Terbit pada
Selasa, 27 Oktober 2026

Belu, ITS News – Menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai sejak usia dini melalui aksi nyata. Semangat tersebut diwujudkan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 24 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Kementerian Transmigrasi (Kementrans) RI melalui kegiatan penanaman 100 pohon dan edukasi pelestarian kawasan mata air di Desa Dafala, kawasan transmigrasi Tasifeto Mandeu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (24/10).
Kegiatan yang dipimpin oleh Prof Ir IDAA Warmadewanthi ST MT PhD atau yang akrab disapa Warma ini melibatkan siswa-siswi SDI Debuklaran, warga setempat, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Belu, serta tokoh adat. Tidak sekadar menjadi kegiatan penghijauan, aksi ini juga menjadi sarana edukasi lingkungan bagi generasi muda.
Para siswa dilibatkan secara langsung dalam proses penanaman pohon untuk mengenal peran vegetasi dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber air. Melalui pengalaman tersebut, peserta diajak memahami bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari tindakan sederhana.
Keberadaan vegetasi di kawasan tangkapan air memiliki peran penting dalam menjaga struktur tanah, mengurangi risiko erosi, serta mendukung infiltrasi air ke dalam tanah. Oleh karena itu, penghijauan di sekitar mata air menjadi salah satu langkah pendukung konservasi sumber daya air yang perlu disertai pemilihan jenis pohon yang sesuai dengan kondisi setempat dan pemeliharaan secara berkelanjutan.
Warma menegaskan bahwa pelibatan anak-anak dalam kegiatan pelestarian lingkungan merupakan upaya untuk membangun kesadaran sejak dini. Menurutnya, edukasi yang disertai pengalaman langsung dapat membantu menumbuhkan kepedulian terhadap alam sekaligus mendorong terbentuknya kebiasaan menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk lebih peka terhadap lingkungan, terutama pentingnya menjaga kawasan mata air. “Edukasi sejak dini perlu dilakukan agar kepedulian terhadap kelestarian alam tumbuh menjadi kebiasaan dan tanggung jawab bersama,” ujar Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS ini.
Antusiasme siswa-siswi SDI Debuklaran terlihat selama kegiatan penanaman berlangsung. Mereka berpartisipasi bersama tim dan masyarakat dalam menanam pohon di kawasan yang perlu dijaga kelestariannya. Selain itu, para peserta mengikuti kampanye komitmen menjaga hutan melalui pembubuhan cap tangan pada banner yang telah disiapkan.
Salah satu anggota TEP 24 ITS Cut Ulfah mengungkapkan bahwa para siswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan langsung anak-anak diharapkan dapat membantu menumbuhkan pemahaman bahwa pelestarian hutan dan kawasan mata air merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. “Antusiasme anak-anak terlihat sangat tinggi,” ucapnya.
Ia menyampaikan bahwa melalui kegiatan tanam pohon ini, timnya ingin menanamkan pemahaman bahwa menjaga hutan dan kawasan mata air bukan hanya tugas orang dewasa. “Melainkan juga harus menjadi tanggung jawab bersama yang dapat dimulai sejak usia dini,” tutur Cut Ulfah.
Pembubuhan cap tangan pada banner menjadi simbol komitmen peserta untuk turut menjaga kelestarian hutan. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.

Pelaksanaan kegiatan ini turut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Setiap pihak memiliki peran dalam mendukung perlindungan kawasan mata air yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Dafala.
Di kawasan transmigrasi Tasifeto Mandeu, perlindungan sumber air juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan akses air bersih. Perbaikan infrastruktur distribusi air perlu diimbangi dengan perlindungan kawasan sumbernya agar manfaat penyediaan air dapat dirasakan secara berkelanjutan. Dengan demikian, penghijauan tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah pohon, tetapi juga pada pemeliharaan ekosistem yang mendukung ketersediaan sumber daya air.
Keberhasilan penanaman 100 pohon pun memerlukan tindak lanjut melalui pemantauan pertumbuhan tanaman, penyiraman sesuai kebutuhan, penggantian bibit yang mati, serta perlindungan tanaman dari gangguan. Langkah-langkah tersebut penting untuk memastikan pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
Melalui kegiatan ini, TEP 24 ITS bersama Kementrans berupaya mengintegrasikan edukasi lingkungan, aksi penghijauan, dan partisipasi masyarakat. Penanaman pohon menjadi langkah awal, sedangkan keterlibatan generasi muda dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat budaya pelestarian lingkungan di kawasan transmigrasi.
Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, poin ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta poin ke-15 tentang Ekosistem Daratan. Melalui kolaborasi berkelanjutan, gerakan ini diharapkan dapat mendukung perlindungan sumber air sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi penerus untuk menjaga kelestarian lingkungan. (*)