Terbit pada
Rabu, 4 November 2026

Mojokerto, ITS News – Ketepatan pemupukan dan serangan hama menjadi tantangan yang kerap dihadapi petani dalam menjaga produktivitas pertanian. Menjawab persoalan tersebut, Departemen Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan dua inovasi teknologi tepat guna berupa alat pemantau kesuburan tanah berbasis Internet of Things (IoT) dan lampu pengendali hama bertenaga surya bagi petani di Dusun Pacet Utara, Kabupaten Mojokerto.
Inovasi yang dikembangkan tim dosen dan mahasiswa Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Berbasis Produk ITS Tahun 2026. Dipimpin oleh Dr Susilo Indrawati MSi, program tersebut berupaya menghadirkan solusi teknologi berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam mendukung pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian tim ITS adalah praktik pemupukan yang masih mengandalkan pengalaman dan intuisi. Padahal, setiap lahan memiliki karakteristik kandungan unsur hara yang berbeda. Kondisi tersebut membuat petani membutuhkan informasi yang lebih terukur agar pemberian pupuk bisa sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Untuk menjawab tantangan itu, tim ITS mengembangkan perangkat portabel yang mampu memantau kandungan nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), serta tingkat keasaman (pH) tanah. Perangkat ini mengintegrasikan sensor NPK dan pH dengan mikrokontroler ESP32 serta teknologi IoT. Hasil pengukuran nantinya dapat dipantau melalui perangkat digital, termasuk telepon pintar. “Melalui teknologi ini, kami ingin membantu petani memperoleh informasi kondisi tanah secara lebih terukur sehingga ke depan pemupukan dapat dilakukan sesuai kebutuhan tanaman, lebih efisien, dan tetap menjaga kesuburan tanah,” jelas Susilo.
Menariknya, perangkat tersebut turut dilengkapi dengan panel surya dan baterai sebagai sumber energi alternatif. Pemanfaatan energi matahari ini menjadi solusi atas keterbatasan akses listrik di area persawahan sehingga alat dapat digunakan secara lebih fleksibel di lahan pertanian.
Tidak berhenti pada persoalan kesuburan tanah, interaksi tim ITS dengan petani juga mengungkap tantangan lain, yakni serangan hama pada tanaman bawang merah. Petani mengeluhkan kemunculan serangga berwarna putih yang dapat menyerang tanaman dalam waktu singkat. Serangan tersebut bahkan berpotensi menyebabkan umbi bawang merah menjadi kopong dan merugikan hasil panen.
Menanggapi keluhan tersebut, tim ITS mengembangkan inovasi tambahan berupa lampu pengendali hama berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sistem ini memanfaatkan energi matahari yang disimpan dalam baterai untuk menyalakan lampu pada malam hari. Pengembangannya mempertimbangkan pemanfaatan cahaya sebagai salah satu metode alternatif pengendalian hama serangga di lahan pertanian.

Prawoto, salah satu perwakilan petani di Pacet, menyambut baik upaya ITS dalam menghadirkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Menurutnya, informasi mengenai kandungan unsur hara tanah akan membantu petani menentukan pemupukan secara lebih tepat. Terlebih, keterbatasan akses listrik di tengah sawah selama ini menjadi salah satu kendala dalam pemanfaatan perangkat elektronik.
Ia berharap inovasi tersebut dapat membantu petani menghadapi persoalan pertanian sehari-hari, mulai dari pemupukan hingga gangguan hama. Kehadiran dosen dan mahasiswa ITS juga dinilai memberikan kesempatan bagi petani untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru dalam mengembangkan praktik pertanian.
Di sisi lain, program ini turut menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa ITS yang terlibat melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa berpartisipasi dalam berbagai tahapan pengembangan teknologi, mulai dari perakitan sistem PLTS, kalibrasi sensor NPK dan pH, pemrograman mikrokontroler, hingga integrasi sistem IoT. Keterlibatan tersebut memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu perkuliahan dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Pengembangan teknologi telah berlangsung sejak Juni 2026 melalui koordinasi tim, pengambilan sampel tanah, perakitan perangkat, serta pengujian sensor. Selanjutnya, tim ITS menyiapkan proses transfer teknologi kepada petani melalui pengenalan perangkat, demonstrasi penggunaan, dan pendampingan dalam membaca hasil pengukuran.
Efektivitas perangkat dalam mengoptimalkan pemupukan maupun membantu mengendalikan serangan hama masih memerlukan pengujian dan pemantauan lebih lanjut di lahan pertanian. Oleh karena itu, tim ITS juga merencanakan penyempurnaan teknologi serta pendampingan penggunaan secara berkelanjutan. Pemanfaatan perangkat secara bersama melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) diharapkan dapat menjaga keberlanjutan program setelah kegiatan pengabdian selesai.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, ITS terus mendorong hilirisasi ilmu pengetahuan dan teknologi agar memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Upaya ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-2 tentang Tanpa Kelaparan dan poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. (*)