FTIRS ITS dan Pertamina Patra Niaga Perkuat Sinergi Akademik Dan Industri Energi

Terbit pada

Senin, 21 September 2026

FTIRS ITS News — Memperkuat keterhubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri energi, Fakultas Teknologi Industri, Rekayasa dan Sistem (FTIRS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Kuliah Tamu dan Diskusi Inisiasi Kerja Sama Akademik FTIRS ITS dengan PT Pertamina Patra Niaga, Selasa (15/9). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung Research Center ITS lantai 11 tersebut diikuti sekitar 180 mahasiswa semester 5 dan 7 dari berbagai departemen di lingkungan FTIRS ITS.

Kegiatan yang diselenggarakan Dekanat FTIRS ITS dengan dukungan BEM Fakultas FTIRS ITS ini terbagi dalam dua agenda. Sesi pertama berupa kuliah tamu dari PT Pertamina Patra Niaga pada pukul 13.00–15.00 WIB, kemudian dilanjutkan diskusi inisiasi kerja sama akademik bersama Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITS serta jajaran FTIRS dan PT Pertamina Patra Niaga.

Kepala Departemen Teknik Kimia FTIRS ITS Prof. Dr. Lailatul Qadariyah ST MT yang mewakili Dekan FTIRS ITS menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Direktur Operasi PT Pertamina Patra Niaga Ir Didik Bahagia ST MBA yang juga merupakan alumni Teknik Kimia ITS.

“Selamat datang kembali di Kampus ITS tercinta. Bagi mahasiswa semester 5 dan 7 dari berbagai departemen di FTIRS, kuliah tamu ini merupakan kesempatan untuk mendapatkan wawasan langsung dari dunia industri, khususnya mengenai pengelolaan energi, operasi kilang, serta peluang dan tantangan karier bagi seorang engineer,” ujarnya.

Mengenal Industri Energi dari Perspektif Praktisi

Hadir sebagai narasumber, Ir Didik Bahagia ST MBA membagikan pengalaman dan perspektifnya mengenai industri energi, khususnya operasional kilang PT Pertamina Patra Niaga. Materi yang disampaikan juga memperkenalkan perjalanan karier seorang engineer serta kompetensi yang dibutuhkan untuk berkembang di lingkungan industri.

Didik yang merupakan lulusan Teknik Kimia ITS memaparkan pentingnya kemampuan problem solving, engineering mindset, resilience, dan strong leadership bagi calon engineer. Kompetensi tersebut antara lain mencakup kemampuan menganalisis data, melakukan perhitungan, mencari akar permasalahan, merumuskan solusi, memahami standar nasional maupun internasional, bekerja dalam tekanan, mengelola berbagai tanggung jawab, hingga membangun kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.

Selain kompetensi personal dan profesional, mahasiswa diperkenalkan dengan sejumlah jalur karier yang dapat ditempuh lulusan Teknik Kimia dalam bisnis refinery, mulai dari Process Engineer, Supply Chain Analyst, dan Project Engineer, yang selanjutnya dapat berkembang menuju jalur spesialis maupun manajerial.

Materi juga menyoroti perkembangan energi berkelanjutan, salah satunya pemanfaatan Used Cooking Oil (UCO) sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan biogasoline. Dalam paparannya, Pertamina Patra Niaga menjelaskan pengembangan ekosistem UCO melalui proses co-processing, biorefinery, hingga pengembangan biogasoline.

Paparan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi industri energi tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan energi, tetapi juga menyangkut inovasi teknologi, efisiensi proses, pengurangan emisi, serta pengembangan sumber energi yang lebih berkelanjutan.

Mahasiswa Antusias Bahas Karier dan Keselamatan Industri

Suasana kuliah tamu semakin interaktif ketika mahasiswa diberikan kesempatan berdiskusi secara langsung. Sejumlah pertanyaan mengemuka, mulai dari proses dan persiapan memasuki dunia kerja di PT Pertamina, kompetensi hard skill dan soft skill yang perlu dimiliki engineer, hingga aspek keselamatan dalam operasi kilang.

Diskusi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh gambaran yang lebih dekat mengenai tuntutan profesional di industri. Pengalaman praktis yang dibagikan narasumber sekaligus memberikan perspektif bahwa kompetensi seorang engineer tidak berhenti pada penguasaan teori dan perhitungan teknis, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengambil keputusan, bekerja dalam tim, berkomunikasi, dan menjaga keselamatan dalam setiap proses kerja.

Moderator kegiatan, Azzah Dyah Pramata ST MT MEng PhD, Kepala Program Studi Pascasarjana Departemen Teknik Material dan Metalurgi FTIRS ITS, turut mengarahkan jalannya diskusi sekaligus memperkenalkan profil dan pengalaman profesional narasumber kepada mahasiswa.

