
Kampus ITS, ITS News — Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Seminar Nasional dan Sarasehan Operation Research Artificial Intelligence (ORAI) 2026. Dibawahi oleh Laboratorium Quantitative Modeling and Industrial Policy Analysis (QMIPA), kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, sejak 8 Juli Lalu.
Kepala DTSI Prof Dr Ir Mokh Suef MSc(Eng) menggarisbawahi pentingnya ORAI 2026 untuk mempertemukan pemikiran akademis dengan realitas kompleksitas industri. Menurutnya, diperlukan keputusan strategis yang cepat dan presisi di tengah kerentanan rantai pasok maritim. “Akademisi, praktisi, dan industri perlu dijembatani dalam pengembangan solusi berbasis operation research dan kecerdasan buatan,” terangnya.
Lebih dalam, lelaki yang akrab disapa Suef ini mengungkapkan bahwa pengambilan keputusan berbasis data saat ini memerlukan integrasi antara artificial intelligence (AI) dengan operation research (OR). Hal ini dikarenakan AI memiliki keunggulan dalam prediksi dan mengenali pola data. “Teknologi AI memerlukan OR sebagai jembatan utama untuk membuat keputusan yang optimal dan terukur di lapangan,” terangnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Head Of Operations di PT Indofood Sukses Makmur Tbk Soerjo Winarto menyoroti aplikasi praktis integrasi model optimisasi dan AI di lantai pabrik guna menghasilkan efisiensi riil pada alokasi sumber daya. “Penggabungan antara riset operasional dengan AI terbukti dapat memodernisasi cara industri menyelesaikan masalah optimasi bisnis,” ungkapnya.
Di sisi lain, Direktur Operasional dan Transformasi (COO/ CTO) PT ASDP Indonesia Ferry Rio Lasse memaparkan mengenai riset operasional, AI, dan teknik rekayasa dapat mengubah pengambilan keputusan maritim. Ia menguraikan bahwa pemanfaatan decision intelligence dapat diterapkan untuk optimalisasi rute pelayaran, waktu sandar kapal, serta biaya operasional secara signifikan.

Alumnus Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT) ITS tersebut berpendapat bahwa operasi penyeberangan di Indonesia bukan sekadar pelayaran kapal biasa, melainkan problem keputusan berskala nasional. “Dengan demikian, masa depan sektor maritim ditentukan dengan pihak yang mampu membuat keputusan terbaik,” tuturnya.
Perhelatan ORAI 2026 ini resmi mendeklarasikan berdirinya OR Society Indonesia sebagai organisasi profesi pertama di bidang Operations Research dan Decision Sciences. Kehadiran wadah lintas disiplin ini diharapkan mampu mempererat kolaborasi riset terapan antara perguruan tinggi dengan jajaran BUMN serta industri multinasional.

Penyelenggaraan ORAI 2026 beserta pembentukan OR Society Indonesia ini selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin kesembilan yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dan poin ke-17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Integrasi teknologi AI dan riset operasional dalam mengatasi disrupsi rantai pasok maritim menjadi langkah nyata dalam mendorong inovasi dan efisiensi industri modern. (*)
Reporter: Syifa Rahmadina
Redaktur: Aghnia Tias Salsabila