ITS Gelar Pelatihan Lembaga Keuangan yang Inklusif

Terbit pada

Senin, 12 Oktober 2026

 

Peserta pelatihan yang bertajuk Breaking Attitudinal Barriers, Inclusive Banking for Persons with Disabilities yang terdiri atas Kelompok Disabilitas, Pegawai Lembaga Keuangan, serta Akademisi
Peserta pelatihan yang bertajuk Breaking Attitudinal Barriers, Inclusive Banking for Persons with Disabilities yang terdiri atas Kelompok Disabilitas, Pegawai Lembaga Keuangan, serta Akademisi

Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam pemenuhan hak, kesempatan, perlindungan, serta mengawal layanan ekonomi merata bagi seluruh lapisan masyarakat. ITS melalui Departemen Manajemen Bisnis menyelenggarakan pelatihan yang bertajuk Breaking Attitudinal Barriers, Inclusive Banking for Persons with Disabilities, Senin (12/10).

Kepala Departemen Manajemen Bisnis ITS Berto Mulia Wibawa SPi MM PhD menjelaskan, pelatihan ini menekankan kolaborasi antara penyedia layanan keuangan dan penyandang disabilitas. Dengan demikian, nantinya para peserta yang terlibat mampu memfasilitasi perubahan pola pikir dan menghilangkan hambatan sikap terhadap penyandang disabilitas. 

Kepala Departemen Manajemen Bisnis ITS Berto Mulia Wibawa SPi MM PhD sampaikan sambutannya dalam Pelatihan Lembaga Keuangan yang Inklusif
Kepala Departemen Manajemen Bisnis ITS Berto Mulia Wibawa SPi MM PhD sampaikan sambutannya dalam Pelatihan Lembaga Keuangan yang Inklusif

Menurut Berto, layanan inklusif bagi kelompok rentan, khususnya penyandang disabilitas harus didukung dengan kesadaran dan empati pegawai di berbagai sektor, khususnya lembaga keuangan. “Sebab, fasilitas fisik dan teknologi yang ramah disabilitas tidak dapat sepenuhnya menjamin layanan yang inklusif,” tutur Berto. 

Hingga kini, sikap kaku, kecanggungan, dan stereotip petugas saat berhadapan dengan kaum disabilitas kerap menghambat akses penyandang terhadap layanan keuangan. Karena itu, pelatihan ini mendorong peserta membangun layanan yang menghormati kesetaraan hak dan kesempatan. 

Lebih penting lagi, Berto menekankan bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar konsumen layanan keuangan. Banyak dari mereka yang mengelola usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. 

Terungkap pula bahwa wirausahawan penyandang disabilitas merupakan nasabah bank yang sangat setia. Namun, terlepas dari kontribusi dan potensi ekonomi mereka yang signifikan, penyandang disabilitas terus menghadapi hambatan dalam mengakses layanan keuangan.

Menyikapi celah tersebut, Berto menjelaskan bahwa pelatihan ini mengutamakan kolaborasi melalui pengerjaan proyek bersama. Peserta dari lembaga keuangan berinteraksi langsung dengan komunitas disabilitas untuk memahami pengalaman dan kebutuhan mereka. Bagi lembaga keuangan, hal ini bukan hanya merupakan tantangan eksklusi, tetapi juga peluang bisnis yang signifikan.

Perwakilan dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) berpartisipasi dalam pelatihan lembaga keuangan yang inklusif bagi kelompok disabilitas
Perwakilan dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) berpartisipasi dalam pelatihan lembaga keuangan yang inklusif bagi kelompok disabilitas

Dengan demikian, peserta dari perbankan hingga pemerintah, serta komunitas dapat bersama-sama merespons dan mencari solusi agar layanan dapat lebih memadai. “Ketika inklusivitas tercapai, maka semua orang akan mendapatkan hak dan kesempatan yang sama tanpa ada golongan yang terabaikan,” papar Berto.

Dalam pelaksanaan di ITS, peserta mempelajari empat tema utama selama empat hari. Materi meliputi perubahan pola pikir, komunikasi aksesibel termasuk bahasa isyarat, hak disabilitas dan tanggung jawab perbankan, serta keterampilan fasilitasi pelatihan.

Untuk memastikan keberlanjutan dari pelatihan ini, Manajemen Bisnis ITS selaku rumah penyelenggara akan melakukan tindak lanjut (follow up) kepada para peserta pada hari ke-30, ke-60, dan ke-90 setelah acara selesai. Evaluasi berkala ini bertujuan untuk memantau penerapan perubahan atau kemudahan baru yang disediakan oleh lembaga terkait dalam rangka meningkatkan aksesibilitas bagi golongan disabilitas. 

Melalui program ini, ITS mendorong pergeseran pendekatan belas kasihan menuju pemenuhan hak penyandang disabilitas. Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-10 tentang Berkurangnya Kesenjangan.

 

Reporter: Syifa Rahmadina

×