Terbit pada
Kamis, 22 Oktober 2026

Kampus ITS, Opini — Di tengah derasnya arus informasi digital, mahasiswa semakin mudah terjebak dalam kebiasaan menggulir layar tanpa henti untuk mengikuti berbagai kabar di media sosial. Kebiasaan yang dikenal sebagai doomscrolling ini kerap dianggap sepele, padahal dapat mengganggu konsentrasi, pola tidur, hingga produktivitas mahasiswa dalam menjalani aktivitas akademik.
Doomscrolling adalah kebiasaan menghabiskan waktu berlebihan dalam mengonsumsi konten daring yang memberikan efek samping bagi penggunanya berupa perasaan sedih, cemas, atau marah. Istilah ini pertama kali muncul di platform Twitter pada tahun 2018 dan melejit seiring pandemi COVID-19 berlangsung. Kini, praktiknya merambah pesat di kalangan masyarakat yang menjadikan media sosial sebagai hiburan sementara.
Menurut psikolog klinis Amelia Aldao, kebiasaan doomscrolling dapat memperburuk kecemasan karena otak manusia cenderung lebih peka terhadap informasi yang mengandung ancaman. Kondisi ini diperparah dengan algoritma media sosial yang terus menyajikan konten berdasarkan riwayat tontonan penggunanya sehingga paparan informasi serupa dapat terjadi secara berulang.
Paparan yang berulang ini mendorong seseorang terus menggulir layar untuk mencari informasi baru meskipun aktivitas tersebut memicu kecemasan. Kebiasaan ini membuat pengguna menghabiskan waktu lebih lama di media sosial. Buktinya, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia 2025 mencatat bahwa 14,99 persen pengguna media sosial di Indonesia menghabiskan lebih dari empat jam per hari.

Di sisi lain, kebiasaan doomscrolling berpotensi mengganggu perkembangan akademik mahasiswa. Salah satu pengaruhnya terlihat dalam kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Studi dari UIN Jakarta menemukan bahwa 33,5 persen mahasiswa mengalami kegelisahan yang menghambat keterlibatan mereka dalam diskusi pembelajaran.
Lebih lanjut, kebiasaan ini juga menyulitkan mahasiswa dalam mempertahankan konsentrasi saat memahami materi perkuliahan yang kompleks. Jika berlangsung terus-menerus, gangguan konsentrasi tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan akademis, seperti turunnya indeks prestasi. Oleh karena itu, kebiasaan mengonsumsi informasi digital secara berlebihan perlu mendapat perhatian agar tidak mengganggu proses akademik.

Pembatasan kebiasaan doomscrolling tidak berarti harus dengan meninggalkan media sosial sepenuhnya. Penelitian Melissa Hunt dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa pembatasan penggunaan media sosial selama tiga minggu dapat menurunkan gejala depresi dan kesepian. Temuan ini menegaskan pentingnya mengatur durasi penggunaan media sosial secara bijak dan teratur dalam aktivitas sehari-hari.
Melalui solusi tersebut, setiap mahasiswa dapat memulai langkah sederhana dengan menonaktifkan notifikasi aplikasi yang tidak diperlukan pada gawai. Langkah tersebut bisa dioptimalkan dengan membatasi waktu membaca konten di media sosial dan menjauhkan ponsel saat proses belajar. Kebiasaan ini juga perlu diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup agar mahasiswa dapat menjaga konsentrasi.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi sarana pendukung yang dapat memperluas wawasan, bukan beban penghambat aktivitas akademik. Dengan membangun kebiasaan digital yang sehat, mahasiswa dapat tetap mengikuti perkembangan informasi tanpa mengabaikan kesehatan psikologis, interaksi sosial, dan tanggung jawab akademik. (*)
Ditulis oleh:
Mohammad Fariz Irwansyah
Mahasiswa Departemen Statistika
Angkatan 2024
Reporter ITS Online