Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem

Dua Profesor FTIRS ITS Dorong Kemandirian Energi melalui Inovasi Energi Terbarukan

Published on
By

FT-IRS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggelar Upacara Pengukuhan Profesor yang disiarkan secara langsung melalui ITS TV pada Kamis (16/7/2026) di Auditorium Research Center lantai 11, Kampus ITS Surabaya. Pada kesempatan tersebut, dua dosen Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) ITS resmi dikukuhkan sebagai profesor, yakni Prof. Dr. Ir. Bambang Arip Dwiyantoro, S.T., M.Eng. dari Departemen Teknik Mesin dalam bidang kepakaran Energi Terbarukan, serta Prof. Dr. Ir. Imam Abadi, S.T., M.T. dari Departemen Teknik Fisika dalam bidang kepakaran Pengukuran dan Kendali Cerdas. Melalui orasi ilmiah mereka, keduanya menegaskan pentingnya inovasi teknologi energi terbarukan sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi nasional.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Optimalisasi Teknologi Panel Surya dan Solar Chimney untuk Mendukung Kemandirian Energi”, Prof. Dr. Ir. Bambang Arip Dwiyantoro, S.T., M.Eng. menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar karena berada di wilayah tropis. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari peningkatan suhu panel surya, perubahan posisi matahari, hingga kebutuhan sistem pembangkit yang andal di berbagai kondisi geografis.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Bambang mengembangkan berbagai inovasi dalam teknologi energi surya. Salah satunya adalah sistem pendinginan pasif panel surya menggunakan serat alami dari limbah biomassa, seperti serat kelapa sawit dan ampas tebu. Inovasi tersebut mampu meningkatkan daya panel surya hingga 7,29 persen, sekaligus mendukung penerapan konsep green technology dan circular economy melalui pemanfaatan limbah sebagai material bernilai tambah.

Selain itu, ia mengembangkan solar tracking system pada pembangkit listrik tenaga surya terapung agar panel selalu menghadap arah datangnya sinar matahari. Hasil simulasi pada PLTS Terapung Waduk Cirata menunjukkan teknologi tersebut mampu meningkatkan produksi energi sekitar 2,5 persen. Prof. Bambang juga mengembangkan sistem PLTS hybrid yang mengintegrasikan panel surya, baterai, generator diesel, konverter, dan jaringan listrik dalam satu sistem. Teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan keandalan pasokan listrik sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah terpencil.

Tidak hanya itu, penelitian Prof. Bambang juga mencakup optimalisasi Solar Chimney Power Plant (SCPP) melalui penyempurnaan desain dan geometri cerobong. Pengembangan tersebut berhasil meningkatkan daya listrik hingga sekitar 750 persen dibandingkan model konvensional sehingga membuka peluang baru dalam pemanfaatan energi surya sebagai sumber listrik berkelanjutan.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Imam Abadi, S.T., M.T. mengangkat orasi ilmiah bertajuk “Pengembangan Sistem Hybrid PV–Wind Turbine Berbasis Kendali Cerdas untuk Mendukung Swasembada Energi Nasional”. Dalam paparannya, ia menjelaskan inovasi sistem pembangkit listrik hibrida yang mengombinasikan panel surya (photovoltaic/PV) dan turbin angin dengan teknologi smart sensor serta kendali cerdas berbasis Artificial Intelligence (AI).

Menurut Prof. Imam, efisiensi panel surya selama ini masih terbatas karena pemasangannya bersifat statis sehingga tidak selalu menghadap posisi matahari. Untuk mengatasinya, ia mengembangkan solar tracker yang mampu menggerakkan panel secara otomatis mengikuti pergerakan matahari. Sistem tersebut kemudian dipadukan dengan turbin angin sumbu vertikal (vertical axis wind turbine) tipe Savonius termodifikasi sehingga menghasilkan sistem pembangkit listrik hibrida yang lebih optimal.

Keunggulan penelitian ini terletak pada penerapan smart sensor yang memadukan hard sensor dan soft sensor. Ketika sensor optik mengalami gangguan akibat cuaca atau bayangan, sistem secara otomatis beralih menggunakan perhitungan astronomi yang dikendalikan oleh algoritma kecerdasan buatan berbasis fuzzy logic dan firefly algorithm. Melalui pendekatan tersebut, posisi panel surya tetap dapat disesuaikan secara optimal untuk memperoleh intensitas cahaya maksimum.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan smart sensor pada sistem solar tracker mampu meningkatkan produksi energi panel surya hingga 25,62 persen. Sementara itu, penerapan sistem hybrid PV–wind turbine berbasis kendali cerdas meningkatkan produksi energi sekitar 25,12 persen dibandingkan sistem hibrida konvensional. Inovasi tersebut diharapkan mampu memperluas akses listrik di wilayah terpencil sekaligus mendukung percepatan transisi energi bersih di Indonesia.

Melalui kedua orasi ilmiah tersebut, FTIRS ITS kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang menjawab tantangan nasional di bidang energi. Pengembangan teknologi panel surya, sistem pembangkit hibrida, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi bukti kontribusi ITS dalam mendukung terwujudnya sistem energi yang lebih efisien, andal, dan berkelanjutan.

Berbagai inovasi tersebut selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan teknologi energi terbarukan yang meningkatkan akses dan efisiensi energi. Selain itu, penelitian kedua profesor juga mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan riset dan inovasi teknologi, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya pengurangan ketergantungan pada energi fosil dan percepatan transisi menuju energi rendah emisi.

Reporter: Atikah, Redaktur: Muchus

×