Berita Terkini, Fakultas, Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas

HAJI C-AIRRe: Tiga Inovasi AI dan Robotik ITS untuk Transformasi Layanan RSUD Haji

Published on
By

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama RSUD Haji Provinsi Jawa Timur dan Universitas Airlangga (Unair) resmi meluncurkan tiga inovasi berbasis kecerdasan buatan dan robotik dalam ekosistem HAJI C-AIRRe (Collaborative Artificial Intelligence and Robotic Research Innovation Ecosystem in Healthcare). Ketiga inovasi tersebut, yaitu AI MINA, iBrain2U, dan Robot RAISA, dikembangkan untuk mendukung transformasi digital layanan RSUD Haji Provinsi Jawa Timur.

Gambar: Peluncuran AI MINA pada acara HAJI C-AIRRe di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur.

Proses administrasi menjadi salah satu tantangan besar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Di banyak rumah sakit, pengajuan klaim BPJS masih sering mengalami status pending maupun reject akibat ketidaklengkapan dokumen medis atau ketidaksesuaian antara diagnosis klinis dengan hasil pemeriksaan penunjang. Selain memperlambat pencairan klaim, kondisi ini juga meningkatkan beban kerja tenaga kesehatan yang masih harus melakukan proses verifikasi secara manual.

Menjawab tantangan tersebut, RSUD Haji Provinsi Jawa Timur bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Modified Intelligent Non-disputed Assistant (AI MINA), sebuah sistem kecerdasan buatan berbasis Sovereign AI yang dirancang untuk membantu proses validasi dokumen medis secara otomatis dan real-time.

AI MINA mengintegrasikan berbagai teknologi, mulai dari Optical Character Recognition (OCR), Natural Language Understanding (NLU), hingga Large Language Model (LLM). Melalui kombinasi teknologi tersebut, sistem mampu membaca dokumen medis, memahami konteks diagnosis dokter, mencocokkan informasi dengan hasil laboratorium, radiologi, maupun tindakan medis, kemudian memvalidasi kesesuaiannya berdasarkan aturan ICD dan regulasi BPJS.

Kehadiran AI MINA membawa perubahan mendasar dalam proses verifikasi klaim. Jika sebelumnya petugas membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk memeriksa satu dokumen, kini proses tersebut dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari dua menit. Perubahan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit, tetapi juga mengubah proses verifikasi dari yang semula bersifat korektif menjadi preventif. Potensi kesalahan dapat dideteksi sejak awal sebelum dokumen diajukan kepada BPJS.

Selain mempercepat proses verifikasi, AI MINA juga dilengkapi dengan dashboard pemantauan secara real-time. Melalui fitur ini, pimpinan rumah sakit dapat memantau performa klaim, mengidentifikasi potensi kendala lebih dini, serta mengambil keputusan berbasis data untuk meningkatkan efektivitas layanan.

Manfaat AI MINA tidak hanya dirasakan oleh rumah sakit, tetapi juga oleh tenaga kesehatan dan masyarakat. Bagi tenaga kesehatan, sistem ini membantu mengurangi pekerjaan administratif yang berulang, meningkatkan akurasi dokumentasi medis dan pengodean ICD, serta meminimalkan risiko kesalahan dalam pengajuan klaim BPJS. Dengan demikian, dokter maupun tenaga kesehatan dapat lebih fokus memberikan pelayanan kepada pasien.

Sementara itu, masyarakat diharapkan memperoleh manfaat melalui pelayanan yang lebih cepat, akurat, dan efisien. Berkurangnya jumlah klaim yang tertunda maupun ditolak turut mendukung stabilitas keuangan rumah sakit sehingga pelayanan kesehatan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Di sisi lain, keamanan data pasien tetap terjaga karena seluruh proses pengolahan data dilakukan pada server lokal (on-premise) tanpa bergantung pada layanan cloud eksternal.

Meski demikian, implementasi AI MINA masih menghadapi sejumlah tantangan. Integrasi dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), variasi penulisan klinis oleh dokter, perubahan regulasi BPJS yang dinamis, hingga peningkatan literasi digital tenaga kesehatan menjadi beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, implementasi dilakukan secara bertahap melalui penyediaan infrastruktur server lokal, pelatihan model AI menggunakan data rumah sakit, integrasi dengan SIMRS/H3IS, pelaksanaan User Acceptance Test (UAT), serta monitoring dan evaluasi secara berkala. Pelatihan berkelanjutan, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta pembentukan tim super-user di setiap unit juga menjadi bagian penting dalam memastikan sistem dapat dimanfaatkan secara optimal.

