{"id":100089,"date":"2025-03-23T20:22:49","date_gmt":"2025-03-23T13:22:49","guid":{"rendered":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/?p=100089"},"modified":"2025-03-27T21:53:34","modified_gmt":"2025-03-27T14:53:34","slug":"memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/","title":{"rendered":"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_100091\" aria-describedby=\"caption-attachment-100091\" style=\"width: 732px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-100091\" src=\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1-300x169.jpg\" alt=\"Reformasi 1998 sebagai salah satu sejarah penting di Indonesia\" width=\"732\" height=\"412\" srcset=\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1-300x169.jpg 300w, https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1-355x200.jpg 355w, https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg 800w\" sizes=\"(max-width: 732px) 100vw, 732px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-100091\" class=\"wp-caption-text\">Reformasi 1998 sebagai salah satu sejarah penting di Indonesia (sumber: Pinterest)<\/figcaption><\/figure>\n<blockquote><p><b>Kampus ITS, Opini \u2014<\/b><span style=\"font-weight: 400\"> Mereka yang tak belajar dari sejarah akan mengulanginya kembali, setidaknya seperti itulah pandangan seorang filsuf asal Spanyol George Santayana. Kecepatan mengejar masa depan tak jarang menyulut perhatian mengenal kejadian di belakang. Hal tersebut bukan lantaran tidak ingin maju ke depan, tetapi realita menunjukkan bahwa adanya pola repetitif pada sejarah. <\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam situasi tertentu, pengambilan keputusan diri kita hingga para pemimpin kerap kali tak acuh dengan kejadian atau sejarah masa lalu. Hal tersebut menciptakan pengambilan keputusan yang kurang bijak secara berulang. Sehingga, untuk mengambil keputusan yang menyangkut dengan kepentingan jutaan orang, penggunaan sejarah sebagai salah satu rujukan sepatutnya menjadi sebuah keniscayaan, bukan keistimewaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sejarah\u00a0 sendiri, menurut Kuntowijo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah, merupakan sebuah rekonstruksi masa lalu. Selain itu, dijelaskan pula berbagai fungsi sejarah sebagai pendidikan kebijakan, pendidikan perubahan, pendidikan masa depan, hingga sejarah sebagai rujukan dan bentuk pembuktian. Artinya, dalam berbagai hal termasuk yang telah disebutkan, penting untuk menjadikan sejarah sebagai bahan pertimbangan sebuah keputusan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kendatipun sejarah secara konseptual tidak dapat terulang karena memiliki masa, tokoh, dan peristiwa tersendiri, tetapi perulangan yang dimaksud ialah pola fenomena atau nilai yang dibawa. Beberapa sejarawan, seperti William H Frederick, Karl Max, dan Oswald Spengler, juga mengungkapkan adanya pola pengulangan mengenai fenomena yang terjadi dalam sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sebagai contoh pengulangan pola fenomena tersebut adalah pada kejadian seperti keruntuhan sebuah peradaban hingga peperangan. Sebut saja bagaimana kemegahan Kekaisaran Romawi yang jatuh akibat adanya ekspansi besar-besaran serta pemerintahan yang semakin korup dan tidak efisien. Pola kejadian yang serupa dengan kisah tersebut terjadi pula ketika runtuhnya Uni Soviet pada 1991.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_100093\" aria-describedby=\"caption-attachment-100093\" style=\"width: 740px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-100093\" src=\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/fall-of-rome_2184860b-300x188.jpg\" alt=\"Keruntuhan Kekaisaran Romawi yang memiliki pola yang sama pada peristiwa di masa depan \" width=\"740\" height=\"464\" srcset=\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/fall-of-rome_2184860b-300x188.jpg 300w, https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/fall-of-rome_2184860b-355x222.jpg 355w, https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/fall-of-rome_2184860b.jpg 620w\" sizes=\"(max-width: 740px) 100vw, 740px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-100093\" class=\"wp-caption-text\">Keruntuhan Kekaisaran Romawi yang memiliki pola yang sama pada peristiwa di masa depan (sumber: History Collection)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Meskipun sejarah kini sering kali dikaitkan dengan salah satu mata pelajaran sekolah yang membuat siswa menguap dan mengantuk, tetapi kenyataannya sejarah hadir untuk semua insan yang masih hidup di dunia. Bukan hanya sebagai ilmu hafalan, melainkan sebagai sebuah pembelajaran kehidupan untuk mengambil keputusan yang lebih bijak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Oleh sebab itu, mempelajari dan mengenal sejarah merupakan sebuah keniscayaan, terlebih sejarah bangsa sendiri. Mempelajari sejarah bukan lagi kegiatan yang membosankan, melainkan proses pengambilan perspektif dan pelajaran agar tidak jatuh kembali di lubang kesalahan yang sama. Akhir kata, seperti pesan Soekarno, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><b>(*)<\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Ditulis oleh:<br \/>\n<\/b><b>Bella Ramadhani<br \/>\n<\/b><b>Departemen Teknik Lingkungan<br \/>\n<\/b><b>Angkatan 2024<br \/>\n<\/b><b>Reporter ITS Online<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kampus ITS, Opini \u2014 Mereka yang tak belajar dari sejarah akan mengulanginya kembali, setidaknya seperti itulah pandangan seorang filsuf asal Spanyol George Santayana. Kecepatan mengejar masa depan tak jarang menyulut perhatian mengenal kejadian di belakang. Hal tersebut bukan lantaran tidak ingin maju ke depan, tetapi realita menunjukkan bahwa adanya pola repetitif pada sejarah. Dalam situasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":465,"featured_media":100091,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[14,4,3669],"tags":[3548,1947],"class_list":["post-100089","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-utama","category-opini","category-quality-education","tag-ela","tag-feb"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.1.1 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam - ITS News<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Kampus ITS, Opini \u2014 Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan mengulanginya kembali, setidaknya itulah pandangan dari seorang filsuf asal Spanyol George Santayana. Kecepatan mengejar masa depan tak jarang menyulutkan perhatian untuk mengenal kejadian di belakang.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam - ITS News\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kampus ITS, Opini \u2014 Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan mengulanginya kembali, setidaknya itulah pandangan dari seorang filsuf asal Spanyol George Santayana. Kecepatan mengejar masa depan tak jarang menyulutkan perhatian untuk mengenal kejadian di belakang.