
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus mendukung terwujudnya layanan yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas. Merealisasikan upaya tersebut, ITS berkolaborasi dengan Asia Human Development Center (AHDC) Jepang dan Pijar Foundation menggelar forum diskusi guna membahas peningkatan kualitas layanan disabilitas pada Jumat (7/8).
Wakil Rektor III Bidang Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Teknologi Sistem Informasi ITS Imam Baihaqi ST MSc PhD menyampaikan bahwa kesempatan ini mampu memperkuat upaya Kampus Pahlawan dalam mewujudkan komitmennya. Adapun salah satu komitmen tersebut adalah penyusunan kebijakan yang mendukung layanan disabilitas. “Momentum ini penting mengingat penyusunan pelayanan disabilitas saat ini masih pada tahap awal,” tuturnya.
Imam menambahkan, komitmen ini direalisasikan ITS lewat partisipasi dalam program KRISAN Fellowship yang diselenggarakan oleh Pijar Foundation. Melalui program itu, ITS menyusun rencana aksi bertajuk ITS Inclusive Campus Readiness 2027 yang diinisiasi oleh Sekretaris Ketua Tim Penyiapan Layanan Disabilitas ITS Dr Any Werdhiastutie ST MSi bersama perwakilan Tim Penyiapan Layanan Disabilitas Sri Lestari SST.

Program tersebut, lanjut Imam, akan dilaksanakan melalui delapan kegiatan sepanjang 2027. Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan kick off meeting dan penyamaan persepsi pimpinan ITS. Selanjutnya, ITS akan menyusun tata kelola dan standar operasional prosedur (SOP) layanan mahasiswa disabilitas serta mengadakan pelatihan pendidikan inklusif bagi dosen dan tenaga kependidikan.
Lebih lanjut, asesmen kondisi awal dilakukan untuk mengetahui kesiapan sumber daya manusia (SDM), kurikulum, maupun fasilitas di masing-masing departemen ITS. Hasil asesmen tersebut kemudian menjadi dasar untuk memetakan tingkat kesiapan setiap departemen sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperkuat. Nantinya, masing-masing departemen akan memperoleh rekomendasi sebagai acuan dalam mempersiapkan dan mengembangkan layanan disabilitas sesuai dengan kebutuhannya.
Dosen Departemen Manajemen Bisnis ITS tersebut turut menambahkan bahwa program ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk berpartisipasi melalui audit aksesibilitas fisik dan digital. Tak hanya itu, nantinya perwakilan mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan ITS akan mengikuti focus group discussion (FGD) untuk merumuskan mekanisme dukungan sebaya. “Rangkaian kegiatan akan melalui proses monitoring, evaluasi, dan diseminasi hasil pada akhir periode,” jelasnya.

Selaras dengan Imam, CEO ADHC Prof Hisao Chiba menambahkan bahwa ITS merupakan salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang terpilih untuk berkolaborasi mengembangkan unit layanan disabilitas. Ia menyebut bahwa pemerataan akses akademik menjadi kunci suksesnya pengembangan dari program ini. “Harapannya, program KRISAN Fellowship bisa menciptakan praktik layanan yang efektif,” tegasnya.
Melalui forum diskusi ini, ITS berkesempatan memperoleh pembelajaran langsung dari AHDC Jepang dan Pijar Foundation terkait best practices sistem layanan disabilitas yang diterapkan di perguruan tinggi di Jepang. Selain itu, kedua lembaga tersebut pun memberikan masukan terhadap action plan yang akan dilaksanakan tahun mendatang sekaligus memperkuat jejaring nasional dan internasional dalam pengembangan pendidikan tinggi yang inklusif.
Realisasi program ini membuktikan bahwa ITS mempertegas komitmennya dalam menghadirkan akses pendidikan yang adil dan setara bagi seluruh sivitas akademikanya. Langkah itu menjadi upaya dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang ramah bagi penyandang disabilitas. Kerja sama tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan tujuan ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (*)
Reporter: Mohammad Fariz Irwansyah
Redaktur: Andra Eka Wijayanti