Terbit pada
Rabu, 4 November 2026

Surabaya, ITS News – Ketergantungan pada listrik konvensional untuk mengoperasikan pompa sirkulasi menjadi tantangan bagi pengelola Kampung Hidroponik di Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Selain kebutuhan energi, pemantauan kualitas air dan nutrisi tanaman juga memerlukan dukungan teknologi agar perawatan dapat dilakukan secara lebih terukur. Menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat (Abmas) Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengimplementasikan sistem hidroponik NFT otonom dengan monitoring energi berbasis PLTS hybrid dan IoT.
Program yang diketuai oleh Yurid Eka Nugraha ST MEng PhD ini mengusung integrasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hybrid dan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendukung pengelolaan hidroponik berbasis masyarakat. Inovasi tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan listrik konvensional sekaligus membantu warga memantau kondisi air yang menunjang pertumbuhan tanaman.
Kampung Hidroponik Medokan Ayu dikelola secara swadaya oleh warga dengan keterlibatan kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Pompa air pada sistem hidroponik membutuhkan pasokan listrik untuk menjaga sirkulasi larutan nutrisi. Sementara itu, berdasarkan identifikasi kebutuhan dalam proposal, pengecekan tingkat keasaman dan kepekatan nutrisi air belum dilakukan secara terukur. Kondisi ini menjadi dasar pengembangan sistem yang memadukan penyediaan energi dengan pemantauan kualitas air.
Sistem PLTS hybrid yang direncanakan memanfaatkan panel surya serta baterai sebagai media penyimpanan energi. Integrasi tersebut dirancang untuk mendukung kebutuhan daya pompa sirkulasi hidroponik dan perangkat pemantauan. Energi yang tersimpan dalam baterai diharapkan dapat membantu menjaga keberlangsungan operasional ketika sinar matahari terbatas.
Pada sisi pemantauan, sistem dilengkapi dengan sensor untuk membaca tingkat keasaman atau pH, kepekatan zat terlarut sebagai indikator nutrisi, suhu, serta debit air. Data pembacaan sensor diolah melalui mikrokontroler dan ditampilkan secara langsung pada layar pemantauan. Informasi ini diharapkan memudahkan pengelola mengenali perubahan kondisi air serta menentukan tindakan perawatan secara lebih tepat.

Pelaksanaan program dirancang dengan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan. Warga berpartisipasi dalam penentuan lokasi pemasangan panel surya, penempatan baterai, serta penyesuaian perangkat dengan kondisi instalasi hidroponik. Keterlibatan tersebut bertujuan agar teknologi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan pengelola sekaligus membangun rasa kepemilikan terhadap perangkat.
Selain pemasangan dan pengujian sistem, tim Abmas ITS juga merencanakan pelatihan pengoperasian serta pemeliharaan bagi mitra. Materi pendampingan meliputi cara membaca indikator perangkat, membersihkan panel surya, memahami informasi kualitas air, dan menangani kendala operasional dasar. Buku panduan praktis turut disiapkan sebagai acuan agar warga dapat melakukan perawatan secara mandiri.
Melalui program ini, tim menargetkan pengurangan biaya listrik operasional sistem hidroponik hingga 50 persen. Pencapaian target tersebut akan dievaluasi melalui pengukuran kinerja sistem dan biaya operasional. Penghematan yang dihasilkan diharapkan dapat membuka ruang bagi pengelola untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, menyediakan bibit, maupun mengembangkan instalasi hidroponik.
Pengembangan hidroponik berbasis energi surya dan IoT ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian masyarakat dalam mengelola pertanian perkotaan. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau serta poin ke-11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. (*)