Tim EduVent ITS Lolos ke Grand Final HackaSTONE 2026, Bawa Inovasi AI untuk Pendidikan ke Amsterdam

Terbit pada

Jumat, 9 Oktober 2026

Mahasiswa FTEIC ITS kembali berprestasi di kancah internasional. Kali ini lewat ajang kompetisi berbasis Artificial Intelligence untuk dunia pendidikan. Inovasi yang dibawa pun berhasil menembus babak final di tingkat global.

Gambar : Tim EduVent ITS, Aldiez Rizkia Centrinova dan Dinny Maria Pical, mewakili ITS di Grand Final HackaSTONE 2026

 

Surabaya, FTEIC ITS – Tim EduVent ITS berhasil melaju ke Grand Final HackaSTONE: The Global Agentic AI Competition 2026, kompetisi internasional di bidang Artificial Intelligence for Education yang akan dilaksanakan pada 29–30 Oktober 2026 di Vrije Universiteit Amsterdam (VU), Belanda. Tim ini diwakili oleh dua mahasiswa Departemen Sistem Informasi, yaitu Aldiez Rizkia Centrinova (angkatan 2023) dan Dinny Maria Pical (angkatan 2024).

 

HackaSTONE 2026 mengangkat tema “Agentic AI for Education” dengan konsep “HackATHON Through CAPstone”, dan diselenggarakan oleh The Association of Global AI Technomics, Education and Exchange (GATEE). Kompetisi ini terbuka bagi mahasiswa perguruan tinggi dari berbagai negara untuk mengembangkan AI assistants yang dapat diterapkan pada higher education, K–12, preschool & special needs education, vocational & professional education, hingga lifelong learning. Skala kompetisinya bersifat global, dengan keterlibatan lebih dari 50 universitas dari sekitar 20 negara di Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia, serta diikuti lebih dari 150 tim.

 

Menurut Aldiez, informasi mengenai HackaSTONE 2026 pertama kali diperoleh dari dosen pembimbing mereka, Ir. Achmad Holil Noor Ali, M.Kom. Sempat muncul keraguan karena skala kompetisi yang besar dan diikuti peserta dari berbagai negara, namun dorongan dari dosen pembimbing membuat mereka memberanikan diri untuk mencoba, dengan tetap dibarengi persiapan dan kompetensi yang matang.

 

Proses seleksi HackaSTONE 2026 berlangsung panjang, dimulai dari registrasi tim hingga 31 Maret 2026, dilanjutkan dengan tahap nominasi universitas, project submission berupa deskripsi proyek dan video presentasi maksimal delapan menit yang harus dikumpulkan sebelum 1 Juli 2026. Setiap universitas hanya diperbolehkan menominasikan maksimal tiga tim ke tahap semifinal. Dalam proses ini, Tim EduVent ITS bersaing dengan tim dari universitas-universitas bereputasi internasional, seperti Nanyang Technological University (NTU), National University of Singapore (NUS), dan Tsinghua University. Pengumuman finalis dilakukan pada 15 Agustus 2026, dan Tim EduVent ITS dinyatakan lolos sebagai salah satu finalis yang akan mewakili ITS dan Indonesia di Grand Final.

 

Proyek yang diajukan Tim EduVent ITS adalah EduVent: An AI-Integrated Adventure Learning Management System for Project-Based Learning. EduVent dikembangkan untuk menjawab tiga permasalahan utama dalam pembelajaran digital, yaitu pola pembelajaran yang masih berhenti pada pemberian materi dan tugas, keterlibatan siswa yang belum optimal, serta beban administrasi guru dalam mendokumentasikan perkembangan siswa. Berbeda dari Learning Management System konvensional, EduVent mengubah capaian pembelajaran menjadi quest dan challenge, di mana siswa berperan sebagai digital explorer yang memperoleh Experience Points (XP) dan Growth Points (GP) melalui proyek, refleksi, dan aktivitas kolaboratif yang secara otomatis terekam menjadi digital portfolio dan learning CV.

