Terbit pada
Selasa, 27 Oktober 2026

Kampus ITS, ITS News – Universitas Kristen Petra (UK Petra) melakukan kunjungan kerja dan studi banding terkait endowment fund atau wakaf dana abadi ke Lembaga Pengelola Dana Abadi (LPDA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Senin (26/10). Kunjungan ini dalam rangka mempersiapkan pembentukan dan penguatan tata kelola dana abadi di UK Petra.
Direktur Office of Institutional Advancement (OIA) UK Petra Dr Meilinda SS MA menyampaikan bahwa kunjungan ini untuk membantu pihaknya memikirkan apa yang harus dilakukan terkait endowment fund di UK Petra. “Jadi kami belajar banyak bahwa ada aturan yang memang harus sangat ajeg supaya bisa berjalan dengan lebih tenang,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Meilinda, menetapkan tujuan yang akan dicapai juga harus sangat jelas dan dampaknya harus terasa ke mahasiswa, sehingga perlu ada strategi-strategi khusus. Ruang lingkup pembahasan dalam agenda ini meliputi struktur kelembagaan, tata kelola (governance), strategi penghimpunan dana (fundraising), kebijakan investasi dan pemanfaatan hasil investasi, hingga mekanisme akuntabilitas serta pelaporan yang transparan. “Kami dari yayasan mengucapkan terima kasih karena kan ini baru pertama,” ucapnya.
Meilinda mengatakan bahwa pihaknya harus paham lebih dulu aturannya karena dari Dewan Penyantun Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra menginginkan adanya dana abadi. “Uang kuliah itu kan hampir 93 persen, jadi semua dibiayai dari sana. Kalau ada endowment fund, paling tidak, bisa mengurangi beban ini juga,” sambung Lim Arif Alfian Nour MM, Wakil Bendahara Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra.

Menurutnya, Dana Abadi dapat menolong keberlangsungan universitas. “Kami bersyukur sekali diberi pencerahan-pencerahan bagaimana untuk ke depan bisa membangun yang lebih baik, belajar dari apa yang sudah dicapai sehingga kami tidak memulai dari nol,” tuturnya.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor LPDA ITS ini diterima langsung oleh Direktur Lembaga Pengelola Dana Abadi (LPDA) ITS Dr Eng Kriyo Sambodho ST MEng dan Sekretaris LPDA ITS Ir Safira Firdaus ST MT, beserta jajaran tim LPDA. Menurut Direktur LPDA ITS yang akrab disapa Dhodot ini, lembaga semacam LPDA ini dinilai sangat penting keberadaannya bagi pengembangan universitas. “Apalagi di tengah tuntutan kemandirian finansial perguruan tinggi di Indonesia,” ujar dosen Departemen Teknik Kelautan ITS ini.
Diskusi yang dilakukan kedua pihak tersebut, lanjut Dhodot, mempunyai beberapa makna strategis. Selain sebagai benchmarking strategy pengembangan, sekaligus juga membuka ide-ide tentang bagaimana mencari peluang baru untuk mengembangkan dana abadi perguruan tinggi.
ITS maupun UK Petra sepakat bahwa pengembangan universitas di masa mendatang perlu didukung penguatan lembaga pengelola dana abadinya. Tentunya hal tersebut jelas membutuhkan dukungan ekosistem yang menunjang pengembangannya. Semangat dan kesadaran membesarkan dana abadi institusi nantinya sangat diperlukan untuk pengembangan lembaga ini di masing-masing perguruan tinggi.
Hasil kunjungan ini diharapkan dapat menjadi acuan penting dalam merancang model Dana Abadi UK Petra yang berkelanjutan serta selaras dengan kebutuhan dan tata kelola yayasan dan universitas. Khususnya dalam mewujudkan kemandirian finansial institusi melalui instrumen dana abadi yang berdaya dampak luas bagi dunia pendidikan nasional. Hal ini sejalan dengan dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan poin ke-10 mengenai Berkurangnya Kesenjangan. (*)