News

Dari Teori ke Aplikasi: Pentingnya Welding dalam Dunia Teknik dan Infrastruktur Global

Sen, 02 Feb 2026
8:57 am
Berita Mansys

Sorry, no posts matched your criteria.

Share :
Oleh : bagus.n@its.ac.id   |
Pernahkah Anda bertanya, apa yang membuat gedung pencakar langit tidak runtuh saat gempa, atau kapal selam tidak remuk di kedalaman laut? Jawabannya adalah sebuah proses yang sering dianggap remeh namun vital: Pengelasan (Welding). Jangan bayangkan ini hanya soal percikan api; secara definisi ilmiah, welding adalah seni rekayasa penyambungan material hingga mencapai koalesensi (penyatuan) tingkat atomik (Groover, 2018). Ini adalah satu-satunya metode yang mampu mengubah potongan-potongan logam terpisah menjadi satu struktur monolitik yang utuh. Tanpa welding, dunia teknik sipil dan mesin yang kita kenal hari ini tidak akan pernah ada.

Mengapa para insinyur dunia masih “terobsesi” dengan teknologi ini? Jawabannya sederhana: Efisiensi Mutlak. Dibandingkan metode mekanis kuno seperti paku keling (riveting) yang menambah berat beban, sambungan las menawarkan kekuatan superior dengan bobot yang jauh lebih ringan. Menurut Kalpakjian & Schmid (2014), sambungan las yang presisi bahkan memiliki integritas struktur yang melebihi logam induknya sendiri. Ini memberikan kebebasan bagi kita untuk mendesain produk yang aerodinamis, hemat bahan bakar, namun tetap tangguh. Singkatnya, welding adalah jalan pintas menuju efisiensi biaya dan performa tinggi.

Jejak teknologi ini ada di mana-mana, “bersembunyi” di balik kemegahan infrastruktur modern. Di sektor otomotif, ribuan titik las robotik menjamin keselamatan nyawa penumpang. Di industri energi, teknik pengelasan tingkat lanjut menjaga pipa gas bertekanan tinggi agar tidak meledak. Bahkan di sektor konstruksi dan perkapalan, welding adalah tulang punggung yang menahan beban ribuan ton setiap detiknya (ASM International, 2005). Dunia industri bergerak di atas sambungan las; jika sambungan itu gagal, industri berhenti.

Namun, lupakan citra tukang las konvensional yang kotor dan gelap. Di era Industry 4.0, pengelasan telah bertransformasi menjadi sains presisi yang dikendalikan oleh algoritma dan robotika. Parameter panas kini diatur digital, dan kualitas sambungan dipindai dengan sensor canggih. Ini bukan lagi pekerjaan kasar, melainkan kompetensi teknis tingkat tinggi yang menggabungkan metalurgi, fisika, dan otomatisasi. Inilah wajah manufaktur masa depan yang sebenarnya.

Inilah alasan mengapa Anda ada di sini. Di Laboratorium Manufacturing Systems ITS, khususnya dalam mata kuliah Proses Manufaktur, kita tidak hanya belajar teori. Kita membedah logika di balik teknologi yang menopang peradaban ini. Memahami welding bukan sekadar agar lulus ujian, tapi agar Anda memiliki pola pikir engineer sejati yang paham bagaimana sebuah sistem dibangun dari dasar. Jangan hanya jadi penonton; jadilah ahli yang menguasai teknologi ini.

Penulis: Farras Faishal

Penyunting: Brian Arga Prasidio Putra

 

Referensi:

ASM International. (2005). ASM Handbook, Volume 6: Welding, Brazing, and Soldering.
Groover, M. P. (2018). Fundamentals of Modern Manufacturing. John Wiley & Sons.
Kalpakjian, S., & Schmid, S. R. (2014). Manufacturing Engineering and Technology. Pearson Education.

 

Cek berita selengkapnya di sosial media kami:

– Website: https://www.its.ac.id/tindustri/laboratorium-sistem-manufaktur/
– Instagram: @sismanity
– Linkedin: www.linkedin.com/in/manufacturing-systems-laboratory
– Youtube: SISMANITY ITS

Latest News

Sorry, no posts matched your criteria.