Berita Terkini, Fakultas, Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas, Kategori

Mahasiswa FT-EIC ITS Raih Juara 1 Nasional lewat Gagasan AI dan Blockchain untuk UMKM Indonesia

Published on
By

Gambar : Jylan Annisa Mumtaza Syidana menunjukkan sertifikat Juara 1 Ruang KURasi 2025 yang diraihnya melalui karya tulis ilmiah berbasis AI dan Blockchain.

Surabaya, FTEIC ITS – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial, masih banyak pelaku UMKM di Indonesia yang kesulitan memperoleh akses pembiayaan formal. Proses administrasi yang rumit, sistem data yang terpisah antar lembaga keuangan, hingga verifikasi yang berulang menjadi hambatan nyata bagi jutaan pelaku usaha. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Jylan Annisa Mumtaza Syidana, menghadirkan inovasi berbasis Blockchain dan Artificial Intelligence (AI) yang sukses mengantarkannya meraih Juara 1 dalam ajang nasional Ruang KURasi 2025: KUR The Next – Adaptive and Integrative yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

Prestasi tersebut diraih Mumtaz melalui karya tulis ilmiah berjudul “Analisis Sistem Terintegrasi Berbasis Blockchain dan AI untuk Optimalisasi Pembiayaan UMKM”. Mahasiswa Program Studi Rekayasa Kecerdasan Artifisial, Departemen Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FT-EIC) ITS itu menghadirkan konsep sistem pembiayaan terintegrasi berbasis single registration system yang memungkinkan pelaku UMKM cukup melakukan satu kali pendaftaran untuk mengakses berbagai layanan pembiayaan lintas lembaga keuangan.

Kompetisi Ruang KURasi 2025 sendiri merupakan ajang penulisan karya tulis ilmiah tingkat nasional yang diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, peneliti, ASN, analis kebijakan, hingga pelaku industri keuangan di Indonesia. Kompetisi tersebut mengangkat tema besar mengenai inovasi kredit program yang adaptif dan integratif guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Mumtaz mengungkapkan bahwa gagasan tersebut lahir dari keresahannya terhadap kondisi ekosistem pembiayaan UMKM di Indonesia yang masih terfragmentasi. Menurutnya, banyak lembaga keuangan belum memiliki sistem yang terintegrasi sehingga pertukaran data berjalan lambat dan tidak efisien. Akibatnya, pelaku UMKM harus menghadapi proses administrasi berulang saat mengajukan pembiayaan di lembaga yang berbeda.

“UMKM merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia, tetapi lebih dari 60 persen UMKM masih mengalami kendala dalam mengakses pembiayaan formal,” ujar Mumtaz.

Ia melihat bahwa akar masalah tersebut bukan sekadar keterbatasan dana, melainkan sistem yang belum mampu menyederhanakan proses pembiayaan secara menyeluruh. Melalui karya ilmiahnya, Mumtaz mengintegrasikan teknologi Blockchain sebagai distributed ledger untuk menjaga keamanan dan transparansi data sekaligus mengurangi duplikasi proses verifikasi. Di sisi lain, teknologi AI digunakan untuk fitur two-sided matching yang mampu mencocokkan profil UMKM dengan kriteria lembaga pembiayaan secara otomatis dan lebih akurat. Tidak berhenti pada konsep teoritis, Mumtaz juga melakukan analisis kuantitatif melalui simulasi skenario dengan membandingkan implementasi sistem integrasi data nasional di Singapura melalui MyInfo dan Estonia melalui X-Road. Dari hasil simulasi tersebut, sistem yang ia rancang diproyeksikan mampu meningkatkan efisiensi proses pencairan dana hingga 68,5 persen.

Dalam proses penyusunan karya hingga kompetisi berlangsung, Mumtaz mendapatkan dukungan dari Dekan FT-EIC ITS, Prof. Dr. Diana Purwitasari, S.Kom., M.Sc., selaku dosen pembimbing. Menurutnya, dukungan dan kepercayaan penuh yang diberikan menjadi motivasi besar dalam menyelesaikan riset secara mandiri.

Lebih lanjut, Mumtaz menilai keberhasilan karyanya meraih Juara 1 didukung oleh tiga faktor utama, yakni solusi yang konkret dan relevan dengan kondisi Indonesia, metodologi riset yang kuat dengan proyeksi dampak terukur, serta kesesuaian topik dengan arah kebijakan nasional terkait Digital ID dan Open Finance Framework. Melalui kompetisi ini, Mumtaz juga memperoleh banyak pelajaran berharga. Ia menyadari bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan memiliki nilai apabila tidak mampu menyelesaikan masalah nyata di masyarakat. Selain meningkatkan kemampuan riset, pengalaman tersebut juga melatih kemampuan problem solving, manajemen waktu, dan tanggung jawab dalam menyelesaikan proyek secara mandiri.

Mumtaz pun membagikan pesan motivasi bagi mahasiswa FT-EIC ITS yang ingin mulai aktif mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah maupun riset inovatif lainnya. Menurutnya, mahasiswa tidak perlu takut memulai meskipun ide yang dimiliki masih sederhana.

“Jangan ragu untuk memulai, meskipun merasa ide kita masih sederhana,” tuturnya.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk lebih peka terhadap berbagai persoalan di sekitar dan menjadikan ilmu teknologi sebagai alat untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. 

“Teknologi canggih baru akan benar-benar bernilai ketika digunakan sebagai solusi untuk mempermudah hidup manusia dan menyelesaikan problem di masyarakat,” tambahnya.

Bagi Mumtaz, setiap kompetisi bukan hanya tentang memenangkan penghargaan, tetapi juga menjadi ruang belajar untuk mengembangkan kemampuan diri sekaligus mengukur sejauh mana kontribusi yang dapat diberikan melalui ilmu yang dimiliki. Dengan semangat tersebut, ia berharap semakin banyak mahasiswa berani menghadirkan inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masa depan Indonesia.

×