Ke depan, kolaborasi antara ITS, RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, dan Universitas Airlangga diharapkan mampu melahirkan inovasi kecerdasan buatan yang semakin adaptif terhadap kebutuhan layanan kesehatan. Sinergi antara pengembangan teknologi, pengalaman klinis, dan dukungan akademik diharapkan menghasilkan solusi yang tidak hanya meningkatkan kualitas verifikasi klaim BPJS, tetapi juga mendorong transformasi digital rumah sakit di Indonesia.

AI MINA pun diharapkan dapat direplikasi di berbagai rumah sakit sebagai model implementasi Sovereign AI di sektor kesehatan. Dengan pemanfaatan teknologi yang aman, efisien, dan berorientasi pada peningkatan mutu layanan, AI MINA berpotensi menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung transformasi pelayanan kesehatan nasional.

Gambar: Peluncuran iBrain2U pada acara HAJI C-AIRRe di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memberikan peluang besar dalam mendukung pelayanan kesehatan modern. Salah satu inovasi yang dikembangkan dalam bidang kesehatan adalah iBrain2U, sebuah sistem cerdas berbasis Deep Learning yang dirancang untuk membantu analisis gangguan otak melalui citra Magnetic Resonance Imaging (MRI).

iBrain2U merupakan sistem analisis citra medis yang dikembangkan untuk membantu proses identifikasi dan klasifikasi berbagai gangguan otak. Sistem ini memanfaatkan teknologi Deep Learning dan pembelajaran mesin untuk mengolah data citra MRI sehingga mampu memberikan informasi pendukung bagi tenaga medis dalam proses penegakan diagnosis.

Pengembangan iBrain2U dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi dalam proses analisis citra MRI otak. Selama ini, pemeriksaan MRI membutuhkan proses interpretasi yang dilakukan secara teliti oleh dokter. Melalui dukungan teknologi AI, iBrain2U dikembangkan sebagai sistem pendukung keputusan klinis (Clinical Decision Support System) yang membantu dokter dalam melakukan analisis, bukan menggantikan peran dokter dalam menentukan diagnosis akhir.

Cara kerja iBrain2U dimulai ketika dokter memasukkan citra MRI pasien ke dalam sistem. Selanjutnya, sistem akan melakukan proses analisis menggunakan model AI untuk memprediksi jenis gangguan otak yang terdapat pada citra tersebut. Hasil analisis yang diberikan berupa klasifikasi penyakit beserta tingkat kemungkinan (probability) dari hasil prediksi AI.

Salah satu kemampuan utama iBrain2U adalah melakukan klasifikasi terhadap beberapa jenis penyakit otak. Berdasarkan pengembangannya, sistem ini telah dikembangkan untuk membantu mengidentifikasi empat jenis gangguan otak, yaitu stroke, tumor otak, epilepsi, dan Alzheimer. Selain melakukan klasifikasi, sistem juga dikembangkan agar dapat menunjukkan lokasi area penyakit pada potongan citra MRI yang dianalisis.

Selain kemampuan analisis berbasis AI, iBrain2U juga memiliki fitur incremental learning. Fitur ini memungkinkan sistem untuk terus belajar dari data yang diproses sehingga kemampuan analisisnya dapat berkembang seiring bertambahnya data yang digunakan. Dengan kemampuan tersebut, sistem dirancang menjadi lebih adaptif terhadap kebutuhan pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi.

Pengembangan iBrain2U dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Dr. I Ketut Eddy Purnama, S.T., M.T. Dalam proses pengembangannya, RSUD Haji Provinsi Jawa Timur dilibatkan sebagai mitra uji coba dan pengembangan untuk menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan pelayanan rumah sakit.

iBrain2U juga menjadi salah satu inovasi yang masuk dalam ekosistem Haji C-AIRRe (Collaborative Artificial Intelligence & Robotic Research Innovation Ecosystem in Healthcare). Ekosistem ini merupakan kolaborasi antara RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, ITS, dan Universitas Airlangga (UNAIR) dalam mengembangkan berbagai inovasi berbasis AI dan robotika untuk mendukung transformasi digital layanan kesehatan. Dalam ekosistem tersebut, iBrain2U berperan sebagai asisten radiologi untuk membantu interpretasi pencitraan otak.

Melalui implementasi iBrain2U, teknologi AI diharapkan dapat menjadi pendukung bagi tenaga medis dalam melakukan analisis citra medis secara lebih efektif. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan rumah sakit menjadi langkah penting agar inovasi berbasis riset dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat bagi pelayanan kesehatan.

