Tentang
Terbit pada
Selasa, 27 Oktober 2026
Mahasiswa Teknologi Informasi ITS mengikuti kuliah tamu Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA dalam mata kuliah PTEIC yang mengajak mereka membangun ekosistem kolaborasi dan menyiapkan keterampilan untuk menghadapi tahun 2030.

Surabaya, FTEIC ITS – Mahasiswa Teknologi Informasi ITS mendapat kesempatan istimewa dalam mata kuliah Pengantar Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (PTEIC) pada minggu ketujuh perkuliahan. Mata kuliah yang diampu oleh Dr. Ir. Henning Titi Ciptaningtyas, S.Kom., M.Kom. ini menghadirkan kuliah tamu bersama Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA dengan tema Sharing Life Experiences. Berbeda dengan enam pertemuan sebelumnya yang berfokus pada materi keilmuan seperti energi, elektronika, telekomunikasi, computational thinking, AI thinking, dan Software Development Life Cycle, sesi ini dirancang khusus sebagai ruang pembentukan karakter.
Di awal pemaparan, Prof. Mohammad Nuh mengajak mahasiswa melihat kembali posisi mereka sebagai bagian dari ITS. Ia menyinggung privilege keterimaan di ITS yang memiliki tingkat keketatan hanya 6,6%. Angka ini menunjukkan bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk duduk di bangku perkuliahan ITS. Bagi mahasiswa, pembahasan ini menjadi pengingat bahwa status sebagai mahasiswa ITS bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga amanah yang perlu dijalani dengan kesungguhan.
Materi berikutnya yang dibahas adalah pergeseran cara pandang dalam pengembangan teknologi, dari kompetisi menuju ekosistem kolaborasi. Selama ini, inovasi sering dipahami sebagai ajang bersaing untuk menjadi yang terbaik atau menguasai pasar. Melalui sesi ini, mahasiswa diajak memahami bahwa tantangan di masa depan akan lebih mungkin dijawab melalui kerja sama lintas bidang dan lintas pihak, dengan ekosistem yang saling menguntungkan. Pandangan ini sejalan dengan materi yang telah dipelajari mahasiswa pada pekan-pekan sebelumnya, ketika energi, sistem kontrol, telekomunikasi, kecerdasan buatan, dan rekayasa perangkat lunak tampil sebagai bidang yang saling terhubung.
Selain itu, Prof. Mohammad Nuh memaparkan 11 Core Skills in 2030, yakni sejumlah keterampilan inti yang dinilai penting untuk dimiliki pada tahun 2030. Pembahasan ini memberi gambaran kepada mahasiswa tentang arah kebutuhan dunia kerja dan masyarakat di masa depan. Mahasiswa diajak untuk tidak hanya berpuas diri dengan kemampuan yang dimiliki saat ini, tetapi juga mulai menyiapkan diri untuk bekal yang akan relevan beberapa tahun ke depan.
Pemaparan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi mahasiswa, terutama ketika dikaitkan dengan materi AI thinking pada minggu kelima. Di kelas tersebut, mahasiswa mempelajari bagaimana komputer dapat meniru kecerdasan manusia, misalnya pada sistem rekomendasi dan deteksi tumor, serta dampaknya bagi masyarakat. Setelah mengikuti kuliah tamu, mahasiswa menyadari bahwa memahami cara kerja teknis AI saja belum cukup. Kemampuan teknis perlu diimbangi dengan soft skill manusia seperti empati, kepemimpinan, dan analytical thinking.
Kuliah tamu ini juga mengubah cara pandang mahasiswa terhadap inovasi. Sebelumnya, sebagian dari mereka menganggap pengembangan teknologi sebatas persaingan dan perebutan pasar. Kini mereka memahami bahwa ke depan yang dibutuhkan adalah kemampuan membangun ekosistem kolaboratif yang memberi manfaat bagi semua pihak. Di sisi lain, mahasiswa juga semakin menyadari bahwa computational thinking tidak hanya berguna dalam ilmu komputer atau pemrograman, tetapi dapat menjadi keterampilan dasar untuk memecahkan masalah di berbagai aspek kehidupan.
Sesi ini menunjukkan bahwa PTEIC tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan teknis, tetapi juga membentuk pola pikir dan karakter sebagai mahasiswa ITS. Perpaduan antara materi keilmuan, pembelajaran mandiri melalui video, tugas mind map, dan post test, serta kuliah tamu inspiratif ini diharapkan membantu mahasiswa menjadi lulusan yang adaptif, tangguh, dan mampu berkolaborasi secara optimal. (Humas-Sh)