ITS News

Minggu, 18 Januari 2026
05 Desember 2015, 07:12

Ini Resiko yang Dihadapi Pemburu Migas

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Pada kuliah tamu ini, ITS sengaja mengundang langsung anggota Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Muhammad Taufik Andrianto. Dalam pemaparannya, ia menegaskan ladang yang saat ini dinikmati Indonesia merupakan hasil dari penemuan 25 tahun yang lalu.

Sebelum memulai pemaparan lebih mendalam, Taufik sengaja mengingatkan kembali sejarah ditemukannya migas di Indonesia kepada para peserta. "Pertama kali ditemukan tahun 1885 di Sumatra Utara. Sejak saat itu, eksplorasi migas di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat drastis di tahun 1977 dan 1995 dengan produksi mencapai 1,7 juta barrel per hari," jelasnya.

Lebih lanjut, Taufik juga menerangkan mengenai tiga tahapan penting dalam Industri hulu migas. Tiga tahapan penting tersebut adalah tahap eksplorasi, pengembangan, dan produksi.

Alumni Geofisika ITB ini mengungkapkan, butuh waktu sekitar sepuluh tahun dalam tahap eksplorasi. Pada tahap ini, dilakukan pengamatan geologi dan geofisika suatu tempat yang diperkirakan terdapat minyak dan gas. Survei dan uji seismik dilakukan untuk mengetahui kondisi lapisan tanah.

Ia mengungkapkan industri hulu bisa dibilang mahal karena butuh biaya yang besar serta beresiko tinggi. Bahkan untuk melakukan pengeboran biasanya memerlukan waktu pengamatan yang cukup lama. "Bayangkan saja, sekali mengebor perusahaan harus merogoh kocek sebesar 200 juta dolar Amerika," tukasnya.  

Tidak menutup kemungkinan pula perusahaan merugi jika salah memprediksi tempat pemboran. Taufik menerangkan di tahun 2014 Indonesia telah melakukan 83 pengeboran. Namun, jumlah rata – rata penemuan persumur relatif rendah dibandingkan negara – negara Asia Tenggara Lainnya.

Mirisnya, nilai success rate Indonesia berada di bawah nilai success rate regional. Dari data-data tersebut Taufik akhirnya mendorong peserta yang saat itu didominasi oleh mahasiswa Jurusan Teknik Geofisika untuk terus meningkatkan keahliannya. "Succes rate Indonesia harus meningkat pada generasi kalian," tegasnya. 

Selain bercerita tentang proses eksplorasi minyak dan gas, Adrianto juga mengungkapkan keluh kesahnya terhadap menjalani perijinan pada daerah-daerah yang akan di eksplorasi. "Saat ini otonomi daerah itu mempersulit kami, ampun deh, bener-bener kaya dewa," kelakarnya. (bal/pus)

Berita Terkait