Setelah sesi kuliah tamu berakhir, kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata dari FTIRS ITS oleh Dekan FTIRS ITS Prof. Ir. Juwari ST MEng PhD kepada Ir Didik Bahagia ST MBA, dilanjutkan dengan sesi foto bersama mahasiswa, narasumber, panitia, dan BEM FTIRS ITS.

Dari Kuliah Tamu Menuju Kolaborasi Akademik

Tidak berhenti pada kegiatan berbagi wawasan, pertemuan kemudian berlanjut pada Diskusi Inisiasi Kerja Sama Akademik FTIRS ITS dengan PT Pertamina Patra Niaga. Forum tersebut dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITS Prof. Nurul Widiastuti SSi MSi PhD, Dekan FTIRS ITS Prof. Ir. Juwari ST MEng PhD, para kepala departemen di lingkungan FTIRS, Kaprodi Pascasarjana Departemen Teknik Material dan Metalurgi, jajaran FTIRS ITS, serta perwakilan PT Pertamina Patra Niaga.

Berdasarkan notulen pertemuan, pembahasan diarahkan pada sejumlah peluang kolaborasi, antara lain pengembangan pendidikan S2/S3 by research, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), Program Profesi Insinyur (PPI), program micro-credentials, magang dosen dan mahasiswa di kilang, serta penguatan pembelajaran berbasis studi kasus industri.

Salah satu gagasan yang dibahas adalah pelaksanaan riset yang dapat dilakukan langsung pada permasalahan nyata di lingkungan kerja atau kilang Pertamina dengan melibatkan pembimbing dari unsur akademisi dan praktisi industri. Skema tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan pengembangan kompetensi dengan penyelesaian persoalan riil industri.

Kerja sama juga diarahkan pada peningkatan pengalaman industri bagi sivitas akademika. Dalam notulen disebutkan adanya peluang magang dosen di kilang serta program bagi mahasiswa semester 5, khususnya untuk memperoleh pengalaman dalam bidang process safety dan HAZOP/PHA dengan pendampingan praktisi kilang.

Pada bidang riset dan inovasi, ITS dan Pertamina Patra Niaga membahas optimalisasi kerja sama riset melalui ITS Tekno. Beberapa topik yang mendapat perhatian antara lain pengembangan Corrosion Under Insulation (CUI) Online Monitoring dan sistem deteksi kebocoran gas berbasis kecerdasan artifisial.

Sebagai langkah lanjutan, telah disusun sejumlah rencana kerja, termasuk identifikasi permasalahan nyata di kilang sebagai bahan usulan riset, pengajuan proposal magang dosen dan mahasiswa, uji coba teknologi CUI online monitoring, serta optimalisasi kerja sama riset ITS Tekno. Beberapa agenda tersebut memiliki target tindak lanjut mulai Oktober hingga Desember 2026.

Dekan FTIRS ITS Prof. Ir. Juwari ST MEng PhD menyampaikan bahwa pertemuan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih erat antara dunia akademik dan industri.

Melalui sinergi tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan akses terhadap wawasan dan pengalaman industri, tetapi juga berpeluang terlibat dalam proses pembelajaran, magang, penelitian, dan pengembangan solusi teknologi yang berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan.

Mendorong Pendidikan dan Transisi Energi Berkelanjutan

Kolaborasi FTIRS ITS dan PT Pertamina Patra Niaga memiliki keterkaitan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs). Secara langsung, kegiatan ini mendukung SDG 4 – Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan pengalaman dan pengetahuan praktis dari industri. Hal ini sejalan dengan pola pemberitaan ITS News yang mengaitkan kegiatan pendidikan dan kolaborasi industri dengan kontribusinya terhadap SDGs.

Pengembangan wawasan mengenai teknologi energi, efisiensi proses, energi terbarukan, dan SAF juga berkaitan dengan SDG 7 – Affordable and Clean Energy (Energi Bersih dan Terjangkau) serta SDG 13 – Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim). Sementara pengembangan teknologi, riset terapan, dan hilirisasi inovasi berkaitan dengan SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi dan Infrastruktur).

Aspek pengembangan kompetensi dan kesiapan mahasiswa memasuki dunia kerja turut beririsan dengan SDG 8 – Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Adapun inisiasi kerja sama antara perguruan tinggi dan industri secara langsung merefleksikan SDG 17 – Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang menekankan pentingnya kemitraan multipihak dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Melalui pertemuan antara mahasiswa, akademisi, dan praktisi industri tersebut, FTIRS ITS terus membuka ruang pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus memperluas peluang kolaborasi dalam pendidikan, riset, pengembangan teknologi, dan penguatan sumber daya manusia bidang energi.

Reporter: nN
Redaktur: Muchus

 

×