News

Apa Itu Bathtub Curve? Kenali Pola Kegagalan agar Sistem Lebih Andal

Sen, 29 Jun 2026
2:03 pm
MANSYS Article
Share :
Oleh : bagus.n@its.ac.id   |

Bayangkan sebuah mesin produksi baru saja dipasang di lantai pabrik, meskipun seluruh komponennya masih baru, bukan berarti mesin tersebut terbebas dari risiko kegagalan.

     Di sisi lain, mesin yang telah beroperasi selama bertahun-tahun juga memiliki peluang mengalami kerusakan akibat keausan. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui bathtub curve, yaitu model grafik yang menggambarkan hubungan antara laju kegagalan (failure rate) suatu komponen terhadap waktu operasinya.

Ilustrasi dibantu oleh AI Reve.art, dengan prompt dari penulis

 

Grafik ini dinamakan bathtub curve karena bentuknya menyerupai bak mandi, dengan tingkat kegagalan yang tinggi pada awal masa pakai, rendah dan stabil pada masa operasi normal, kemudian kembali meningkat ketika komponen memasuki akhir umur pakainya (Elsayed, 2021). Model ini menjadi salah satu konsep fundamental dalam reliability engineering karena membantu insinyur memahami karakteristik kegagalan sepanjang siklus hidup suatu aset.

Ilustrasi dibantu oleh AI Reve.art, dengan prompt dari penulis

 

     Fase pertama pada bathtub curve dikenal sebagai early failure atau infant mortality period. Pada tahap ini, tingkat kegagalan relatif tinggi karena komponen masih berada pada masa awal pengoperasian. Penyebab kegagalan umumnya bukan berasal dari umur komponen, melainkan akibat cacat manufaktur, kesalahan perakitan, material yang tidak memenuhi spesifikasi, maupun kesalahan instalasi dan commissioning (Jardine dan Tsang, 2013). Sebagai contoh, bantalan (bearing) yang dipasang tidak sejajar (misalignment) dapat mengalami kerusakan hanya dalam waktu singkat meskipun belum mencapai umur desainnya. Oleh karena itu, berbagai industri menerapkan prosedur burn-in testing, inspeksi kualitas, dan commissioning test untuk mengidentifikasi potensi kegagalan sejak dini sebelum peralatan digunakan secara penuh.

     Setelah melewati fase awal, komponen memasuki useful life, yaitu periode ketika laju kegagalan berada pada tingkat yang rendah dan relatif konstan. Pada fase ini, sebagian besar komponen telah melewati potensi cacat awal sehingga dapat beroperasi sesuai spesifikasi desainnya. Kegagalan yang terjadi selama useful life umumnya bersifat acak (random failure) dan dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti fluktuasi beban, kesalahan pengoperasian, kondisi lingkungan, atau kejadian yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya (Moubray, 1997). Strategi pemeliharaan yang umum diterapkan pada fase ini adalah condition-based maintenance dan predictive maintenance, di mana kondisi komponen dipantau secara berkala menggunakan teknik seperti analisis getaran, termografi, maupun analisis oli sehingga tindakan perawatan dapat dilakukan sebelum terjadi kegagalan yang lebih serius.

     Seiring bertambahnya waktu operasi, komponen akan memasuki fase wear-out failure, yaitu periode ketika laju kegagalan meningkat secara signifikan akibat proses keausan, kelelahan material (fatigue), korosi, deformasi, maupun degradasi sifat mekanik dan elektrik. Pada tahap ini, kerusakan tidak lagi bersifat acak, tetapi merupakan konsekuensi alami dari penuaan komponen. Sebagai contoh, roda gigi yang telah mengalami jutaan siklus pembebanan berpotensi mengalami retak kelelahan, sedangkan isolasi pada motor listrik dapat mengalami penurunan kualitas akibat paparan temperatur tinggi secara terus-menerus. Karena itu, strategi preventive maintenance, overhaul, maupun penggantian komponen berdasarkan umur (age replacement) menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya downtime yang tidak direncanakan dan menjaga keandalan sistem produksi (Dhillon, 2006).

     Dengan demikian, bathtub curve merupakan alat yang sangat penting dalam memahami pola kegagalan komponen sepanjang siklus hidupnya. Melalui pemahaman terhadap karakteristik early failure, useful life, dan wear-out failure, perusahaan dapat menentukan strategi pemeliharaan yang paling efektif sesuai dengan kondisi aset yang dimiliki. Pendekatan ini tidak hanya membantu meningkatkan keandalan dan ketersediaan peralatan, tetapi juga mengurangi biaya pemeliharaan, memperpanjang umur aset, serta meminimalkan risiko gangguan operasional. Di era industri modern yang semakin mengandalkan produktivitas dan efisiensi, penerapan konsep bathtub curve menjadi landasan penting dalam membangun sistem pemeliharaan yang proaktif, terencana, dan berkelanjutan.

Penulis: Brian Arga Prasidio Putra

Penyunting: Brian Arga Prasidio Putra

Daftar Pustaka

Dhillon, B.S. (2006). Maintainability, Maintenance, and Reliability for Engineers. Boca Raton, FL: CRC Press.

Elsayed, E.A. (2021). Reliability Engineering. Edisi ke-3. Hoboken, NJ: Wiley.

Jardine, A.K.S. dan Tsang, A.H.C. (2013). Maintenance, Replacement, and Reliability: Theory and Applications. Edisi ke-2. Boca Raton, FL: CRC Press.

Moubray, J. (1997). Reliability-Centered Maintenance. Edisi ke-2. Oxford: Butterworth-Heinemann.

Cek berita selengkapnya di sosial media kami:

Website: https://www.its.ac.id/tindustri/laboratorium-sistem-manufaktur/
Instagram: @sismanity
LinkedIn: www.linkedin.com/in/manufacturing-systems-laboratory
YouTube: SISMANITY ITS

Latest News

  • Kenalan dan Pelajari Six Sigma untuk Meningkatkan Kualitas Industri

         Bayangkan Anda membeli sebuah telepon pintar baru, namun beberapa hari kemudian layarnya tidak dapat berfungsi dengan baik

    29 Jun 2026
  • Apa Itu Bathtub Curve? Kenali Pola Kegagalan agar Sistem Lebih Andal

    Bayangkan sebuah mesin produksi baru saja dipasang di lantai pabrik, meskipun seluruh komponennya masih baru, bukan berarti mesin tersebut

    29 Jun 2026
  • 3D Printing sebagai Masa Depan Rapid Prototyping dalam Dunia Manufaktur Modern

    Bayangkan Anda dapat menciptakan sebuah produk hanya dari desain digital, lalu dalam hitungan jam produk tersebut sudah berada di

    08 Mei 2026