{"id":3640,"date":"2019-07-16T13:20:13","date_gmt":"2019-07-16T06:20:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/?p=3640"},"modified":"2019-07-16T13:20:13","modified_gmt":"2019-07-16T06:20:13","slug":"its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/","title":{"rendered":"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia"},"content":{"rendered":"<figure style=\"width: 620px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn.sindonews.net\/webp\/620\/content\/2019\/07\/14\/124\/1420137\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-CpN.webp\" alt=\"\" width=\"620\" height=\"413\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia. (Istimewa)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) melakukan kerjasama rancang bangun infrastruktur maritime dan teknologi beton apung, untuk dermaga dan breakwater (pemecah gelombang).<\/p>\n<p>Kerjasama dilakukan dengan PT Rekabhumi Segarayasa Bestara (RSB) dan PT Karya Prima Anugerah Mandiri (KPAM). Kerjasama ini digunakan untuk menunjang industri dan kelautan yang berwawasan lingkungan di Indonesia sebagai negara maritime.<\/p>\n<p>Dermaga merupakan tempat persinggahan kapal yang akan melakukan bongkar muat barang dan naik turunnya penumpang dari dan ke atas kapal. Dermaga juga sebagai tempat untuk mengisi bahan bakar, air bersih, membersihkan kapal, bahkan mengatur saluran air kotor yang akan di proses lebih lanjut.<\/p>\n<p>Setiap pelabuhan pasti memiliki dermaga dengan ukuran yang telah disesuaikan dengan kebutuhan. Banyaknya kapal yang sandar akan mempengaruhi kualitas pembuatan dermaga agar layak digunakan.<\/p>\n<p>Di Indonesia, sebagian besar dermaga dibuat dengan struktur bangunan paten dan menghabiskan biaya besar. Sedangkan di negara maju, mereka membuat dermaga apung yang dapat dipindah sesuai kebutuhan dengan biaya yang lebih murah.<\/p>\n<p>Ketertinggalan teknologi yang dimiliki Indonesia saat ini memacu ITS untuk melakukan riset guna mendapatkan inovasi terbaru. Konstruksi beton apung menjadi tujuan pencapaian riset ini agar dapat diaplikasikan untuk pemenuhan infrastruktur maritim.<\/p>\n<p>\u201cKita tahu bahwa kapal itu dari baja dan itu bisa mengapung, jadi kita bikin beton apung ini berongga agar bisa mengapung, dengan berat jenisnya kurang dari satu (lebih rendah dari air),\u201d kata Haryo Dwito Armono ST MEng PhD, peneliti dan dosen dari Departemen Teknik Kelautan ITS, saat dihubungi oleh tim Koran Sindo.<\/p>\n<p>Sebagai institusi pendidikan, ITS memiliki keterbatasan sehingga memerlukan kerjasama dengan pihak lain untuk mengetahui fakta di lapangan, terutama dengan badan usaha.<\/p>\n<p>ITS melakukan kerja sama dengan PT Rekabhumi Segarayasa Bestara (RSB) dan PT Karya Prima Anugerah Mandiri (KPAM) untuk mengembangkan teknologi beton apung. Kontruksi beton belum banyak diaplikasikan karena berat jenis beton yang lebih besar dari air laut dan memiliki risiko retak yang tinggi.<\/p>\n<p>Padahal, beton lebih tahan korosi dibandingkan dengan material baja. \u201cBeton itu lebih tahan lama dibandingkan baja, karena baja mudah korosi jika kena air laut dan beton bisa bertahan sekitar 30 tahun\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Di luar negeri, beton apung telah diaplikasikan untuk pemecah gelombang terapung, marina perahu, ponton yang dirancang untuk akses ke air dan perahu, klub berlayar dan mendayung, serta dok kapal dan pendaratan feri.<\/p>\n<p>Teknologi ini dinilai lebih baik dan lebih ekonomis daripada beton paten yang ditanam. Dalam penelitian yang akan dilakukan bersama-sama nantinya, teknologi beton apung akan di uji di laboratorium untuk mengetahui kelemahan dan keunggulan.<\/p>\n<p>Mereka ingin memproduksi beton apung berkualitas tinggi yang dapat diaplikasikan di bidang kemaritiman. Sebagai langkah awal, ITS akan melakukan rancang bangun pemecah gelombang.<\/p>\n<p>Teknik rancang bangun dibuat berdasarkan hasil survei lapangan bersama PT RSB karena setiap pelabuhan memiliki kedalaman dan gelombang laut yang berbeda-beda. Perlu di ketahui bahwa breakwater atau pemecah gelombang adalah bangunan yang digunakan untuk melindungi daerah perairan pelabuhan dari gangguan gelombang laut.