Terbit pada
Minggu, 20 September 2026

Kampus ITS, ITS News — Proses pembakaran pada pembuatan bata konvensional menghasilkan emisi gas rumah kaca dan polutan udara yang mengancam lingkungan dan kesehatan. Sebagai alternatif, tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan bata tanpa bakar sebagai alternatif material konstruksi ramah lingkungan, Jumat (18/9).
Ketua tim Abmas Departemen Teknik Infrastruktur Sipil (DTIS) ITS Khansa Fadilah Ashara STrT MT menjelaskan bahwa produk bata tersebut dibuat dari campuran tanah liat, pasir, semen, dan akselerator. Berbeda dengan bata konvensional yang memerlukan proses pembakaran, bata ini mengeras melalui reaksi hidrasi semen pada suhu ruang. “Akselerator berperan untuk mempercepat reaksi hidrasi semen,” tambahnya.

Selain itu, penambahan akselerator juga membantu meningkatkan kekuatan awal bata. Alumnus S2 Teknik Sipil ITS itu menjelaskan, hasil pengujian menunjukan bata tanpa bakar ini memiliki kuat tekan 5,03 megapaskal pada umur 28 hari. Nilai tersebut melampaui batas kuat tekan minimum 5 megapaskal untuk bata kelas 50 berdasarkan SNI 15-2094-2000. “Bata ini juga memiliki daya serap air sebesar 3,30 persen, di bawah batas maksimum 20 persen,” jelasnya.
Dari sisi biaya, tim abmas juga telah melakukan kajian menggunakan parameter Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Kota Surabaya 2024. Hasil perhitungan menunjukkan biaya produksi bata tanpa bakar berkisar Rp587 hingga Rp869 per unit, sedangkan harga bata konvensional sekitar Rp842 per unit. “Bata tanpa bakar ini berpotensi menjadi pilihan alternatif dari bata konvensional,” jelas Khansa.
Perempuan berkerudung tersebut melanjutkan, pengembangan bata tanpa bakar juga disertai kegiatan demonstrasi dan pendampingan kepada mitra produsen di Laboratorium Beton DTIS ITS. Dalam kegiatan tersebut, tim abmas ITS memperkenalkan tahapan pembuatan hingga pemasangan bata. Guna menjaga kualitas, tim abmas ITS juga menyusun empat standar operasional prosedur (SOP) yang mencakup proses pembuatan, produksi, pascaproduksi, dan pemasangan.

Direktur Utama PT Smart Tech 2007 Dani Susanto ST selaku mitra produsen berharap inovasi bata tanpa bakar dapat terus dikembangkan sebagai alternatif material konstruksi ramah lingkungan. Menurutnya, penerapan bata tanpa bakar perlu mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan agar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pengembangan dan pendampingan produksi bata tanpa bakar ini menjadi salah satu upaya ITS dalam mendorong penerapan hasil pengembangan teknologi kepada masyarakat. Kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dan SDG ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (*)
Reporter : Aulia Okta Wijaya
Redaktur : Khaila Bening Amanda Putri