Terbit pada
Selasa, 20 Oktober 2026

Kampus ITS, ITS News — Tim ahli Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menuntaskan peninjauan terhadap 350 dokumen Front-End Engineering Design (FEED) proyek Lapangan Gas Abadi, Blok Masela, yang dikelola INPEX. Hasil tinjauan tersebut dibahas dalam Final Workshop Independent Design Review yang berlangsung selama dua hari sejak 14 Oktober lalu di Jakarta.
Koordinator tim ahli ITS Prof Dr Ketut Buda Artana ST SMc menjelaskan bahwa peninjauan dokumen FEED ini bertujuan untuk menilai kesesuaian desain dengan kebutuhan proyek dan kesiapan konstruksi. Evaluasi ini mencakup rancangan dua fasilitas utama, yakni Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) di lepas pantai dan Onshore Liquefied Natural Gas (OLNG) di Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Dalam peninjauan tersebut, sebanyak 48 tenaga ahli yang tergabung dalam Tim Subject Matter Expert (SME) ITS ini tidak hanya memeriksa kelengkapan dokumen, tetapi juga memastikan keterkaitan rancangan dari berbagai bidang. Evaluasi desain meliputi aspek keselamatan, fungsi, kemudahan konstruksi, efektivitas teknis dan biaya, serta kepatuhan terhadap regulasi. “Setiap aspek desain perlu saling mendukung,” jelas Ketut.

Peninjauan dilakukan sesuai karakteristik masing-masing fasilitas. Pada FPSO, tim menelaah kekuatan struktur dan sistem keselamatan fasilitas lepas pantai. Sementara itu, evaluasi OLNG lebih berfokus pada keselamatan proses, tata letak fasilitas, serta akses operasional dan jalur darurat. Perbedaan fokus tersebut menuntut koordinasi antardisiplin agar desain dapat bekerja sebagai satu kesatuan.
Lebih lanjut, Ketut menerangkan bahwa koordinasi antardisiplin diperlukan untuk mengantisipasi potensi persoalan ketika rancangan dari berbagai bidang diintegrasikan. Pada fasilitas OLNG, misalnya, perencanaan akses jalan perlu mempertimbangkan kelancaran operasional, akses kendaraan darurat, keselamatan masyarakat, serta keberadaan jalur pipa dan area berbahaya. Karena itu, peninjauan melihat bagaimana setiap rancangan berinteraksi.
Lewat kolaborasi ahli dari enam fakultas dan 15 laboratorium, Tim SME ITS menelaah dokumen sesuai dengan bidang masing-masing untuk didiskusikan bersama. Persoalan yang memerlukan klarifikasi dibahas bersama pihak terkait, sedangkan temuan yang belum terselesaikan perlu dipantau hingga tahap Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) atau tahap rekayasa, pengadaan, konstruksi, dan instalasi.

Untuk memastikan proses tersebut berjalan terarah, dosen Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS itu menekankan pentingnya tindak lanjut dari setiap temuan. Setiap temuan perlu memiliki penanggung jawab dan target penyelesaian agar proses penanganannya dapat dipantau. “Konsistensi dalam menindaklanjuti temuan menjadi kunci keberhasilan tahap EPCI,” ujarnya.
Selain berkontribusi pada peninjauan desain, ITS turut mendukung perlindungan FPSO dan fasilitas bawah laut proyek melalui inovasi teknologi. Dalam rangkaian lokakarya tersebut, ITS menyerahkan perangkat Automatic Identification System ITS (AISITS) kepada Head of Abadi Project Acceleration Unit SKK Migas Ardian Boegi Sjofari dan Senior Manager FPSO, Abadi Masela Project INPEX Akira Sato.
Keterlibatan tenaga ahli ITS dalam peninjauan ini menunjukkan kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung industri energi melalui keahlian rekayasa dan kolaborasi lintas disiplin. Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9, yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. (*)
Reporter: Nadhifa Raghda Syaikha
Redaktur: A Rifda Yuni Artika