<\/p>\n<p>Bangunan ini memisahkan daerah perairan dari laut lepas, sehingga perairan pelabuhan tidak banyak dipengaruhi oleh gelombang besar di laut. \u201cBiasanya, breakwater ini dibuat dari tumpukan batu berbentuk trapesium hingga mencapai permukaan air laut,\u201d kata Haryo.<\/p>\n<p>Di Indonesia, pemecah gelombang masih menggunakan bahan baku konvensional yang lebih mahal dalam segi ekonomi dan rumit pembangunannya. Padahal, di negara maju sudah menggunakan teknologi beton apung untuk memecah gelombang di laut.<\/p>\n<p>\u201cJika kedalaman air kurang dari 10 meter, mungkin itu masih bisa dilakukan, tapi jika kedalamannya 20 meter, maka material yang dibutuhkan akan sangat banyak dan biayanya sangat mahal,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Penggunaan breakwater terapung tidak terlepas dari panjang, pendek dan lebarnya gelombang laut. Kontruksi yang dibangun harus berdasarkan penelitian yang dilakukan di wilayah tersebut. Menurut Haryo, penggunaan beton apung untuk pemecah gelombang akan lebih ramah lingkungan, selain harga yang lebih ekonomis.<\/p>\n<p>Hal ini dikarenakan pemecah gelombang dari beton apung tidak menutupi bagian laut dibawahnya, sehingga tidak terjadi fluktuasi air, tidak mengganggu pergerakan organisme di laut dan tidak terjadi sedimentasi.<\/p>\n<p>Haryo juga menyampaikan harapannya agar kerja sama riset aplikasi rancang bangun beton apung ini bisa segera dilaksanakan secepatnya di tahun 2019 ini. Momen kerjasama ini dirasa sangat pas, karena ITS juga mendapatkan dana hibah dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk melakukan penelitian tentang pemecah gelombang.<\/p>\n<p>\u201cSaya berharap kerjasama ini bisa segera dilaksanakan dan hasilnya juga bisa segera diaplikasikan,\u201d pungkas dosen ITS itu. PT KPAM tahun lalu telah mendapat lisensi manufacturing mengenai floating concrete pontoon (dermaga beton apung) oleh SF Marina dari Swedia.<\/p>\n<p>SF Marina merupakan perusahaan yang bergerak dibidang beton apung dan telah berusia lebih dari 100 tahun. \u201cSF Marina berdiri sejak 1918 dan dia pionir dibidang floating pontoon. Teknologi mereka sudah lama digunakan di pelabuhan, marina, sandar kapal, tempat mengisi bahan bakar atau jembatan apung,\u201d kata Ir Budi S Prasetyo, Managing Director PT KPAM.<\/p>\n<p>KPAM melakukan riset dengan ITS guna mengeksplore teknologi yang akan didapat dari SF Marina. Budi mengharapkan ITS dapat mengembangkan teknologi SF Marina melebihi hasil yang telah dicapai.<\/p>\n<p>\u201cKami tidak mau menelan mentahmentah teknologi dari luar, oleh karena itu kami bersama ITS akan berupaya untuk melakukan penelitian lanjutan dan diharapkan akan muncul inovasi-inovasi baru di masa mendatang dan bisa diaplikasikan di perairan Indonesia\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Sebenarnya, Budi sudah mengenal SF Marina sejak 4 tahun lalu. Saat itu, SF Marina ingin menjual barangnya ke Indonesia melalui KPAM, namun hal ini di tolak oleh Budi karena tidak memberikan nilai lebih bagi Indonesia.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, tahun lalu KPAM berhasil mendapatkan lisensi melalui beberapa kali negosiasi. \u201cMereka ingin saya jual barang mereka disini, import dari sana ke sini, saya bilang tidak mau karena nggak ada nilai lebih buat kita.<\/p>\n<p>Saya ingin mereka memberikan lisence ke kita agar bisa produksi disini, setelah itu ingin saya tingkatkan dengan ITS,\u201d kata Budi. Budi menjelaskan bahwa pembuatan dermaga beton apung tidak butuh waktu lama.<\/p>\n<p>SF Marina memiliki konstruksi dermaga beton apung yang sudah dibuat per modul, dengan disesuaikan berdasarkan kebutuhan. \u201cBuatnya tidak lama karena bentuknya kan modulmodul, satu modul itu tergantung lebar dan panjangnya, termasuk kebutuhannya.<\/p>\n<p>Pekerjaannya sekitar 2 bulan permodul, paling lama 4 bulan, tergantung modulnya juga,\u201d ungkap Budi. Untuk membuat beton apung di suatu wilayah, dibutuhkan adanya batching plant. Batching plant adalah lokasi khusus untuk pembuatan beton readymix, yang memiliki beberapa komponen untuk mencampur material-material beton.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, itu adalah pabrik beton dimana terjadi pencampuran dan pengadukan beton yang akan digunakan untuk kepentingan konstruksi berbagai proyek, baik itu landasan bandara, jalan raya, maupun perumahan.