Ketiga guru besar tersebut adalah dari Jurusan Teknik Elektro Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT dan Prof Ir Mochamad Ashari MEng PhD yang merupakan ahli bidang kelistrikan, serta dari Jurusan Fisika FMIPA Prof Dr Bagus Jaya Santosa sebagai ahli seismologi dalam bidang geofisika.
Adi Soeprijanto, Bagus Jaya Santosa dan Mochamad Ashari masing-masing dikukuhkan sebagai guru besar ITS yang ke-84, 85, dan 86. Dalam sambutan pengukuhannya, Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD menyampaikan, bahwa dengan penambahan tiga guru besar ini diharapkan ITS bisa menjadi perguruan tinggi yang semakin diperhitungkan di level internasional.
Rektor yang kerap disapa Probo ini juga berharap ketiga guru besar tersebut bisa bersama-sama pemerintah provinsi mengembangkan potensi alam Jawa Timur, terutama panas buminya. “Pak Ashari membuat sistem pembangkit dan transmisinya, Pak Adi mengontrol efisiensinya, sementara Pak Bagus mengukur kandungan panas buminya. Itu sebagai wujud sumbangsih ITS untuk masyarakat,†ungkapnya.
Dalam orasinya, Mochamad Ashari yang juga Ketua Jurusan (Kajur) Teknik Elektro menyampaikan pidato ilmiah berjudul Aplikasi Prospek Pengembangan Elektronika Daya untuk Sektor Energi, Industri, dan Transportasi. Ashari menjelaskan, mendesaknya penggunaan teknologi untuk reneweble energy, terutama yang memanfaatkan energi angin dan matahari.
Menurut Ashari, potensi energi angin dan matahari di Indonesia sangat besar. Ini bisa dimanfaatkan dengan membangun pembangkit listrik skala rumah dengan memasang kincir angin dan solar sel. “Dengan demikian diharapkan akan mampu membantu memenuhi kebutuhan listrik di masyarakat,†ujarnya.
Sedangkan Adi Soeprijanto menyampaikan orasi ilmiah berjudul Desain Sistem Monitoring dan Kendali Terpadu untuk Mengoptimalkan Operasi Sistem Tenaga Listrik, Sebuah Upaya Membangun Kemandirian. Dalam orasinya, Adi mengembangkan sebuah software untuk sistem kontrol produksi listrik. Software tersebut bisa memantau generator atau pembangkit yang kelebihan beban dan memberikan instruksi kepada operator di lapangan. Selain itu, juga bisa memantau transmisi listrik dalam skala besar. “Yang kita kontrol nantinya yang dalam skala besar, missal satu pulau atau antar pulau,†jelas Adi.
Adi mengatakan selama ini software yang digunakan masih buatan luar negeri, dan harganya mahal. â€Software yang kita buat ini lebih sederhana dan bisa menggabungkan dengan software yang berasal dari luar,†tuturnya. Selain itu, lanjut Adi, software ini juga bekerja untuk memantau efisiensi, sehingga bisa menjadikan biaya produksi listrik menjadi lebih murah.
Sementara itu, Bagus Jaya Santosa berorasi ilmiah dengan judul Kritik Atas Model Bumi Melalui Analisa Seismogram Tiga Komponen Simultan. Riset yang dikembangkannya mampu membuktikan fakta-fakta baru mengenai model bumi. Bagus menyampaikan selama ini penelitian seismografi kebanyakan hanya menggunakan gejala horisontal, atau pergeseran ke samping.
Sementara metode yang ia kembangkan menggunakan seismogram tiga dimensi secara berkesinambungan, yang akan memberikan data lebih teliti terkait kondisi dari lapisan yang ada di bumi. “Dengan metode ini kita bisa memprediksi lokasi yang kemungkinan akan terjadi gempa, dan bisa memprediksikan lebih teliti kemungkinan terjadinya tsunami karena gempa, dan ini lebih baik dari BMKG,†jelas Bagus. (ims/nda)
Jombang, ITS News — Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Kampus ITS, ITS News — Tim dari mahasiswa Departemen Teknik Biomedik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menghadirkan inovasi
Kampus ITS, ITS News – Bukan sekadar sebagai pemandu wisata, pelajar di Kecamatan Tosari, Probolinggo kini disiapkan menjadi duta
Kampus ITS, ITS News — Untuk lebih mengenalkan diri ke masyarakat luas, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggelar kegiatan