News

Tingkatkan Kompetensi Mitigasi Bahaya Gerakan Tanah, Teknik Geofisika ITS Gelar Kuliah Tamu “Metode RMR, SMR, dan Q-Slope untuk Kestabilan Lereng Batuan”

Fri, 23 Oct 2026
10:31 am
Information
Share :
Oleh : dihein   |

SURABAYA, Teknik Geofisika ITS – Batuan terbentuk secara alami karena pembekuan magma baik di dalam bumi maupun dipermukaan, karena proses litifikasi hasil letusan gunung api , karena sedimentasi yang kemudian terlifikasi dan karena metamorphosis. Bersamaan dengan proses pembekuan, litifikasi dan metamorphosis ada yang diikuti retakan retakan, perlapisan dan foliasi yang menjadi cikal bakal bidang diskontnu primer. Lempeng tektonik yang terus bergerak menyebabkan batuan batuan tersebut terangkat, terlipatkan, tersesarkan, terkekarkan dan tersingkap di permukaan bumi menjadi cikal bakal bidang diskontinu sekunder. Bersamaan dengan itu terjadi proses eksogenik yang menyebabkan batuan batuan terlapukkan, tererosi, terlongsorkan, tertransportasi dan tersedimentasi.

Batuan di alam dalam mekanika batuan dan geologi teknik, dibedakan menjadi batuan masif dan batuan berdiskontinuitas merupakan dua kondisi struktur massa batuan yang memiliki karakteristik kekuatan dan perilaku mekanika yang sangat berbeda. Secara sederhana, perbedaannya terletak pada ada atau tidaknya bidang lemah (retakan) di dalam batuan tersebut. Batuan Masif (Intact Rock) adalah batuan yang utuh, padu, kontinu, dan tidak memiliki retakan atau bidang lemah terlihat. Perilaku mekanika bersifat isotropik (sifat fisik sama ke segala arah) dan homogen. Sedangkan batuan berdiskontinu merupakan batuan terpisah-pisah menjadi blok-blok akibat adanya bidang diskontinuitas. Bersifat anisotropik (kekuatan berbeda-beda tergantung arah bidang retakan).

Longsor batuan (rockfall atau rockslide) adalah salah satu jenis gerakan tanah di mana massa batuan lepas, pecah, atau runtuh secara cepat bergerak turun melintasi lereng curam atau tebing yang terjal. Umumnya proses ini terjadi karena ikatan antar batuan terputus akibat gaya gravitasi yang melebihi kekuatan mekanis lereng. Seperti disebutkan diatas keberdaan bidang diskontinuitas menyebabkan (1) penurunan kekuatan massa batuan karena memisahkan massa batuan yang utuh menjadi blok-blok terpisah sehingga mengurangi homogenitas dan ketahanan batuan, (2) sebagai bidang gelincir (Sliding Plane), bila orientasi bidang diskontinuitas mengarah ke luar lereng (lebih curam dari muka lereng atau searah dengan kemiringan lereng), blok batuan dapat meluncur dengan mudah akibat gaya gravitasi, (3) sabagai jalur masuk air hujan yang akan melapukkan bidan diskotinu dan akan meningkatkan tekanan air pori, menambah bobot massa batuan, dan melumasi bidang lemah tersebut.

Longsor batuan bisa dipicu antara lain : (1) pelepasan batuan akibat air yang masuk ke celah batuan (bidang diskontinu), perubahan suhu ekstrem (air berubah menjadi es), atau pertumbuhan akar tanaman memecahkan struktur batuan, (2) curah hujan tinggi sehingga akan menambah beban pada batuan sekaligus mengurangi gesekan di celah-celah lereng , (3) aktivitas gempa bumi akan memicu keretakan dan menggetarkan batuan yang sudah retak hingga runtuh, (4) aktivitas manusia memotong tebing untuk jalan raya, penambangan, atau penggalian yang mengganggu kestabilan lereng alam.

Berbagai metode dikembangkan untuk analisis kestabilan lereng batu, diantaranya menggunakan metode RMR (Rock Mass Rating) yang dikembangkan oleh Z.T. Bieniawski 1973 dan diperbaharui tahun1989 (RMR89) (Bieniawski, 1989). Metode ini merupakan salah satu pendekatan empiris paling populer dalam rekayasa geoteknik. Selanjutnaya Manuel Romana pada tahun 1985 mengembangkan adaptasi khusus untuk lereng batu yang dikenal sebagai SMR (Slope Mass Rating). Sedangakn metode Q-Slope adalah sistem klasifikasi empiris yang dikembangkan khusus untuk mengevaluasi dan menganalisis kestabilan lereng batuan. Metode ini diperkenalkan oleh Neil Bar dan Nick Barton pada tahun 2015 sebagai penyempurnaan dari Q-System klasik yang awalnya dirancang untuk terowongan dan konstruksi bawah tanah.

Mau tahu lebih banyak?

Departemen Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian (FTSPK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Metode RMR, SMR, dan Q-Slope untuk Kestabilan Lereng Batuan”.

Agenda ilmiah ini menghadirkan pakar geologi teknik dan kebencanaan dari Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Ibnu Rusydy, S.Si., M.Sc., yang merupakan dosen Program Studi Teknik Geologi USK.

Ketentuan Kehadiran Peserta:

Kuliah tamu ini dirancang untuk memperkuat capaian pembelajaran kurikulum serta dibuka luas bagi peminat kajian kebumian:

  • Wajib Program Sarjana (S1): Mahasiswa peserta mata kuliah Geofisika Bencana

  • Wajib Program Pascasarjana (S2): Seluruh Mahasiswa S2 Departemen Teknik Geofisika ITS

  • Peserta Umum

Jadwal dan Akses Pelaksanaan:

  • Hari, Tanggal: Jumat, 30 Oktober 2026

  • Waktu: Pukul 14.00 – 16.00 WIB

  • Media / Platform: Daring melalui Zoom Meeting

  • Tautan Akses: its.id/webinargeofisika

Penyelenggaraan kuliah tamu ini sekaligus menjadi wujud komitmen nyata Departemen Teknik Geofisika ITS dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas), melalui penyediaan ruang belajar bermutu, inklusif, serta relevan dengan tantangan mitigasi bencana di Indonesia.

Latest News

  • “Tim Homey” Mahasiswa Teknik Geofisika ITS Raih 2nd Runner Up di International Energy Summit 2026

    SURABAYA, Teknik Geofisika ITS – Prestasi membanggakan kembali dipersembahkan oleh mahasiswa Departemen Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan

    28 Oct 2026
  • Tingkatkan Budaya Keselamatan Kerja dan Standar Operasional Lingkungan Kampus, Departemen Teknik Geofisika ITS Gelar Kuliah Tamu “Safety Campus ISO 45001”

    SURABAYA, Teknik Geofisika ITS – Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) berstandar internasional menjadi elemen krusial dalam

    28 Oct 2026
  • Tingkatkan Kompetensi Mitigasi Bahaya Gerakan Tanah, Teknik Geofisika ITS Gelar Kuliah Tamu “Metode RMR, SMR, dan Q-Slope untuk Kestabilan Lereng Batuan”

    SURABAYA, Teknik Geofisika ITS – Batuan terbentuk secara alami karena pembekuan magma baik di dalam bumi maupun dipermukaan, karena proses

    23 Oct 2026