<\/p>\n<p>\u201cSeperti contoh, kita mau bikin dipelabuhan atau marina di pulau rote. Kalau di pulau rote belum ada batching plant beton, maka tidak bisa dibuat. Makanya kita harus bikin di tempat terdekat dengan batching plant, yaitu di kupang.<\/p>\n<p>Kita bikin di kupang dan dikirim ke pulau rote, bisa ditarik oleh kapal atau dinaikkan ke bar,\u201d tambahnya. Kemudian, perbandingan harga antara beton apung dan beton dengan tiang pancang sangat signifikan.<\/p>\n<p>Harga beton apung sendiri sekitar 10-12 juta per meter, sedangkan beton dengan tiang pancang mencapai 20-30 juta, tergantung dari kedalaman laut. Menurut Budi, beton apung juga memiliki tingkat stabilitas lebih baik dibandingkan Baja. Hal ini dikarena sifat beton yang lebih berat, sehingga goncangan air laut dapat direduksi. <strong>(Fandy)<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber Berita : <a href=\"https:\/\/autotekno.sindonews.com\/read\/1420137\/124\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-1563077604\">https:\/\/autotekno.sindonews.com\/read\/1420137\/124\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-1563077604<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) melakukan kerjasama rancang bangun infrastruktur maritime dan teknologi beton apung, untuk dermaga dan breakwater (pemecah gelombang). Kerjasama dilakukan dengan PT Rekabhumi Segarayasa Bestara (RSB) dan PT Karya Prima Anugerah Mandiri (KPAM). Kerjasama ini digunakan untuk menunjang industri dan kelautan yang berwawasan lingkungan di Indonesia sebagai negara maritime. Dermaga merupakan tempat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":128,"featured_media":3638,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[66],"tags":[],"class_list":["post-3640","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.1.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia - Departemen Teknik Kelautan<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Berita Departemen Teknik Kelautan ITS\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia - Departemen Teknik Kelautan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Berita Departemen Teknik Kelautan ITS\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Departemen Teknik Kelautan\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-07-16T06:20:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"624\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"410\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin-Teknik Kelautan\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin-Teknik Kelautan\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/\"},\"author\":{\"name\":\"Admin-Teknik Kelautan\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/person\/117c61cf96054c707120d4a2fb7f3d01\"},\"headline\":\"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia\",\"datePublished\":\"2019-07-16T06:20:13+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/\"},\"wordCount\":1167,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg\",\"articleSection\":[\"News\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/\",\"name\":\"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia - Departemen Teknik Kelautan\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg\",\"datePublished\":\"2019-07-16T06:20:13+00:00\",\"description\":\"Berita Departemen Teknik Kelautan ITS\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg\",\"width\":624,\"height\":410},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/\",\"name\":\"Departemen Teknik Kelautan ITS\",\"description\":\"Department of Ocean Engineering - Institut Teknologi Sepuluh Nopember\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#organization\"},\"alternateName\":\"Department Of Ocean Engineering\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#organization\",\"name\":\"Departemen Teknik Kelautan ITS\",\"alternateName\":\"Department of Ocean Engineering ITS\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2018\/08\/tkla.