Terbit pada
Kamis, 5 November 2026

Kampus ITS, Opini — Diperingati setiap 5 November, Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional rasanya sekadar berupa penanda lembar penanggalan tanpa makna yang nyata. Puspa dan satwa langka memang dielu-elukan dalam berbagai seremoni dan dijadikan simbol kebanggaan. Ironisnya, rumah tempat mereka berpijak justru terus luluh lantak akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kekhawatiran ini bukan sekadar keresahan tanpa dasar. Dilansir dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas karhutla di Indonesia sepanjang tahun 2023 saja telah menembus angka 1,16 juta hektare. Angka tersebut mencerminkan hilangnya jutaan hektare ruang hidup satwa liar secara mendadak. Satwa langka seperti orangutan, harimau sumatera, hingga gajah kehilangan tempat bernaung hanya dalam hitungan hari.
Bagi satwa liar, kebakaran bukan hanya ancaman panas kobaran api, melainkan teror yang melumpuhkan kemampuan navigasi alami mereka. Asap tebal seketika menutupi pandangan serta mematikan indra penciuman yang selama ini menjadi kompas bertahan hidup. Kebingungan massal pun terjadi, memicu kepanikan luar biasa di antara kawanan satwa yang terkurung kepungan kabut beracun.

Insting bertahan hidup hewan kerap berujung jalan buntu saat kobaran api mengepung dari segala penjuru mata angin. Satwa kecil tak sempat lari dan mati terpanggang di sarang tanah, sementara mamalia besar terdesak hingga ke pinggiran hutan. Tak heran, pascakebakaran sering muncul kabar satwa masuk ke pemukiman warga demi mencari makan, memicu konflik sosial baru yang kerap berakhir tragis bagi sang hewan.
Kondisi tumbuhan di lantai hutan pun mengalami nasib yang tak kalah memilukan. Vegetasi hutan hujan tropis dan rawa gambut kita pada dasarnya tidak memiliki pertahanan biologis untuk menahan panas api yang ekstrem. Ketika lapisan gambut terbakar, bara api bisa menyala berminggu-minggu di bawah permukaan, memanggang perakaran pohon tua hingga tumbang satu demi satu.
Tragedi ini memutus siklus peremajaan hutan secara total karena cadangan benih alami di dalam tanah turut hangus menjadi abu. Hilangnya satwa penabur biji seperti burung dan primata membuat pohon-pohon endemik kehilangan perantara untuk berkembang biak kembali. Bekas lahan yang terbakar akhirnya mati suri dan mudah terinvasi semak belukar liar yang sulit dipulihkan menjadi hutan lebat.

Di tengah situasi genting tersebut, seremoni tahunan kerap terasa berjarak dari realitas kelam di lapangan. Mengagungkan puspa dan satwa di atas spanduk/poster tidak menyelesaikan akar masalah jika penegakan hukum terhadap perusak hutan masih tumpul. Penyelamatan keanekaragaman hayati butuh aksi nyata di tingkat tapak, bukan sekadar basa-basi seremonial belaka.
Menyayangi kekayaan alam negeri ini menuntut komitmen tegas dalam menjaga kelestariannya. Sudah saatnya publik dan pembuat kebijakan bersatu padu melindungi tanah tempat mereka berpijak dari ancaman keserakahan manusia. Sebab, mencintai puspa dan satwa berarti menjaga rumah tinggal mereka, bukan sekadar meratapi kepunahannya saat habitat mereka telah rata menjadi abu. (*)
Ditulis Oleh:
Dinda Fithriyyah
Departemen Kimia
Angkatan 2025