
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) semakin menunjukkan daya tariknya sebagai perguruan tinggi pilihan bagi mahasiswa internasional. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan orientasi mahasiswa internasional penerima berbagai skema beasiswa di ITS yang digelar di Ruang Sidang Senat lantai 1 Gedung Rektorat ITS, Kamis (10/9).
Pada tahun ajaran ini, ITS menerima sebanyak 26 mahasiswa penerima Full Degree Scholarship, yang terdiri atas tujuh penerima Global Excellence Scholarship, lima penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), 13 penerima The Indonesian AID Scholarship (TIAS), dan satu penerima ITS Postgraduate Scholarship. Sementara itu, pada skema Non-Degree Scholarship, ITS menerima tiga mahasiswa penerima Beasiswa Darmasiswa.
Kegiatan orientasi menjadi bagian dari upaya ITS dalam memperkenalkan lingkungan akademik, fasilitas, serta kehidupan kampus kepada mahasiswa dari berbagai negara. Kehadiran mahasiswa internasional nantinya juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa ITS untuk membangun interaksi dan pertukaran pengalaman dengan mahasiswa global.

Salah satu mahasiswa penerima beasiswa Global Excellence Scholarship, Aisha Hanif dari Pakistan, memilih Program Doktor Kimia di ITS. Aisha mengaku telah mencari informasi mengenai ITS sebelum memutuskan melanjutkan pendidikan di kampus tersebut. “Saya menemukan bahwa ITS memiliki banyak fasilitas laboratorium yang lengkap dan bagus,” ujarnya.
Kesan positif juga dirasakan Aisha ketika kali pertama berada di lingkungan Kampus ITS. Menurutnya, banyaknya pepohonan di dalam kampus membuat suasana terasa lebih sejuk. “Saya tidak sabar untuk segera memulai perkuliahan dan menjalani pengalaman akademik di ITS,” ungkapnya antusias.
Sementara itu, penerima beasiswa KNB, Habibullah Muradi dari Afghanistan memilih Program Magister Teknik Lingkungan. Ia tertarik melanjutkan studi di ITS karena mendengar reputasi profesor. “Saya mendengar ITS memiliki banyak profesor yang kompeten, itulah yang membuat saya tidak sabar untuk segera dibimbing oleh para profesor yang hebat,” tutur Habibullah.

Menurutnya, pilihan terhadap bidang Teknik Lingkungan juga didorong oleh keinginan untuk mempelajari keilmuan yang dinilai penting bagi kebutuhan negaranya. Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di ITS dapat menjadi bekal untuk berkontribusi terhadap perkembangan di negaranya setelah menyelesaikan studi.
Bagi ITS, keberadaan mahasiswa dari berbagai negara turut memperkaya atmosfer akademik melalui pertemuan beragam perspektif dan budaya. Interaksi tersebut diharapkan dapat mendorong terbentuknya jejaring internasional yang mendukung pengembangan wawasan mahasiswa selama berada di lingkungan kampus.
Kehadiran mahasiswa internasional tersebut semakin memperkuat peran ITS sebagai ruang pembelajaran global yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang negara dan keilmuan. Lingkungan akademik yang inklusif ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dalam memperluas akses terhadap perguruan tinggi yang mendukung pembelajaran lintas negara. (*)
Reporter: Restu Aisyah Rizki Permatasari