
Tulungagung, ITS News – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata Pengabdian kepada Masyarakat (KKN Abmas). Kali ini, sebanyak 26 mahasiswa ITS berkontribusi meningkatkan aksesibilitas dan keamanan kawasan wisata religi Glamping Podo Rukun, Pondok Pesantren Al Khoiriyah, Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur pada 12-19 Juli 2026.
Program yang melibatkan 25 mahasiswa dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS serta satu mahasiswa dari Departemen Teknik Kimia ITS ini berada di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Prof Diah Susanti ST MT PhD. Kegiatan difokuskan pada pembangunan infrastruktur penunjang wisata berupa penambahan anak tangga menuju puncak bukit, pemasangan lampu penerangan, serta railing pengaman di sepanjang jalur pendakian. “Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan sekaligus keselamatan pengunjung kawasan wisata religi Bukit Podo Rukun,” tutur Diah.
Ketua Tim KKN Abmas ITS Muhammad Rizal Abdul Aziz menjelaskan bahwa program tersebut telah dipersiapkan secara matang selama kurang lebih dua bulan sebelum direalisasikan. Tahapan persiapan meliputi survei lokasi, diskusi bersama pihak pondok pesantren, penyusunan desain, hingga pengadaan material yang diperlukan. “Program ini juga merupakan kelanjutan dari kegiatan KKN ITS di Pondok Pesantren Al Khoiriyah yang telah berlangsung sejak 2021 lalu,” ungkap mahasiswa Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS asal Tulungagung tersebut.

Aziz menambahkan, proses pembangunan dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan mahasiswa, tukang lokal, pengelola pondok pesantren, serta masyarakat sekitar. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menyelesaikan pembangunan fasilitas yang dibutuhkan kawasan wisata. Fokus utamanya adalah menambah jumlah anak tangga agar akses menuju puncak lebih mudah dan aman. “Selain itu, kami juga memasang lampu penerangan di beberapa titik strategis serta railing pengaman untuk meningkatkan keselamatan pengunjung,” jelasnya.
Bagi para mahasiswa, kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah penerapan ilmu di lapangan, tetapi juga menghadirkan pengalaman berharga dalam membangun kerja sama dengan masyarakat. Salah seorang peserta KKN Abmas, Haris Rahman Darari, mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
Ia mengaku, KKN ini memberikannya pengalaman bekerja sama dengan sesama mahasiswa maupun masyarakat sekitar untuk membangun tangga di kawasan bukit. “Saya juga belajar mengaduk semen, tinggal bersama di lokasi, hingga menikmati keindahan panorama Tulungagung dari puncak bukit,” tuturnya bersyukur.

Dalam pelaksanaannya, tim KKN Abmas ini menghadapi tantangan berupa proses pengangkutan material menuju lokasi pembangunan yang berada di kawasan perbukitan. Meski demikian, semangat gotong royong antara mahasiswa dan masyarakat membuat seluruh rangkaian pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik.
Keberadaan infrastruktur baru tersebut diharapkan mampu mendukung pengembangan Bukit Podo Rukun sebagai destinasi wisata religi yang lebih representatif. Selain meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung, pengembangan kawasan wisata juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar melalui munculnya berbagai peluang usaha baru.
Melalui program KKN Abmas ini, ITS kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan rekayasa bagi masyarakat. Di sisi lain, mahasiswa memperoleh pengalaman nyata dalam mengimplementasikan kompetensi akademik untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Program ini sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan potensi wisata lokal yang berdampak pada ekonomi masyarakat.
Selain itu, juga terkait dengan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pembangunan infrastruktur pendukung yang aman dan berkelanjutan, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui peningkatan aksesibilitas kawasan wisata berbasis masyarakat. (*)