Sepuluh Nopember dan Keberanian yang Belum Terwariskan

Terbit pada

Rabu, 4 November 2026

Oleh
itsnor
6

Ilustrasi pertempuran sepuluh November (sumber: Antara News, Didik Suhartono)
Ilustrasi pertempuran sepuluh November (sumber: Antara News, Didik Suhartono)

Kampus ITS, Opini — Setiap tanggal sepuluh November, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) rutin berziarah ke Taman Makam Pahlawan Mayjen Sungkono. Tradisi tersebut layak dihargai sebagai upaya menjaga ingatan atas pengorbanan para pahlawan. Kendati begitu, cukupkah sekadar mengenang bagi kampus yang menyandang nama pertempuran itu?

Untuk menjawabnya, kita perlu memisahkan dua sikap, yaitu mengenang dan meneruskan. Mengenang berarti menoleh ke masa lalu melalui penghormatan, doa, juga upaya merawat ingatan, sedangkan meneruskan berarti menghidupkan nilai yang sama di tengah persoalan masa kini. Meski keduanya saling melengkapi, tetapi hanya meneruskan yang menuntut keberanian untuk bersikap.

Mahasiswa ITS melakukan tabur bunga di pusara para pahlawan yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Mayjen Sungkono
Mahasiswa ITS melakukan tabur bunga di pusara para pahlawan yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Mayjen Sungkono

Menilik ke belakang, keberanian itulah yang melahirkan Pertempuran 10 November 1945. Setelah pimpinan pasukan Inggris Aubertin Walter Sothern Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945, rakyat Surabaya memilih menolak ultimatum penyerahan senjata meski menyadari besarnya risiko. Tanggal pertempuran tersebut kemudian dikenang sebagai hari bersejarah setelah ditetapkan sebagai Hari Pahlawan lewat Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

Warisan terpenting dari peristiwa tersebut ialah keberanian untuk tidak bungkam kala dihadapkan dengan ketidakadilan. Nilai ini terasa begitu dekat sebab tanggal sepuluh November juga menjadi hari lahir sekaligus identitas ITS. Nama sebesar itu membawa ekspektasi agar mahasiswanya tidak hanya diukur lewat prestasi lomba, melainkan juga keberanian bersuara ketika publik membutuhkan.

Ironisnya, keberanian tersebut belum banyak terlihat dari sikap mahasiswa Kampus Pahlawan ini. Pada aksi unjuk rasa Rabu (28/10), Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) mengusung Lima Perintah Rakyat, mulai dari penetapan status bencana nasional untuk kebakaran hutan dan lahan hingga penurunan biaya pendidikan. Sejumlah lembaga mahasiswa dari UI, ITB, UGM, Undip, UB, Unnes, dan Unair hadir, tanpa nama ITS di dalamnya.

Kecenderungan serupa tampak pada aksi di Gedung Negara Grahadi, 17 Juni lalu. Media mencatat kehadiran Unair, Unesa, UPN Veteran Jatim, hingga Universitas Muhammadiyah Surabaya, sementara ITS absen dari daftar. Mahasiswa ITS baru menggelar mimbar bebas 2 hari setelahnya, di trotoar depan gerbang kampus.

Suasana gelaran mimbar bebas oleh BEM ITS
Suasana gelaran mimbar bebas oleh BEM ITS

Tentu dua aksi terbaru belum cukup mewakili keseluruhan mahasiswa ITS, tetapi pola yang berulang perlu direfleksikan bersama. Kita tekun mengenang keberanian para pendahulu di pusara, sementara cenderung menghindarinya ketika persoalan rakyat hari ini membutuhkan suara. Ketika keberanian hanya dikenang, bukan dilanjutkan, pada titik inilah makna nama Sepuluh Nopember perlahan memudar.

Pada akhirnya, mengenang dan meneruskan tidak perlu dipertentangkan. Taburan bunga di pusara pahlawan akan jauh lebih bermakna bila disertai tekad melanjutkan keberanian mereka hari ini. Dengan begitu, nama Sepuluh Nopember tidak hanya terpampang di gerbang kampus, tetapi juga terinternalisasi dalam sikap para mahasiswanya. (*)

 

Ditulis oleh:
Naurah Fitri
Mahasiswa Kampus Pahlawan

×