News

Singapore, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) has strengthened its global standing through a series of strategic engagements in Singapore and Batam, uniting alumni, industry leaders, and international partners to advance its 2021–2045 World Class University vision and foster impactful collaborations in innovation, talent development, and global competitiveness In pursuit of its 2021–2045 […]

Latest News
Bicara soal kemajuan bangsa, tak dapat ditampik jika generasi muda ikut berkontribusi dalam membangun peradaban. Tak mesti hanya ditopang oleh nilai akademis semata, kontribusi bisa datang dari mana saja. Tak melulu tentang menjadi juara pertama dalam sebuah olimpiade, ataupun lulus dengan nilai cum laude lantas bekerja di instansi ternama berposisi tinggi. Generasi kita tidak semonoton itu. Kaku sekali rasanya jika kesuksesan seseorang selalu disandingkan dengan angka-angka yang tertera di lembaran rapor.
Perjalanan menapaki lantai dasar Perpustakaan Pusat ITS kala itu agaknya menyemangati saya untuk berfikir pada satu hal, revolusi mental. Pikiran yang sejatinya sudah ada sejak lama dan terpendam dalam benak ini.
Sebagai anak muda yang lahir di pangkuan ibu pertiwi, pasti kita menerka dan meramal akan jadi apa Indonesia di masa depan. Tidak ada maksud menjatuhkan atau mengarah pada suatu lembaga. Bagi saya, opini adalah hak seseorang mengekspresikan pendapatnya baik bersifat membangun atau tidak.
Tahun 2015 kemarin, pada tanggal 21 Oktober peringatan film Back to The Future II sempat viral di internet. Film itu memperlihatkan atau bisa dikatakan memprediksi tren teknologi apa saja yang hadir di masa depan (tahun 2015) dilihat dari tahun 1989, tahun dimana film Back to The Future dirilis. Menurut Back to The Future, pada tahun 2015, era modern, akan hadir teknologi antara lain seperti hoverboard, mobil terbang, TV layar datar, 3D hologram, dan self-lacing shoes. Kita ketahui, beberapa teknologi tersebut telah hadir di era modern, kecuali mobil terbang dan hoverboard.
Hari Peduli Sampah  Nasional (HPSN )mulai diperingati sejak 2005 lalu. Berlatar belakang peristiwa longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Jawa Barat, HPSN diperingati setiap tanggal 21 Februari. Peringatan yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Linkungan Hidup dan Kehutanan, (KLHK), Tuti Hendrawati Mintarsih ini mulai dilakukan tiap tahunnya. Lalu, apa yang dapat dilakukan mahasiswa ITS dalam memperingatinya?
1...8182838485...211
Trending

Kampus ITS, Opini — Indonesia patut berbangga dengan statusnya sebagai negara kepulauan. Alih-alih menjadi batasan, selat dan laut bukanlah pemisah antara satu pulau dengan yang lain. Lebih dari itu, dibalik terwujudnya negara kesatuan dengan wilayah laut yang luas ini, ada perjuangan diplomasi yang harus selalu diingat, yaitu Deklarasi Djuanda. Deklarasi Djuanda yang dilaksanakan pada 13 Desember […]

Kampus ITS, Opini – Peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) yang telah terjadi 56 tahun silam masih terus menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, baru 20 tahun setelah masyarakat Indonesia berjuang mati-matian, DN Aidit dan pengikutnya yang tergabung dalam PKI melakukan pemberontakan. Hal ini dilakukan untuk merubah ideologi Bangsa Indonesia, […]

Jelajahi Cerita Inspiratif ITS

Temukan inovasi, penelitian terkini, dan kisah sukses sivitas akademika ITS dalam setiap edisi majalah kami.

Latest Videos
×