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ITS News\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-03-23T13:22:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-03-27T14:53:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"450\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"itsela\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"itsela\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/\"},\"author\":{\"name\":\"itsela\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/person\/43e38fd221c86e4a2f46f212bf168d5d\"},\"headline\":\"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam\",\"datePublished\":\"2025-03-23T13:22:49+00:00\",\"dateModified\":\"2025-03-27T14:53:34+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/\"},\"wordCount\":404,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg\",\"keywords\":[\"ela\",\"feb\"],\"articleSection\":[\"Berita Utama\",\"Opini\",\"Quality Education\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/\",\"name\":\"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam - ITS News\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-03-23T13:22:49+00:00\",\"dateModified\":\"2025-03-27T14:53:34+00:00\",\"description\":\"Kampus ITS, Opini \u2014 Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan mengulanginya kembali, setidaknya itulah pandangan dari seorang filsuf asal Spanyol George Santayana. Kecepatan mengejar masa depan tak jarang menyulutkan perhatian untuk mengenal kejadian di belakang.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg\",\"width\":800,\"height\":450,\"caption\":\"Reformasi 1998 sebagai salah satu sejarah penting di Indonesia (sumber: Pinterest)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/en\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/\",\"name\":\"ITS News\",\"description\":\"Institut Teknologi Sepuluh Nopember\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#organization\",\"name\":\"ITS News\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/01\/LOGO-ITS.svg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/01\/LOGO-ITS.svg\",\"width\":98,\"height\":56,\"caption\":\"ITS News\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/person\/43e38fd221c86e4a2f46f212bf168d5d\",\"name\":\"itsela\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2e06ed71ac8e5a52df34a570473353bce7a608dc6721ac3099a39f247cd251d1?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2e06ed71ac8e5a52df34a570473353bce7a608dc6721ac3099a39f247cd251d1?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"itsela\"},\"url\":\"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/author\/itsela\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam - ITS News","description":"Kampus ITS, Opini \u2014 Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan mengulanginya kembali, setidaknya itulah pandangan dari seorang filsuf asal Spanyol George Santayana. Kecepatan mengejar masa depan tak jarang menyulutkan perhatian untuk mengenal kejadian di belakang.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam - ITS News","og_description":"Kampus ITS, Opini \u2014 Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan mengulanginya kembali, setidaknya itulah pandangan dari seorang filsuf asal Spanyol George Santayana. Kecepatan mengejar masa depan tak jarang menyulutkan perhatian untuk mengenal kejadian di belakang.","og_url":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/","og_site_name":"ITS News","article_published_time":"2025-03-23T13:22:49+00:00","article_modified_time":"2025-03-27T14:53:34+00:00","og_image":[{"width":800,"height":450,"url":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"itsela","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"itsela","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/"},"author":{"name":"itsela","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/person\/43e38fd221c86e4a2f46f212bf168d5d"},"headline":"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam","datePublished":"2025-03-23T13:22:49+00:00","dateModified":"2025-03-27T14:53:34+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/"},"wordCount":404,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg","keywords":["ela","feb"],"articleSection":["Berita Utama","Opini","Quality Education"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/","name":"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam - ITS News","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg","datePublished":"2025-03-23T13:22:49+00:00","dateModified":"2025-03-27T14:53:34+00:00","description":"Kampus ITS, Opini \u2014 Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan mengulanginya kembali, setidaknya itulah pandangan dari seorang filsuf asal Spanyol George Santayana. Kecepatan mengejar masa depan tak jarang menyulutkan perhatian untuk mengenal kejadian di belakang.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/03\/refor-1.jpg","width":800,"height":450,"caption":"Reformasi 1998 sebagai salah satu sejarah penting di Indonesia (sumber: Pinterest)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/memaknai-sejarah-lebih-dalam-menghindari-repetisi-masa-kelam\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memaknai Sejarah Lebih Dalam, Menghindari Repetisi Masa Kelam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#website","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/","name":"ITS News","description":"Institut Teknologi Sepuluh Nopember","publisher":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#organization","name":"ITS News","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/01\/LOGO-ITS.svg","contentUrl":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/01\/LOGO-ITS.svg","width":98,"height":56,"caption":"ITS News"},"image":{"@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/person\/43e38fd221c86e4a2f46f212bf168d5d","name":"itsela","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2e06ed71ac8e5a52df34a570473353bce7a608dc6721ac3099a39f247cd251d1?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2e06ed71ac8e5a52df34a570473353bce7a608dc6721ac3099a39f247cd251d1?s=96&d=mm&r=g","caption":"itsela"},"url":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/author\/itsela\/"}]}},"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100089","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/465"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100089"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100089\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100098,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100089\/revisions\/100098"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100091"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100089"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100089"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.its.ac.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100089"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}