Tim mahasiswa ITS Surabaya sukses membawa pulang gelar Juara 1 dari ajang SWAG Business Case Competition 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan solusi bisnis untuk brand sereal Oriflakes.

Surabaya, FT-EIC ITS – Sebuah tim mahasiswa yang terdiri dari Akhtar Ibrahim, Kaka Agastya Herlambang Wahyudi, dan Salsa Aulia Azzahra Havenanda berhasil meraih Juara 1 dalam ajang SWAG (Success With Agroindustry) Business Case Competition, sebuah kompetisi tingkat nasional di bidang agroindustri yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketiganya merupakan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Pencapaian ini diraih meski tim hanya dibekali waktu persiapan sekitar satu minggu. Kompetisi ini mengangkat studi kasus nyata dari Oriflakes, sebuah brand sereal berbahan dasar umbi garut, sebagai case collaborator.
Tantangan yang diberikan kepada peserta cukup luas. Peserta diminta menyusun strategi agar Oriflakes bisa bangkit dan kembali menjadi market leader, mulai dari cara bertahan di tengah persaingan yang ketat, menciptakan diferensiasi dari kompetitor, hingga menyusun rencana ekspansi ke pasar internasional. Tim diminta memberikan solusi bisnis yang realistis dan benar-benar bisa diterapkan, bukan sekadar gagasan di atas kertas.
Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa adalah betapa mepetnya waktu yang dimiliki tim untuk mempersiapkan diri. Informasi soal kompetisi baru diketahui pada 2 Juli, sementara pendaftaran Batch 2 ditutup keesokan harinya, 3 Juli. Pada hari itu juga, tim langsung mendaftar sekaligus mulai membaca dan mengerjakan studi kasus yang diberikan. Sejak itu, ritme kerja berjalan intens: hampir setiap hari mereka berdiskusi lewat chat, lalu menyisihkan waktu untuk Zoom di malam hari. Setiap anggota mengerjakan bagian yang telah dibagi, kemudian malam harinya seluruh tim berkumpul untuk membahas hasil kerja, saling memberi masukan, mengevaluasi kekurangan, dan membagi tugas untuk hari berikutnya. Pola ini terus berulang hingga makalah akhirnya disubmit pada 10 Juli.
Dari proses riset dan diskusi panjang tersebut, lahirlah Strategi O.R.I, yaitu Optimalisasi, Reposisi, dan Infiltrasi, yang pada akhirnya turut mengantarkan tim ini menjadi juara. Optimalisasi berfokus pada peningkatan keterlibatan konsumen melalui kanal digital. Reposisi mengarah pada pembaruan citra dan komunikasi brand agar lebih relevan dengan target pasar, khususnya Gen Z. Sementara itu, Infiltrasi berfokus pada perluasan pasar melalui komunitas reseller, aktivasi offline seperti booth di Car Free Day, hingga ekspansi ke Malaysia lewat Shopee Cross Border. Setiap solusi yang diajukan turut disertai dasar dan bukti pendukung, mulai dari hasil riset konsumen, analisis kompetitor, hingga tren pasar, lengkap dengan rencana implementasi, target capaian, potensi dampak, serta risiko dan mitigasinya.
Salah satu anggota tim, Salsa Aulia Azzahra Havenanda, menjelaskan bahwa tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah waktu pengerjaan yang sangat singkat. Dalam kurun waktu sekitar satu minggu, tim harus memahami studi kasus, mencari data, menemukan akar masalah, menyusun solusi, hingga menyelesaikan makalah secara utuh.
“Menemukan akar masalah juga tidak mudah karena ada banyak persoalan yang saling berhubungan. Beberapa data yang kami butuhkan pun cukup sulit ditemukan. Untuk mengatasinya, kami melakukan riset dari berbagai sumber, membandingkan Oriflakes dengan kompetitor, dan berdiskusi hampir setiap malam melalui Zoom,” ujar Salsa.
Meski tidak membagi peran secara kaku, setiap anggota tim memiliki fokusnya masing-masing. Akhtar, sebagai ketua tim, lebih banyak mengarahkan jalannya diskusi, menjaga alur berpikir tim tetap sejalan dengan tujuan case, sekaligus mengoordinasikan pekerjaan anggota. Kaka berfokus pada desain slide dan visualisasi makalah agar solusi lebih mudah dipahami. Sementara itu, Salsa lebih banyak menangani riset dan penyusunan isi makalah, mulai dari mencari data, menyusun analisis, hingga membantu mengembangkan solusi. Di awal proses, seluruh anggota membaca studi kasus secara mandiri sebelum berdiskusi bersama menentukan masalah inti yang ingin diselesaikan, lalu setiap malam kembali berkumpul untuk mereview hasil kerja masing-masing.
Kombinasi kerja keras, riset yang matang, dan solusi yang realistis inilah yang pada akhirnya membawa tim mahasiswa ITS Surabaya ini keluar sebagai Juara 1. Bagi mereka, pencapaian ini menjadi bukti bahwa keterbatasan waktu bisa diatasi dengan kolaborasi yang solid dan komitmen tinggi terhadap kualitas solusi yang diajukan.
“Leadership bukan hanya soal menjadi ketua, tetapi juga tentang berinisiatif, membantu ketika ada anggota yang kesulitan, dan memastikan tujuan tim tetap berjalan. Banyak ide yang awalnya masih sederhana akhirnya menjadi lebih matang setelah dibahas bersama dari berbagai sudut pandang,” tambah Salsa.
Dari pengalamannya meraih Juara 1 di SWAG Business Case Competition, tim ini merangkum empat kemampuan penting yang perlu dimiliki mahasiswa yang ingin terjun ke business case competition, yaitu problem solving untuk mengidentifikasi masalah dan menyusun solusi yang realistis, kemampuan riset dan pengolahan data agar solusi memiliki dasar yang kuat, leadership dan teamwork untuk menyatukan berbagai ide menjadi satu solusi yang utuh, serta public speaking agar solusi yang telah disusun dapat disampaikan secara jelas dan meyakinkan di hadapan juri.