Ke depan, pengembangan iBrain2U diarahkan untuk memperkuat fitur sistem, memperluas pengujian, serta meningkatkan penerapan teknologi AI di lingkungan rumah sakit. Dengan adanya sinergi antara ITS, RSUD Haji, dan UNAIR, iBrain2U menjadi salah satu contoh pemanfaatan AI dalam mendukung transformasi digital kesehatan di Indonesia.

Gambar: Demonstrasi Robot RAISA pada peluncuran HAJI C-AIRRe di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur.

Transformasi digital di sektor kesehatan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan pelayanan yang cepat, mudah, dan efisien. Menjawab tantangan tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama RSUD Haji Provinsi Jawa Timur dan Universitas Airlangga (Unair) menghadirkan Robot Asisten RAISA sebagai bagian dari kolaborasi HAJI C-AIRRe (Collaborative Artificial Intelligence and Robotic Ecosystem in Healthcare). Robot ini dirancang untuk mendukung pelayanan rumah sakit melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Robot RAISA merupakan generasi terbaru dari inovasi robot yang sebelumnya dikembangkan ITS dan Unair untuk membantu tenaga kesehatan pada masa pandemi Covid-19. Jika sebelumnya RAISA berperan sebagai robot pendukung pelayanan pasien di ruang isolasi, kini kemampuannya telah berkembang menjadi robot layanan (service robot) yang mampu berinteraksi secara langsung dengan pasien maupun pengunjung rumah sakit.

Salah satu keunggulan utama Robot RAISA adalah kemampuan berinteraksi secara cerdas melalui teknologi AI Chatbot. Robot ini mampu memahami pertanyaan pengguna dan memberikan jawaban secara natural layaknya percakapan antarmanusia. Pada tahap implementasi awal, informasi yang disediakan berfokus pada layanan RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, seperti informasi poliklinik, alur pelayanan, fasilitas rumah sakit, hingga berbagai layanan yang tersedia bagi pasien dan pengunjung.

Pengembangan Robot RAISA tidak berhenti pada layanan informasi. Ke depan, sistem ini direncanakan memiliki fitur pembayaran layanan rumah sakit secara nontunai (cashless). Melalui fitur tersebut, pasien dapat melakukan transaksi pembayaran langsung melalui Robot RAISA, sementara proses validasi tetap dilakukan oleh tim keuangan RSUD Haji. Integrasi ini diharapkan mampu memberikan pengalaman pelayanan yang lebih praktis sekaligus mendukung digitalisasi proses administrasi rumah sakit.

Selain menjadi pusat informasi, Robot RAISA juga memiliki kemampuan navigasi mandiri. Berbekal teknologi Simultaneous Localization and Mapping (SLAM), robot dapat mengenali lingkungan sekitarnya, memetakan area rumah sakit, serta mengantarkan pasien atau pengunjung menuju ruangan tujuan secara otomatis. Kemampuan ini diharapkan memudahkan pengunjung yang belum familiar dengan tata letak rumah sakit sekaligus mengurangi beban petugas informasi.

Dalam implementasinya, Robot RAISA juga terintegrasi dengan chatbot berbasis AI untuk menjawab berbagai pertanyaan pengguna. Di sisi lain, RSUD Haji telah mengembangkan chatbot internal bernama Minji melalui Tim Teknologi Informasi rumah sakit. Secara fungsional, chatbot pada Robot RAISA dan Minji memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan layanan informasi secara cepat dan akurat kepada pengguna. Perbedaannya terletak pada pengembangnya, di mana chatbot Robot RAISA dikembangkan melalui kolaborasi ITS, sedangkan Minji merupakan inovasi yang dibangun secara mandiri oleh Tim IT RSUD Haji.

Kolaborasi antara ITS, RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, dan Universitas Airlangga menjadi contoh sinergi antara perguruan tinggi dan rumah sakit dalam menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Melalui pengembangan Robot RAISA, ketiga institusi tidak hanya menghadirkan teknologi berbasis kecerdasan buatan, tetapi juga membangun ekosistem pelayanan kesehatan yang lebih modern, efisien, dan berorientasi pada pengalaman pasien.

Ke depan, Robot RAISA diharapkan terus dikembangkan dengan berbagai fitur baru yang mendukung pelayanan rumah sakit secara menyeluruh. Dengan kemampuan komunikasi cerdas, navigasi otomatis, hingga potensi integrasi layanan administrasi digital, RAISA diharapkan menjadi salah satu pionir implementasi robot layanan berbasis AI di rumah sakit Indonesia sekaligus memperkuat transformasi digital sektor kesehatan nasional.

×