Terbit pada
Jumat, 18 September 2026

Kampus ITS, ITS News — Terus memperkuat kontribusi dalam sektor maritim nasional, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) hibahkan perangkat lunak iStow ke TNI Angkatan Laut, Jumat (18/9). Melalui KRI Surabaya 591, perangkat tersebut menawarkan fitur canggih untuk meningkatkan operasi penyimpanan kargo.
iStow merupakan perangkat lunak yang membantu perencanaan dan pengelolaan muatan pada kapal. Sistem ini mendukung perhitungan stabilitas kapal, kekuatan muatan, serta penataan muatan sesuai kebutuhan pelayaran.
Dekan Fakultas Teknologi Kelautan ITS Dr Ing Ir Setyo Nugroho menjelaskan bahwa hibah kali ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi dan keamanan operasional kapal perang. Pemanfaatan teknologi karya anak bangsa ini menjadi wujud kolaborasi jangka panjang guna mendorong kemandirian teknologi maritim nasional.

Pria yang akrab disapa Yoyok itu menekankan pentingnya penggunaan teknologi buatan dalam negeri yang tetap memenuhi standar internasional. Menurutnya, teknologi pertahanan membutuhkan keandalan sekaligus perlindungan kerahasiaan untuk menjaga kepentingan keamanan negara. “Kerja sama ini menjadi fondasi untuk membangun teknologi yang mandiri, bermutu tinggi, dan memenuhi standar internasional,” ujar Yoyok.
Dosen Transportasi Laut itu mengungkapkan bahwa sistem iStow dirancang untuk menghadapi kompleksitas muatan pada kapal. Kapal kini dapat membawa kendaraan, bahan kimia, hingga kendaraan berbasis baterai yang memiliki risiko kebakaran.
Kondisi itu menuntut penataan muatan yang tepat berdasarkan karakteristik dan tingkat risikonya. “Penempatan muatan yang baik dapat menekan angka risiko kecelakaan kapal, dan di sini iStow merupakan alat bantu yang efektif,” terang Yoyok selaku pengembang.
Penerapan teknologi ini dinilai relevan dengan karakteristik KRI Surabaya sebagai kapal angkut personel dan material militer. Komandan KRI Surabaya Letkol Laut (P) Alun Kurnianto, MTrOpsla menjelaskan fungsi tersebut berkaitan langsung dengan operasi kapal TNI AL.
Kehadiran aplikasi iStow, menurut Alun berperan penting dalam mendukung akurasi dan keselamatan bongkar muat kapal, termasuk kapal militer. Menurutnya, fungsi asasi kapal untuk pelayaran angkatan laut menuntut perhitungan stabilitas muatan yang sangat cermat.
Alun menerangkan bagaimana proses pemuatan juga berlangsung dalam situasi administratif maupun taktis selama pelaksanaan operasi. Seperti pada operasi amfibi, kapal harus bergerak menuju sasaran melalui kondisi laut yang tidak selalu tenang. “Karena itu, stabilitas kapal menjadi aspek penting dalam menentukan keamanan selama pelayaran,” terang Alun.

Lebih lanjut, Yoyok menjabarkan bahwa selain instalasi perangkat, kerja sama diperkuat dengan pelatihan bagi personel KRI Surabaya. Pelatihan ditujukan untuk memastikan para personel memahami pengoperasian iStow dan kaitannya dengan proses pemuatan kapal. “Dengan demikian, penerapan iStow tidak berhenti pada pemasangan sistem, tetapi berlanjut melalui peningkatan kapasitas pengguna,” terang alumni Delft University of Technology itu.
Kolaborasi ITS dan TNI AL mempertemukan pengembangan teknologi dengan kebutuhan pertahanan maritim, yang sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Terutama SDGs ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan terbukanya ruang pengembangan teknologi nasional yang semakin relevan dengan tantangan pelayaran modern. (*)