langkah awal implementasi.
Melihat tingginya angka stroke di Indonesia, StrokeGuard dinilai memiliki potensi besar untuk diterapkan secara luas. Sistem ini dirancang agar dapat diimplementasikan secara bertahap, dimulai dari pilot mandiri dengan input manual hingga integrasi lanjutan dengan sistem rumah sakit atau perangkat wearable.
“Kami ingin StrokeGuard bisa mulai dari solusi sederhana, lalu berkembang sesuai kesiapan masing-masing rumah sakit,” ujar Alden.
Harapannya tim StrokeGuard berkomitmen untuk membawa inovasi ini ke tahap yang lebih lanjut. Fokus pengembangan meliputi validasi klinis dan operasional melalui pilot, penguatan fitur otomatisasi, serta penyusunan model bisnis berkelanjutan berbasis rumah sakit dan pasien aktif. “Target kami bukan berhenti di lomba, tapi menjadi solusi nyata di layanan kesehatan,” tegas Irsyad.
Gambar: Tim StrokeGuard ITS meraih Juara I kategori Best Pitching pada ajang CDP Mini Fair 2025.
Tim StrokeGuard juga menyampaikan pesan bagi generasi muda yang ingin berinovasi di bidang healthtech dan AI. Irsyad menekankan bahwa healthtech bukan hanya soal teknologi canggih, tetapi juga tanggung jawab dan dampak nyata.
“Mulailah dari masalah yang jelas, libatkan stakeholder seperti dokter dan pasien, serta jangan takut menerima kritik. Ketahui apa yang ingin dikejar dan gunakan waktu sekarang untuk memperjuangkannya,” tutupnya.
Selain meraih Juara II Healthtech AI Challenge 2025, StrokeGuard juga mencatat berbagai pencapaian lain, seperti Juara 1 Best Pitching saat Demoday ITS, pendanaan ITS Youth Technopreneur 2025, penandatanganan MoU dengan RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kediri, hingga undangan ke ajang Tech in Asia. Deretan capaian ini semakin mengukuhkan StrokeGuard sebagai inovasi healthtech berbasis AI yang patut diperhitungkan.
Surabaya, FT-EIC ITS – Inovasi di bidang healthtech kembali ditorehkan oleh tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Surabaya, FT-EIC ITS – Berangkat dari keresahan sederhana tentang kebingungan memulai bisnis, Tim FounderHub berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan
Surabaya, FT-EIC ITS – Banyak Taman Kanak-Kanak (TK) di Surabaya yang sebenarnya memiliki prestasi, program unggulan, serta fasilitas belajar