Juarai Kompetisi World Bank, Alumnus ITS Kembangkan Teknologi Tambak Cerdas - ITS News

Juarai Kompetisi World Bank, Alumnus ITS Kembangkan Teknologi Tambak Cerdas

Published on
By
Alumnus ITS sekaligus Founder dan CEO Crustea Indonesia Roikhanatun Nafi’ah saat presentasi dalam Event-WBG Youth Summit 2026

Kampus ITS, ITS News — Salah satu alumnus Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menorehkan prestasi global yang membanggakan melalui inovasi teknologi dalam sektor budidaya perikanan. Berangkat sebagai Founder dan CEO Crustea Indonesia, Roikhanatun Nafi’ah sukses meraih Juara 1 pada gelaran 13th World Bank Group Youth Summit di Washington DC, Amerika Serikat, belum lama ini.

Sosok yang akrab disapa Nafi’ tersebut menawarkan solusi budidaya perikanan cerdas untuk petambak kecil melalui Crustea Indonesia. Bersama dengan rekannya, Prisma Riashuda Prakosa yang merupakan alumnus Departemen Teknik Elektro ITS, keduanya kerap mendampingi petambak yang menghadapi gagal panen, keterbatasan listrik, dan tingginya biaya operasional. “Jadi kami membangun solusi dari masalah yang kami alami sendiri sebagai petambak,” tutur Nafi’.

Berdasarkan kondisi lapangan yang ada, Nafi’ menjelaskan bahwa rendah dan tidak stabilnya kadar oksigen terlarut kerap memicu kegagalan panen bagi para petambak. Selain itu, tingginya biaya operasional seperti listrik dan bahan bakar untuk pompa kerap menjadi dua masalah utama di pertambakan.

Alumnus ITS Roikhanatun Nafi’ah saat menerima penghargaan sebagai Juara 1 dalam 13th World Bank Group Youth Summit 2026 di Washington DC, Amerika Serikat

Berdasarkan dua masalah utama yang teridentifikasi, Crustea Indonesia kemudian memusatkan inovasi pada dua persoalan utama dengan satu solusi strategis. Dengan berbekal keilmuannya dalam bidang Teknik Industri, Nafi’ mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kualitas air sekaligus menekan biaya energi selama proses budidaya. “Untuk mengatasi masalah efisiensi dan produksi, Crustea Indonesia mengembangkan ekosistem budidaya berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) dan energi terbarukan,” terangnya.

Untuk peningkatan kualitas air, Nafi’ menawarkan solusi Eco-Aerator bertenaga surya yang menghasilkan oksigen lebih stabil dengan konsumsi energi lebih rendah. Teknologi ini juga mendukung petambak di wilayah tanpa akses listrik. “Aerator cerdas ramah lingkungan ini menghasilkan oksigen secara stabil dan lebih tinggi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik PLN maupun BBM,” ungkap Nafi’.

Lebih lanjut, Crustea Indonesia juga menghadirkan sistem AIoT untuk memantau dan mengendalikan kualitas air secara otomatis. Sistem tersebut mengukur kadar oksigen, suhu, pH, dan salinitas secara real-time. Ketika kadar oksigen turun, aerator akan menyala otomatis, dan begitu sebaliknya, sistem mematikan aerator saat kondisi kembali optimal sehingga penggunaan energi menjadi lebih efisien.

Gambaran ketiga produk teknologi inovasi milik Crustea Indonesia

Selain itu, perusahaan teknologi akuakultur ini juga mengembangkan sistem manajemen energi pintar yang memantau konsumsi listrik, pengendalian perangkat jarak jauh, serta memberikan peringatan dini jika terjadi gangguan. Menurut Nafi’, pengembangan teknologi terus diarahkan menuju AI precision farming agar keputusan budidaya semakin akurat. “Jadi kami menekankan bagaimana agar teknologi harus membantu petambak bekerja lebih efisien, bukan menambah beban mereka,” tegas Nafi’.

Sejak mulai dikomersialkan pada September 2022 lalu, ekosistem Crustea Indonesia berkembang pesat. Jumlah petambak yang didampingi meningkat dari tiga menjadi lebih dari seribu di berbagai daerah di Indonesia. “Namun target ini juga bertambah, kami tahun ini menyasarkan penambahan sebanyak 2.000 petambak baru untuk kami bantu,” ungkap alumnus S1 dan S2 Teknik Industri ITS ini optimistis.

Kemudian, sejalan dengan tujuan awalnya, pendampingan tidak berhenti pada penyediaan teknologi. Crustea Indonesia juga menyelenggarakan sekolah lapang tahan iklim, pelatihan adopsi teknologi, serta pemberdayaan perempuan di sektor budidaya. Sebab, solusi yang ditawarkan tidak terbatas pada penjualan perangkat, melainkan ekosistem hulu ke hilir yang inklusif.

Hasil implementasi teknologi yang diterapkan oleh Crustea Indonesia Indonesia menunjukkan dampak signifikan. Nafi’ menunjukkan bahwa persentase kematian ikan dan udang menurun hingga 50 persen, sedangkan biaya operasional turun hingga 80 persen bagi pengguna diesel. “Solusi yang kami tawarkan berhasil memberikan kontribusi lain, yakni mencegah emisi karbon hingga lebih dari 23 ribu ton karbon dioksida ekuivalen (23.000 ton CO₂e ),” bebernya bangga.

Roikhanatun Nafi’ah (kiri) bersama dengan tim Crustea Indonesia

Kini teknologi Crustea Indonesia telah digunakan di berbagai wilayah Indonesia. Secara global, Crustea Indonesia juga telah mulai membangun kerja sama dan melakukan ekspansi adopsi teknologi ke beberapa negara seperti Afrika, Filipina, India, serta beberapa negara lainnya. “Ekspansi global ini merupakan bagian dari cita-cita Crustea Indonesia Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan dunia yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” tutur Nafi’.

Bagi Nafi’, penghargaan internasional tersebut menjadi pengakuan atas potensi inovasi yang dimiliki oleh Indonesia. Ia berharap teknologi yang lahir dari kebutuhan petambak Indonesia mampu memperkuat ketahanan pangan global sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Hal ini juga sejalan dengan tiga pilar ITS sebagai almamaternya, yakni ITS yang tangguh, berdampak, dan mendunia.

Capaian dan inovasi yang digagas oleh dua alumni ITS ini turut mendukung capaian dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama SDGs poin ke-2 tentang Kehidupan tanpa Kelaparan, poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, serta poin ke-14 dengan optimalisasi Ekosistem Laut. (HUMAS ITS)

 

Reporter: Syifa Rahmadina

×