ITS dan Kementrans Pulihkan Akses Air Bersih di Belu, NTT

Terbit pada

Senin, 26 Oktober 2026

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 24 ITS saat sedang melakukan pemasangan pipa HDPE di Belu, NTT

Belu, ITS News – Kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Kementerian Transmigrasi (Kementrans) RI lewat program Ekspedisi Patriot berhasil merevitalisasi jaringan air bersih di Desa Dafala, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 24 ITS, perbaikan infrastruktur yang dilakukan bersama masyarakat selama hampir tiga bulan ini meningkatkan kelancaran aliran air bagi 59 kepala keluarga (KK) di Dusun Sanabibi, kawasan transmigrasi Tasifeto Mandeu.

Selama pelaksanaan program, tim yang dipimpin oleh Prof Ir IDAA Warmadewanthi ST MT PhD bersama warga melakukan perbaikan menyeluruh terhadap jaringan air yang sebelumnya mengalami kebocoran dan penurunan debit aliran. Penanganan tidak hanya berfokus pada penggantian pipa yang rusak, tetapi juga mencakup penguatan infrastruktur dari sumber air hingga fasilitas penampungan di rumah warga.

Sebelum revitalisasi dilakukan, kebocoran pada sejumlah titik jaringan menyebabkan pengisian bak penampungan membutuhkan waktu relatif lama. Kondisi tersebut mendorong TEP 24 ITS untuk melakukan survei lapangan guna mengidentifikasi kerusakan dan menentukan prioritas penanganan sesuai kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan hasil survei, tim bersama warga memperbaiki kawasan mata air, membenahi bangunan penangkap mata air atau broncapt, serta membangun tanggul penahan untuk melindungi area sumber air. Perbaikan juga mencakup jaringan pipa high-density polyethylene (HDPE) sepanjang kurang lebih 3 kilometer, termasuk penanganan titik kebocoran dan penyambungan pipa galvanis pada bagian yang memerlukan perlindungan tambahan.

Untuk menjaga kontinuitas distribusi air pada jalur yang melintasi sungai, tim turut membangun jembatan penyangga menggunakan sistem sling sebagai penopang pipa. Struktur ini dirancang untuk membantu melindungi jaringan dari potensi gangguan akibat kondisi medan dan lingkungan.

Revitalisasi kemudian dilengkapi dengan perbaikan kran hidran umum serta pengadaan 59 unit penampung air bagi rumah tangga penerima manfaat. Dengan penanganan terintegrasi tersebut, perbaikan mencakup seluruh tahapan distribusi, mulai dari sumber air, jaringan perpipaan, hingga fasilitas penampungan di rumah warga.

Tim lapangan TEP 24 ITS Ipung Wisnu menjelaskan bahwa penanganan jaringan dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Menurutnya, survei awal menjadi dasar untuk menentukan titik kerusakan sekaligus mengantisipasi gangguan berulang pada infrastruktur. “Perbaikan ini berangkat dari kebutuhan masyarakat dan kondisi aktual jaringan di lapangan,” sebutnya.

Sebelum pekerjaan dimulai, lanjut Ipung, timnya melakukan survei untuk mengidentifikasi titik kebocoran serta bagian jaringan yang rawan mengalami kerusakan. “Karena itu, penanganannya tidak hanya memperbaiki pipa yang bocor, tetapi juga memberikan perlindungan tambahan pada titik-titik tertentu, termasuk menggunakan pipa galvanis dan membangun penyangga pipa di area penyeberangan sungai,” jelasnya.

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 24 ITS ketika sedang melakukan konstruksi jembatan penyangga sling

Hasil revitalisasi ini pun mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Kepala Dusun Buburlaka, Oktoviana, menyampaikan bahwa perbaikan jaringan membantu mempercepat pengisian bak penampungan air warga. Sebelum perbaikan, pengisian satu bak penampungan dapat memerlukan waktu hampir satu jam atau lebih. Setelah jaringan direvitalisasi, menurutnya, waktu pengisian berkurang menjadi sekitar 30–40 menit. “Karena itu, saya ucapkan terima kasih pada Kementrans yang dalam hal ini dipandu oleh Prof Warma dan tim,” ungkap Oktoviana.

Perubahan tersebut menunjukkan adanya perbaikan operasional pada layanan air bersih yang dirasakan warga. Jika dibandingkan dengan patokan waktu 60 menit, pengisian bak kini berlangsung sekitar 20–30 menit lebih cepat. Meski demikian, besarnya peningkatan kinerja dapat berbeda bergantung pada kapasitas bak, debit aliran, dan kondisi awal jaringan di setiap titik.

Lebih dari sekadar hasil teknis, program ini juga menempatkan partisipasi masyarakat sebagai bagian penting dalam pembangunan infrastruktur. Warga terlibat langsung dalam pekerjaan lapangan melalui semangat gotong royong, sedangkan tim ITS melakukan identifikasi dan penanganan kerusakan berdasarkan hasil survei. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kondisi jaringan air sekaligus mendorong tanggung jawab bersama dalam menjaga infrastruktur yang telah diperbaiki.

Revitalisasi jaringan air bersih di Desa Dafala memperlihatkan bahwa peningkatan layanan dasar tidak selalu harus dilakukan dengan membangun sistem baru secara keseluruhan. Pemulihan infrastruktur yang telah tersedia melalui survei, perbaikan terarah, dan penguatan titik rawan kerusakan dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan keandalan distribusi air.

Bagi masyarakat kawasan transmigrasi Tasifeto Mandeu, perbaikan ini diharapkan mendukung pemenuhan kebutuhan rumah tangga sehari-hari sekaligus memperkuat infrastruktur dasar di wilayah tersebut. Manfaat jangka panjangnya tetap memerlukan pemeliharaan rutin, pemantauan kebocoran, serta perlindungan sumber air dan jaringan distribusi.

Melalui kolaborasi ITS, Kementerian Transmigrasi, dan masyarakat setempat, program Ekspedisi Patriot menjadi wujud kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan pembangunan di kawasan transmigrasi. Upaya ini sekaligus memperkuat komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam memperluas akses air bersih yang layak dan mendorong pembangunan infrastruktur yang tangguh serta berkelanjutan.

Program ini menjadi langkah nyata dalam mendukung SDGs, khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui peningkatan akses dan keandalan layanan air bersih bagi masyarakat. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan infrastruktur dasar serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. (*)

×