Terbit pada
Senin, 19 Oktober 2026

Surabaya, ITS News – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkolaborasi dengan SMPN 22 Surabaya untuk mengembangkan kawasan sekolah yang lebih ramah lingkungan melalui pembangunan greenhouse, pembuatan mural edukatif, serta pemanfaatan sampah plastik menjadi elemen identitas taman sekolah. Program ini menjadi bagian dari upaya mendukung kesiapan SMPN 22 Surabaya menuju predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat (Abmas) ITS 2026 bertajuk Perancangan Branding Kawasan Sekolah Adiwiyata Nasional untuk Peningkatan Kesadaran Hidup Ramah Lingkungan. Melalui pendekatan desain lingkungan, program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan fasilitas fisik, tetapi juga pada penguatan identitas visual sekolah dan peningkatan kesadaran warga sekolah terhadap pentingnya pelestarian lingkungan.
Ketua Tim Abmas, Rabendra Yudistira Alamin, menjelaskan bahwa program tahun ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya di tingkat sekolah dasar. Pada 2026, pendampingan diperluas ke jenjang sekolah menengah pertama dengan memilih SMPN 22 Surabaya sebagai mitra.”Tujuannya untuk mengedukasi pihak sekolah dan masyarakat supaya lebih semangat dan termotivasi untuk bergerak di bidang lingkungan hidup,” kata Rabendra.
Tim beranggotakan dosen Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) ITS, yaitu: Rabendra Yudistira Alamin, Putri Dwitasari, Octaviyanti Dwi Wahyurini, Nugrahardi Ramadhani, Didit Prasetyo, Kartika Kusuma Wardani, dan Wisnu Wijaya. Selain itu, tim mendapat dukungan dari tim mahasiswa DKV ITS yang beranggotakan: Azidan Zulhaq, Alifiah Sya’siyatul I, Emir Abdullah, Dionisius R, Bagas Winih F P, Muhammad Vendy A, Maulana Arvin A, Anindyahayu P, Syannafa Hilda R, I Made Dwi Rendragraha M, dan Natan Sekti Aji.
Sebelum menentukan bentuk pengembangan, tim ITS melakukan diskusi dan survei untuk memetakan potensi serta kebutuhan sekolah. Hasilnya menunjukkan bahwa SMPN 22 Surabaya telah memiliki sejumlah fasilitas pendukung pendidikan lingkungan, seperti kolam lele, rumah jamur, bak kompos, dan taman sekolah. Berbagai fasilitas tersebut kemudian menjadi dasar untuk merancang pengembangan kawasan yang lebih terpadu.

Salah satu hasil pengembangan tersebut adalah pembangunan greenhouse di area hijau sekolah. Fasilitas ini dirancang untuk memperluas ruang pembelajaran berbasis tanaman, mulai dari kegiatan pengembangan hingga perawatan tanaman. Dengan fasilitas yang lebih memadai, siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman belajar lingkungan secara lebih optimal.
Kepala SMPN 22 Surabaya, Ismy Latifaty, menyambut positif dukungan ITS tersebut. Ia menilai program ini sejalan dengan upaya sekolah yang telah meraih predikat Adiwiyata Nasional dan kini tengah mempersiapkan diri untuk menuju Adiwiyata Mandiri. “Perencanaan branding kawasan Adiwiyata ini merupakan gayung bersambut karena melengkapi kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh SMPN 22 Surabaya,” ujar Ismy.
Ia menambahkan bahwa pengembangan greenhouse memberikan manfaat nyata bagi kegiatan pembelajaran di sekolah. Area greenhouse yang sebelumnya relatif kecil kini menjadi jauh lebih luas berkat dukungan program ITS. Menurutnya, Greenhouse yang semula lahannya kecil menjadi jauh lebih besar dengan adanya bantuan dari ITS. “Ini akan membuat anak-anak bisa mewujudkan edukasi dalam bidang lingkungan, khususnya untuk tanaman yang akan dikembangkan di greenhouse,” jelasnya.

Selain pengembangan fasilitas tanaman, program ini juga mengangkat potensi pengolahan sampah plastik yang telah dilakukan oleh para siswa. Persediaan ecobrick hasil pengumpulan dan pemanfaatan sampah plastik di sekolah digunakan kembali sebagai material pembuatan totem atau penanda identitas taman bertuliskan “I Love Dapuda”. Dapuda merupakan sebutan yang digunakan untuk SMPN 22 Surabaya.
Pemanfaatan ecobrick tersebut menjadi salah satu upaya untuk memberikan nilai guna pada sampah plastik sekaligus memperkuat karakter dan identitas visual kawasan sekolah. Dengan demikian, edukasi mengenai pengelolaan sampah dapat disampaikan melalui elemen visual yang hadir langsung di lingkungan sehari-hari siswa.

Penguatan identitas kawasan juga diwujudkan melalui pembuatan mural bertema lingkungan hidup di tiga lokasi, yakni tembok gedung hijau di area kebun, tembok gedung putih di area kantin, serta bagian dalam greenhouse. Kehadiran mural di sejumlah titik strategis ini diharapkan dapat menjadikan pesan kepedulian lingkungan lebih mudah dijumpai dan dipahami oleh warga sekolah.

Proses pengerjaan mural melibatkan tim mahasiswa DKV ITS yang berkolaborasi dengan siswa SMPN 22 Surabaya. Kolaborasi ini sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas dan bakat seni rupa melalui pengalaman berkarya bersama mahasiswa perguruan tinggi.
“Anak-anak bisa mewujudkan bakatnya dalam bidang seni, khususnya seni rupa. Mereka ikut bergabung bersama mahasiswa ITS untuk membuat mural. Ini merupakan wadah bagi mereka untuk berekspresi dan bereksplorasi,” ungkap Ismy.
Bagi mahasiswa yang terlibat, kegiatan ini juga menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat. Rabendra menjelaskan bahwa mahasiswa peserta program berkesempatan mengonversi kegiatan tersebut ke mata kuliah pada semester berikutnya.
Persiapan program telah dilakukan sejak Agustus 2026 melalui serangkaian diskusi dengan pihak sekolah, survei lokasi, penentuan titik pengerjaan, serta persiapan sarana dan prasarana. Adapun pengerjaan mural berlangsung selama lima hari, mulai Senin (5/10).
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, ITS dan SMPN 22 Surabaya berupaya membangun lingkungan sekolah yang tidak hanya lebih tertata dan menarik secara visual, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran lingkungan yang berkelanjutan. Integrasi greenhouse, mural edukatif, dan pemanfaatan ecobrick diharapkan dapat memperkuat budaya peduli lingkungan sekaligus mendukung langkah sekolah menuju Adiwiyata Mandiri. Hal ini juga selaras dengan Sustainable Development Goals terutama poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Ismy berharap pengembangan kawasan ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi seluruh warga sekolah, baik melalui optimalisasi fasilitas pembelajaran maupun sosialisasi perilaku ramah lingkungan dalam aktivitas sehari-hari. (*)