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2018\/08\/tkla.png\",\"width\":293,\"height\":287,\"caption\":\"Departemen Teknik Kelautan ITS\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/teknikkelautan_its\/\",\"https:\/\/www.youtube.com\/@teknikkelautanits\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/person\/117c61cf96054c707120d4a2fb7f3d01\",\"name\":\"Admin-Teknik Kelautan\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e268bcfb4c8b8730fc9b48e5d43744eea71afd850f395d8518e99366a45a519?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e268bcfb4c8b8730fc9b48e5d43744eea71afd850f395d8518e99366a45a519?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin-Teknik Kelautan\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia - Departemen Teknik Kelautan","description":"Berita Departemen Teknik Kelautan ITS","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia - Departemen Teknik Kelautan","og_description":"Berita Departemen Teknik Kelautan ITS","og_url":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/","og_site_name":"Departemen Teknik Kelautan","article_published_time":"2019-07-16T06:20:13+00:00","og_image":[{"width":624,"height":410,"url":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Admin-Teknik Kelautan","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin-Teknik Kelautan","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/"},"author":{"name":"Admin-Teknik Kelautan","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/person\/117c61cf96054c707120d4a2fb7f3d01"},"headline":"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia","datePublished":"2019-07-16T06:20:13+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/"},"wordCount":1167,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg","articleSection":["News"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/","name":"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia - Departemen Teknik Kelautan","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg","datePublished":"2019-07-16T06:20:13+00:00","description":"Berita Departemen Teknik Kelautan ITS","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2019\/07\/Capture.jpg","width":624,"height":410},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/en\/its-kembangkan-beton-apung-pertama-di-indonesia-2\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"ITS Kembangkan Beton Apung Pertama di Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#website","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/","name":"Departemen Teknik Kelautan ITS","description":"Department of Ocean Engineering - Institut Teknologi Sepuluh Nopember","publisher":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#organization"},"alternateName":"Department Of Ocean Engineering","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#organization","name":"Departemen Teknik Kelautan ITS","alternateName":"Department of Ocean Engineering ITS","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2018\/08\/tkla.png","contentUrl":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-content\/uploads\/sites\/40\/2018\/08\/tkla.png","width":293,"height":287,"caption":"Departemen Teknik Kelautan ITS"},"image":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/teknikkelautan_its\/","https:\/\/www.youtube.com\/@teknikkelautanits"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/person\/117c61cf96054c707120d4a2fb7f3d01","name":"Admin-Teknik Kelautan","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e268bcfb4c8b8730fc9b48e5d43744eea71afd850f395d8518e99366a45a519?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e268bcfb4c8b8730fc9b48e5d43744eea71afd850f395d8518e99366a45a519?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin-Teknik Kelautan"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3640","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/128"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3640"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3640\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3641,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3640\/revisions\/3641"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3640"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3640"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/tkelautan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3640"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}