Terbit pada
Kamis, 22 Oktober 2026

Ransiki, ITS News — Rendahnya minat belajar siswa hingga terbatasnya fasilitas kesehatan menjadi tantangan yang ditemukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 17 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Distrik Ransiki, Kawasan Transmigrasi Momi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Sejak Agustus 2026, tim menjalankan berbagai program untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat setempat.
Tim yang beranggotakan lima personel ini diketuai oleh Dr Sri Yani Purwaningsih MSi dari Departemen Fisika ITS. Dalam pelaksanaannya, tim mengidentifikasi sejumlah persoalan mendasar di bidang pendidikan, mulai dari rendahnya minat belajar hingga kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) siswa yang masih perlu ditingkatkan. “Kami ingin menghadirkan program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, baik untuk mendukung pembelajaran siswa maupun meningkatkan kesadaran kesehatan,” ujar Sri Yani.
Salah satu tantangan yang ditemukan ialah kebiasaan siswa bolos sekolah karena lebih memilih berkebun bersama orang tua. Kondisi tersebut mendorong tim menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih menarik. Salah satunya melalui eksperimen berbasis sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) agar siswa dapat mengenal konsep pembelajaran melalui praktik langsung.

Untuk mendukung upaya tersebut, tim menyelenggarakan dua pelatihan bagi guru, yakni Pelatihan Penguatan Pembelajaran STEM dan Pelatihan Penguatan Pembelajaran Calistung. Pelatihan STEM bertujuan mendukung penerapan metode pembelajaran yang bervariasi melalui pendekatan STEM sederhana di kelas. Sementara itu, pelatihan calistung difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang bertahap dan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
Di bidang kesehatan, tim mengadakan pendampingan kelas Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama bagi siswa sekolah dasar (SD). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekolah. Sebagai bagian dari pendampingan, tim membagikan paket PHBS berisi sikat gigi, pasta gigi, dan sabun kepada 315 siswa SD di seluruh Distrik Ransiki.

Tim juga mengadakan sosialisasi bagi kader pos pelayanan terpadu (posyandu) untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menjalankan peran pelayanan kesehatan masyarakat. Materi pendampingan mencakup penimbangan dan pengukuran, pencatatan, pelayanan kesehatan dan penyuluhan, serta rujukan. Kegiatan ini dirangkaikan dengan penyerahan alat kesehatan berupa antropometri kit untuk mendukung pemantauan kesehatan dan pertumbuhan masyarakat dalam upaya mewujudkan keluarga sehat.
Selain itu, tim bekerja sama dengan Puskesmas Ransiki dan Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari Selatan dalam kegiatan sosialisasi serta skrining penyakit menular, yakni human immunodeficiency virus (HIV) dan sifilis, bagi siswa SMA Negeri 1 Ransiki. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus mendukung deteksi dini penyakit menular. Tim turut memberikan edukasi mengenai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan tuberkulosis (TBC) kepada masyarakat melalui sosialisasi kesehatan.
“Kami berharap kegiatan pendidikan dan kesehatan ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan yang lebih baik,” pungkas Ketua Tim tersebut.
Rangkaian program TEP 17 ITS tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Reporter: Restu Aisyah Rizki Permatasari