 

Bagi guru, EduVent menyediakan Lesson & Quest System, Student Dashboard & Portfolio System, Task Manager, EduVent School, otomatisasi manajemen tugas dan penilaian, serta AI Learning Analytics untuk mendukung personalisasi pembelajaran. Sistem ini telah diimplementasikan di SMPN 9 Madiun, SMP Islam Al Azhar 13 Surabaya, dan Program Studi Inovasi Digital ITS, dengan lebih dari 450 pengguna aktif. Dari implementasi tersebut, fitur portofolio otomatis mencapai tingkat keberhasilan 80 persen, waktu administrasi guru berkurang hingga 40 persen, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran meningkat hingga 70 persen.

Gambar: Implementasi EduVent di SMP Islam Al Azhar 13 Surabaya

EduVent sendiri dikembangkan oleh tim yang terdiri dari delapan mahasiswa lintas departemen, mulai dari Teknik Informatika, Sistem Informasi, hingga Teknologi Kedokteran. Melalui proses nominasi internal bersama dosen pembimbing, Aldiez dan Dinny terpilih untuk mewakili tim pada Grand Final di Amsterdam. Dalam tim, Aldiez berperan sebagai Chief Executive Officer (CEO) yang bertanggung jawab atas koordinasi tim, arah strategi pengembangan, serta penyampaian konsep dan value proposition EduVent. Sementara itu, Dinny berperan sebagai Chief Financial Officer (CFO) yang mengelola kebutuhan finansial dan operasional, termasuk penyusunan anggaran dan kesiapan administratif tim.

 

Tantangan terbesar yang dihadapi tim, menurut Aldiez dan Dinny, bukan hanya dari sisi teknis, melainkan juga dari sisi mental dan konsistensi dalam menjaga kepercayaan diri di tengah persaingan dengan tim-tim dari universitas besar dunia. Tekanan deadline turut dirasakan karena proses penyempurnaan produk dan submission harus diselesaikan bersamaan dengan tanggung jawab akademik, termasuk masa Evaluasi Akhir Semester (EAS).

 

Menjelang Grand Final, tim tengah melakukan persiapan intensif baik dari sisi teknis maupun non-teknis. Dari sisi teknis, tim terus menyempurnakan sistem EduVent agar seluruh fitur dapat berjalan stabil saat live demo, serta menyiapkan materi pitch untuk sesi presentasi 10 menit dan tanya jawab 5 menit di hadapan juri. Rangkaian simulasi presentasi dilakukan secara bertahap, dimulai dari dosen-dosen Departemen Sistem Informasi yang pernah menempuh pendidikan di Belanda, Kepala Departemen Sistem Informasi, hingga Wakil Rektor I ITS. Dari sisi non-teknis, tim juga mengurus visa Schengen, tiket pesawat, akomodasi, asuransi, dokumen keberangkatan, hingga pengajuan pendanaan, sembari tetap menjalani kegiatan perkuliahan.Grand Final HackaSTONE 2026 akan berlangsung pada 29–30 Oktober 2026 di Vrije Universiteit Amsterdam, sebagai bagian dari Dutch Conference on AI for Education.

 

Target utama tim pada Grand Final nanti adalah meraih First Prize, penghargaan tertinggi yang hanya diberikan kepada maksimal lima pemenang. Aldiez dan Dinny berharap pencapaian ini dapat menjadi pembuktian bahwa inovasi pendidikan berbasis AI karya mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat global, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas untuk pengembangan EduVent ke depannya.

 

Kepada mahasiswa FTEIC ITS lain yang ingin mengikuti kompetisi serupa di bidang AI dan teknologi, Aldiez berpesan agar tidak minder menghadapi kompetisi berskala internasional, serta berani mengambil peluang besar yang dibarengi dengan kerja keras dan persiapan matang. Senada dengan itu, Dinny menekankan pentingnya memulai dari hal kecil, membangun tim yang saling melengkapi, serta tidak ragu meminta arahan dari dosen sebagai bagian dari proses belajar. (Humas-Sh)

×