TEP ITS Bantu Nelayan Momiwaren Tingkatkan Nilai Jual Hasil Tangkapan

Terbit pada

Kamis, 29 Oktober 2026

Anggota TEP 18 ITS saat menggali informasi ke para nelayan terkait permasalahan yang dihadapi di Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Papua Barat

Momiwaren, ITS News — Melimpahnya hasil tangkapan ikan belum tentu menjamin pendapatan nelayan yang stabil. Melihat potensi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 18 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengenalkan pengolahan ikan segar menjadi ikan asap untuk meningkatkan nilai jual hasil tangkapan nelayan di Kampung Demini dan Dembek, Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Papua Barat.

Tim yang terdiri atas lima personel dan diketuai oleh Arwi Yudhi Koswara ST MT dari Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITS ini menjalankan program kerja pengembangan ekonomi, yakni dengan mengolah potensi perikanan lokal menjadi produk yang lebih awet dan bernilai jual lebih tinggi. Selama ini, nelayan setempat cenderung menjual ikan dalam kondisi segar tanpa pengolahan lebih lanjut.

Hasil tangkapan ikan di wilayah tersebut juga bergantung pada kondisi cuaca dan angin, sehingga masyarakat tidak dapat melaut sepanjang tahun. Ketika kondisi tidak memungkinkan untuk menangkap ikan, masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan beralih menjadi pekebun. Namun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi turut menghambat aktivitas berkebun, sehingga masyarakat kehilangan sumber penghasilan dari kedua sektor tersebut.

Untuk menjawab tantangan itu, TEP 18 ITS mengadakan pelatihan pembuatan ikan asap bekerja sama dengan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Ambon. Pelatihan ini mencakup tahapan pengolahan ikan, pengemasan, hingga pemasaran produk. Melalui pengolahan tersebut, ikan asap dapat dijual dengan harga Rp 25 ribu–30 ribu per 250 gram. “Harga ini membuka peluang peningkatan pendapatan nelayan dibandingkan dengan penjualan ikan segar yang dalam kondisi normal mencapai Rp 50 ribu untuk 1–1,5 kilogram,” ungkap Arwi.

Tim dari TEP 18 ITS saat menemui para nelayan di Kampung Demini dan Dembek untuk berkoordinasi terkait pelatihan pengolahan hasil tangkapan ikan

Selain pelatihan, tim turut menyediakan peralatan pengasapan yang dirancang sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Masing-masing kampung menerima satu oven gas, sehingga Kampung Demini dan Dembek memiliki fasilitas pengolahan ikan asap sendiri. Oven tersebut tidak memerlukan listrik dan menggunakan larutan asap cair untuk membantu proses pengasapan.

Teknologi pada oven tersebut dirancang agar asap tidak menggumpal dan proses pengasapan cukup dilakukan setiap dua jam sekali. “Penggunaan larutan asap cair juga ditujukan untuk mengurangi kadar senyawa karsinogenik pada produk dibandingkan metode pengasapan konvensional,” jelas Arwi.

Untuk mendukung penyimpanan produk, tim juga memberikan alat penyegel vakum (vacuum sealer). Peralatan ini membantu pengemasan ikan asap agar lebih praktis dan mendukung pemasaran produk. Program pengembangan ekonomi ini, TEP 18 ITS mendorong masyarakat Kampung Demini dan Dembek untuk mengembangkan hasil perikanan menjadi produk olahan yang memiliki daya simpan dan nilai jual lebih tinggi.

Upaya yang dilakukan TEP 18 ITS ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Utamanya pada poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya melalui penguatan peluang usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat berbasis potensi lokal. (*)

 

Reporter: Restu Aisyah Rizki Permatasari

×