Waspada Heatwave, Pakar ITS Beberkan Risikon Kesehatan yang Mengintai

Terbit pada

Minggu, 18 Oktober 2026

Gambar gelombang heatwave membuat peningkatan temperatur di Surabaya
Heatwave akibat kemarau berkepanjangan membuat peningkatan suhu di wilayah Indonesia

Kampus ITS, ITS News — Musim kemarau yang tak kunjung berakhir memicu gelombang panas (heatwave) dengan suhu hingga 40 derajat Celsius yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius. Menanggapi fenomena ini, pakar kesehatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membagikan panduan pencegahan serta kiat menjaga kesehatan di tengah cuaca ekstrem.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Edwin Nugroho Njoto SpPD MIPH MHM menyampaikan bahwa lonjakan suhu saat ini patut diwaspadai karena meningkatkan risiko dehidrasi berat. Menurutnya, kelompok lansia dan penderita penyakit bawaan seperti jantung menjadi pihak yang paling rentan terhadap cuaca ekstrem ini. “Kelompok rentan ini sebaiknya menghindari paparan panas matahari terlalu lama,” terang Dosen Program Studi Kedokteran ITS tersebut.

Potret mahasiswa ITS merasakan panasnya gelombang heatwave
Mahasiswa ITS merasakan panasnya paparan sinar matahari di siang hari akibat heatwave

Edwin menambahkan bahwa efek heatwave tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi kondisi panas terik yang berlarut-larut juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental. Hal tersebut rentan dialami oleh masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap pendingin ruangan di tempat tinggal maupun area kerjanya. “Lingkungan yang panas dan lembab dapat membuat seseorang sulit tertidur dan menjadi mudah marah,” jelasnya.  

Lebih lanjut, Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dr Desiana Widityaning Sari SpDVE MKedKlin menjelaskan, panas dapat merusak skin barrier sebagai benteng terluar tubuh. Akibatnya, alergen dan sinar ultraviolet lebih mudah menembus kulit hingga memicu biang keringat, infeksi jamur, sunburn, serta kambuhnya jerawat. “Penurunan kelembapan kulit membuat paparan bakteri dan virus menjadi jauh lebih mudah,” papar Desiana.

Selain masalah jangka pendek, Desiana menegaskan adanya ancaman jangka panjang seperti photoaging (penuaan dini akibat cahaya, red) dan kanker kulit akibat tingginya indeks ultraviolet. Kendati demikian, pigmen melanin pada kulit masyarakat Indonesia memberikan perlindungan alami yang lebih kuat. Namun, bahaya akumulasi paparan matahari tetap berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. “Penggunaan tabir surya secara rutin sangat penting untuk mencegah kerusakan sel kulit,” tegasnya.

Potret rekomendasi penggunaan sunscreen bagi yang ingin beraktivitas di luar ruangan
Rekomendasi penggunaan tabir surya untuk aktivitas di luar ruangan

Sebagai langkah preventif, Dosen Pendidikan Profesi Dokter ITS tersebut menganjurkan masyarakat mengonsumsi air minimal 1,5 liter setiap harinya. Tak hanya itu, ia juga menganjurkan menjaga kebersihan diri dengan mandi dua kali sehari dan mengganti pakaian yang lembap untuk mencegah infeksi jamur. “Dengan menerapkan pola hidup bersih dan terlindungi, risiko kesehatan akibat heatwave dapat ditekan,” tuturnya.

Melalui pemahaman risiko kesehatan dan penanganan yang tepat, masyarakat diharapkan dapat lebih adaptif menghadapi dampak perubahan iklim global. Langkah preventif yang konsisten menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas kesehatan publik di tengah cuaca ekstrem. Upaya ini turut mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta poin ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim. (*)

 

Reporter: Harri Raditya Ardianto
Redaktur: Ahmad Naufal Ilham

 

×